cerpen

Gadis Senja di Puncak Golo Curu

ilustrasi: liputan6:com

Oleh: Hardy Sungkang

Sejenak beralih. Waktu berubah. Jam, menit, detik dan hari pun berganti. Tibalah saatnya orang bertekuk lutut pada kelamnya malam. Tidak terasa itu bulan kedua mereka bermadah di hadapan gadis senja pada puncak bukit Golo Curu tersebut.

Suasana alam yang sepi dan hening. Rindangan pohon begitu teduh. Suara desiran angin spoi-spoi tidak mengusik orang saat menatap gadis senja di puncak itu. Aneh. Banyak orang berbondong-bondong menghampiri gadis itu. Sedemikian mereka duduk, lalu berlutut dan pada akhirnya berdiri hingga pergi.
Aku bersama beberapa teman saat senja di sore itu merasa kagum ketika melihat orang datang berbondong-bondong ke tempat itu. Hiruk pikuk suara bisingan kendaraan dari pusat kota tampaknya tidak dihiraukan. Bunyian musik mobil berjalan dengan kumandangkan lagu Pilkada di daerah itu sama sekali tidak dihiraukan. Suara teriakan tetangga rumah gadis itu pun hampir saja tidak mengusik para pemuja gadis senja itu. Lantas, siapakah dia? Sedikit aku bergumam, lalu pergi begitu saja.

Seketika itu pun aku juga sedang menikmati senja yang memerah lebam di ufuk barat itu. Aku manja pada tampilannya. Mataku tidak berhenti memandang. Seketika juga aku melihat mereka yang sedang duduk seolah-olah curhat manis dengan gadis itu. Ia cantik. Manawan. Sungguh meninabobokan mata dan siap menahan rasa di dalam hati. Pokoknya sungguh cantik gadis senja itu.

Tentu suatu yang membuat dirinya tambah asri, ketika senja dari ufuk itu langsung mamancarkan serpihan cahaya pada bola matanya. Tentu semua mata memandang ke arah wajah gadis itu. Aneh. Ia tidak bicara. Pasif orangnya.

“apakah kamu mendengar celotehan gadis itu, saat kita dan mereka berlutut lama di hadapanya?” tanyaku kepada Giano.
“tidak”, timpal Giano.

“Ia. Aneh. Sungguh. Saya bingung. Kapan ia menjawab kita ya?”,

“aku juga bingung. Ia memang benar-benar cantik. Tetapi entalah, apakah suaranya semanis wajahnya?”,

“tapi…..entahlah. Kita jangan dulu beranjak dari tempat ini sampai ia menjawab kita. Sampai orang-orang ini pun pergi,”
“oke”, tutup Giano.

Seketika kami bingung. Berjam-jam lamanya kami duduk. Tak satupun kata yang keluar dari mulutnya. Ratusan orang sudah hampir penuh memadati arena di hadapannya. Senja perlahan pergi. Tinggal kenangan pada galeri handphone saja indahnya. Pergumulan semakin menyengat suasana batin dan keraguan mulai membendung. Banyak tanya datang dari hati yang tak bersuara.

Hening. Kicauan burung pun serentak diam. Teriakan tetangga rumah gadis itu seketika hilang. Sepertinya orang banyak itu sedang terpaku diam. Entah. Termangu di bawah atap langit yang sedikit lagi kelam meninggalkan cahaya. Lampu-lampu jalan dan rumah di pusat kota yang tak jauh dari rumah gadis senja itu mulai nampak. Hampir malam. Ia malam sedikit lagi menjemput.

Saya lama memandang para tua-tua dan muda-mudi yang datang bercurhat ria dengan gadis itu. Giano, teman yang duduk dekat saya serentak bermadah, berkumandangkan nyanyian kidung Maria, nama gadis senja itu.

Di lordes di gua, sunyi terpencil.
tampaklah Maria perawan murni…..dst

Aku kaget, bingung, apa maksud semua ini? tampak semua orang yang tadinya duduk dan berlutut di hadapan Maria gadis senja Golo Curu itu ikut bernyanyi.
Suasana tampak adem. Lain dari sebelumnya. Lelaki tua, berjubah putih di ujung sana mulai mendaraskan syairnya sambil memegang tasbi rosario miliknya.
Aku sendiri yang bingung. Bingung dengan suasana itu. Baru bukan? Tidak. Ini tradisi lama kiranya. Mengapa semua orang mengikuti madah yang Giano kumandangkan dengan mahir dan luar kepala, tanpa text. Sungguh. Ini tradisi dan kebiasaan lama. Aku ketinggalan.
Aku bingung. Aku heran. Ini tradisi lama atau hanya mungkin aku yang tidak pernah ada bersama mereka saat-saat bulan purnama dan bulan yang terang di bulan Oktober ini?

“sepiku, sedih. Aku terlalu lama pergi”, gumamku dalam hati di tengah situasi puncak yang hening dan sepi.

“aku pelupa. Lupa akan awal. Aku lupa akan kelahiran. Lupa. Maria. Mariaaaa,” teriaku dalam hati.

Sedih, usiaku yang kini beranjak dewasa, sama sekali tidak memahami tradisi dan peristiwa istimewa ini. Aku marah pada orang tuaku. Mereka tidak mengajarkan aku akan hal ini. Mereka tidak membawa aku ke hadapan gadis pasif itu. Ia ibu dari segala ibu. Benar. Lelaki berjubah putih itu meyakinkan pikiranku melalui syair doa yang ia kumandangkan.

Tampak delapan belas tahun lamanya aku pergi dari hadapan keluarga dan orang tuaku. Aku pergi karena hidup tidak lagi berdaya untuk diperjuangkan. Aku pergi meninggalkan tradisi dan kebiasan lama. Pergi sementara waktu tetapi meninggalkan banya tradisi dan cerita.
Lantas, kepulanganku sudah lain dari waktu aku pergi. Puncak itu belum beragam seni dan keindahan. Maria gadis senja itu pun belum terlalu banyak yang kunjungi. Pantas aku lupa.

“Giano, Mengapa mereka tidak memulai saat lelaki berjubah putih itu belum datang?”, tanyaku.

“oh, lelaki berjubah putih itu, namanya Romo. Itu Romo di paroki kita.” jawabnya.

“tetapi, mengapa bapak dan ibu saya tidak mengajarkan aku untuk datang bercerita dengan gadis itu di sini? Mengapa mereka tidak mengingatkan aku bahwa bulan ini adalah bulan istimewa bagi gadis itu. Mengapa mereka tidak mengajarkan aku bernyanyi seperti dirimu? Menyembah gadis itu dengan pujian seperti yang mereka lakukan?”, keluhku di hadapan Giano dengan kesal. Aku marah dengan kedua orang tuaku. Aku marah.

“Baiklah, Kamu tidak perlu menyesal terlalu lama. Kamu tidak perlu terlalut dalam ketidakpuasan diri. Kedua orang tuamu adalah orang yang sibuk. Sibuk akan perjuangan duniawi. Sibuk menafkahi kamu dan adik-adikmu. Merka Lupa. Tetapi bukan Pelupa. Berdoalah untuk mereka”, nasihat Giano.

Aku menangis tersedu-sedu. Malam semakin kelam. Suasana gua mulai hening, hampir semua orang perlahan pergi meninggalkan gadis itu. Pergi meninggalkan sepi. Beberapa temanku juga menghilang dari puncak itu. Aku bersama Giano bercerita dengan penuh penyesalan diri. menyesal akan ketidaktahuan tradisi lama ini. Menyesal dengan kedua orang tua yang tidak mengajarkan anaknya untuk berdoa, bercerita dengan Maria gadis senja di puncak Golo Curu.
Giano rupanya melihat dan merasa empati dengan kesedihanku. Ia pun mengajak aku berlutut di hadapan gadis itu. Ia mengumandangkan sayir doanya. Doa Pujian untuk Maria Gadis Pasif itu. Kami pun berdia.

“Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu,
Terpujilah engkau di antara wanita
dan terpujilah buah tubuhmu Yesus

Santa Maria Bunda Allah
doakanlah kami orang yang berdosa ini
sekarang dan waktu kami mati. Amin
.”

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button