Puisi

Gerimis Senja Antologi Puisi Afriana

Gerimis Senja

Masih bersenandung
Hingga kau merasa puas
Sebeb raga yang kuat merubah dirinya menjadi pucuk yang lemah

Menangis dan tetap menangis
Katanya sebagai obat pelipu lara
Hingga yang di cintainya akan menjadi tahu
Bahwa syair puisi itu bukanlah canda yang menghasilkan tawa sekejab
Bahwa rindu itu bukanlah halui semata
Tetapi memang benar-benar nyata

Ah air mata
Menambah keindahan senja itu

Baca juga: Elang Itu Antologi Puisi Ind Tae

Lilin-lilin pengharapan

Cahaya kemilau menghalau gelap
Sekejab lenyap segala ego
Seketika gunda di ganti senyum
Tuhan
Hatiku tak ingin menjadi angkuh

Tuhan
Ku Persembahkan pengharapan melaui lilin-lilin kecil ini
Meski kecil dan harapanku begitu besar
Meski dosa kian membumbung
Meski ego kian melapis
Meski lidah sering kali mengucapkan kesalahan
Meski lutut tak ingin berlutut ketika memanjatkan doa
Meski ragaku rapuh seperti pucuk daun yang baru tumbuh
Tetapi Ku tahu Tuhan ada
Mengampuni,
Mengurangi
Menasehati,
Dan menguatkan
Hingga aku menjadi bahagia, karena pengharapanku terkabulkan

Baca juga: Mengintip Hujan, dan Aku Berpuisi Antologi Puisi Sandro Gagu

Menepi dalam Keheningan

Mendung masih setia
Namun hujan tak datang juga
Seiring gelap malam yang perkat menutup senja
Aku menepi di tengah keheningan

Hening, dan aku menepi di dalamnya
Tak ada suara-suara bergurau
Seolah-olah hidup tak berguna sebab di hantui salah dan dosa
Hingga menjelma menjadi petaka

Ah Tuhanku
Jauh di sanubariku yakin
Patah bukan karena apa-apa
Tetapi karena Engkau punya rencana yang indah

Baca juga: Bernafas Lekas Antologi Puisi Reineldis Alviana Jaimun

Singkat Doa

Tuhan,
Seketika senyum di bendung emosi
Kuharap Tuhan pun tak akan berlari
Seketika gunda meraja, dan aku kembali merindu
Ku harap Tuhan masih menepuk kasih dengan Syaduh

Afriana (Foto/Dokpri)

Afrianna Mahasiswa UNIKA St Paulus Ruteng. Menurutnya Puisi Itu pengobat lara.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button