Puisi

Fragen Jingga Antologi Puisi Venansius Patrick Padu

Aku kan hadir pada segala jalan

Bahkan segala zaman kan kududuki.

-Venansius Patrick Padu-

FRAGEN JINGGA

Kabar duka itu datang
seperempat jam lebih cepat dari jadwal
dan hawa berat itu kian meninggi di badan jendela sebelah sana

Dan lambat laun
waktu berpendar dalam gelagak dimensi setara kecepatan cahaya
sembari detaki waktu yang berdenyut pelan di angkasa

Ini bukan metafora
apalagi barisan rima yang tumpang tindih oleh goresan tinta
ada cerita, gema juga nyawa ditiap kata

Saling kenal itu biasa
Aku, kau dan setelahnya menjadi kita
Yang perlahan berjalan dalam arah yang sama hingga berjumpa

Hari-hariku jauh lebih berbeda dari biasanya
Untuk pertama kalinya dalam hidupku sebahagia ini
Hingga semuanya terukir dalam album berpita

Namun semuanya berubah bersama kabar duka
Katanya kau sudah pergi sangat jauh dari dunia
dan aku tersungkur tanpa kata

Aku muak lalu menghilang begitu lama
melupakan kau juga diriku;melupakan kita
tapi hasilnya selalu sama
terhenti pada luka lama

Tolong sampaikan pada senja bahwa jingga tak lagi di meja
titipkan saja surat dan salamku pada mereka
sebab aku tak lagi di sana

aku harus pergi bukan untuk menangisi yang tiada
bukan pula untuk menyesali yang pernah bersama
aku hanya sekadar pamit untuk mengantar kepergiannya

Di barisan anak tangga itu
entah yang keempat puluh
barangkali kedelapan puluh
atau keseratus dua puluh kalinya
aku kembali menangis

Kabar duka itu kini datang lebih cepat dari yang kita duga
dan aku kembali terngiang pada masa itu
masa yang berulang dan selalu sama

Dan lambat laun
semesta pikiranku terjun ke bawah panji-panji imajinasi kosong
tentang sebuah hubungan yang mati;tanpa rasa

Ini bukan hiperbola, apalagi barisan kata indah yang memanjakan mata
Tak ada cerita pula tak lagi ada gemanya
dan tidak akan pernah hadir lagi sosoknya.

Baca juga : Puisi Lelaki Senja
Baca juga : Doamu Mantra Pelindung Antologi Puisi Veer Lado

NASIHAT PAK TUA

Jika kita menerka jarak di antara keraguan dan kepastian
buahnya adalah ambang ego
atas dasar prinsip pribadi yang dipercaya.

Hal-hal yang berkoar semenjak lama, nyata seperti kesetiaan
dan tabiat hanyalah ornamen penghias kata.
Dalam jenak pikiranku, aku tertegun pada simbol-simbol
yang mereka bentangkan dahulu, benarkah ini merdeka?
Bahkan tak habis waktunya, hewan-hewan kecil semacam semut pun hanya bisa ragu
menggelengkan antenanya.

Kemudian di penghujung hujan yang tak kunjung henti
di awal April itu menyisakan kejanggalan yang tak habis;bersisa
Wahai pahlawan-pahlawanku sekalian
bagaimanakah nasib bangsa ini di masa mendatang apabila sengsara menjemputnya?
Tapi sabdanya tak kunjung berubah
setelah tiga perempat abad kita selami bersama;“Jangan ragu, Anakku. Bangkitlah bersama”
Dan benar saja, kami pun diminta memegang pena dan buku
tetapi kalian menyebutnya sebagai sebuah senjata, “yang istimewa”

Perang ideologi bukanlah puncak ambisi kita,
di bawah sorakan-sorakan yang kian meninggi dari hari ke hari,
ada suara yang harus kita bela.
Maka sekaranglah waktunya bagi kami beranjak pergi
menyongsong ke depan, menginggalkan Pak Tua itu dengan senyum tipis di muka
Kami mungkin buta aksara
tapi soal semangat tidak lantas kami bagi dua begitu saja,
masalah keadilan adalah yang utama.
Lalu pergilah kami menuju tempat itu,
membangun segalanya dari awal, demi merdeka yang merdeka,
bagi bangsa da negara kita.

Baca juga : Bunga di Tepi Jalan
Baca juga : Bukan Aku Yang Dikubur, Tapi Harapku

KONON, SANG PELANDAI

Aku kan hadir pada segala jalan
Bahkan segala zaman kan kududuki
Masa penantian hampir tiba
Dan dari balik penutup perak ini
Kepala raja akan menyempal

Mari kita babat semua tanpa sisa
Barang pun batu, hiasan jam dinding
Tak boleh satu pun tertinggal
Gandum, anggur, wanita cantik
Tak boleh satupun lekang

Aku telah hadir pada segala masa
Ketika bumi beraliansi dengan Khalik
Hendak membinasakanku dalam rencana
Tetapi dari bukit seberang padang itu
Aku akan kembali ke dunia

Bukan nama yang perlu kutinggalkan
Wajahku pun tak perlu dilukiskan
Kisahkan saja riwayatku ini
Dalam buku tebal dari kertas papirus
Dongeng-dongeng si petualang

Venansius Patrick Padu adalah seorang pelajar kelas 12 SMU yang bersekolah di SMA Kolese Gonzaga, Pejaten Barat. Setelah tiga tahun menekuni hidup panggilan di Seminar Menengah Wacana Bhakti, ia tidak melanjutkan jalan panggilan sebagai imam tetapi memilih keluar dan mencoba menapaki dunia sastra sedikit demi sedikit. Saat ini tinggal di Jakarta dengan kedua orangtua dan dua adik perempuannya.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button