Puisi

Hidup Ini Sekeras Batu

Hidup Ini Sekeras Batu

Aku menatap dalam diam membisu
Sembari memikirkan kehidupan nan keras
Sekeras batu

Kubiarkan imajinasi dan pikiranku mengembara
Seraya menerka-nerka
Mengapa? Dan,
Bagaimana jadinya?
Saat jatuh
Jangan ada yang tahu
Saat rapuh
Jangan pula ada yang tahu

Kepayahan ditertawakan
Kesakitan dibicarakan
Dunia seolah tak peduli
Dengan kehidupan nan keras, sekeras batu kali

Mandiri
Belajar tidak selalu bergantung pada orang lain
Berusaha dalam kesunyian
Keberhasilan tak menjadi pembuktian

(Kefamenanu, 20 Desember 2020)

Baca juga: Selamat Natal, Alam Sebelah Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Sepi dalam Malam

Malam menjelang
Hening pun nampak
Kini bulan hadir membawa cahaya
Bintang bertabur mempesona

Cahaya rembulan hadir di tengah awan
Menemani malam yang semakin larut
Aku benar-benar sepi
Sendiri menikmati malam

Sungguh aku sangat sepi di sini
Semua nyawa seakan lepas meninggalkan sukma
Kini musik semakin mengalun
Sembari mengiringi tidur malamku

Malam nan sepi
Malam nan dingin
Terasa sepi di dada
Hening mencekam rindu

(Kefamenanu, 20 Desemberr 2020)

Baca juga: Tuhan Merengek Di Lampin Antologi Puisi Rian Tap

Kau Anggap Aku Apa?

Sekian lama kau menghilang tanpa kabar
Kini kau kembali hadir tanpa mengetuk
Kau tempati tanpa permisi
Bersikap seolah tempat ini sudah menjadi milikmu

Aku tenggelam dalam bingung
Kepalaku mulai terisi dengan berbagai pertanyaan
Apa maksud dia kembali?
Apakah dia kembali hanya ingin mempermainkanku?

Kehadirannya lambat laun menjadi sebuah kebutuhan untuk dipenuhi
Seperti keharusan untuk tetap ada sampai nanti
Rasa ini ingin kembali tumbuh mengakar
Mendominasi relung hati sebagian besar

Kusuguhkan pertanyaan
Sejauh ini kau anggap aku apa?
Dengan tegas kau sanggah
Sejauh ini kau berjuang demi apa?
Bahkan rindukku bukan untukmu

Aku diam tanpa kata
Menikmati hancurnya hati nan melebur dalam luka
Kini kau bakar bait-bait perjuangan ini
Dengan kobaran api pengkhianatan

Aku tak memesankan rindu, tapi kuantarkan hatiku
Untuk diriku yang berjalan dalam panasnya masa lalu
Kupikir kau adalah oasis di tengah tandusnya logika
Rupanya semesta memberikan dirimu hanya fatamorgana

(Kefamenanu, 23 Desember 2020)

Baca juga: Tuhan, Datang-Mu Antologi Puisi Edid Theresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button