cerpen

Ibu yang Merintih

Foto: Liputan6.com

Penulis: Fersi Darson
(Mahasiswi Fakultas PBSI UNIKA Ruteng)

Suasana dalam keluarga kami telah berubah. Semenjak hadirnya kebencian, keserakahan, permusuhan dan nafsu duniawi. Dulu, ayah dan ibu selalu menghadirkan suasana penuh kasih dan sayang bagi kami anak-anak. Ya, kasih. Kasih yang mereka turunkan kepada kami mengalir seperti air, sejuk seperti embun, dan terang seperti cahaya. Kasih bukan kosa kata belaka, tapi lebih pada tindakkan nyata dalam hidup bersama. Kasih seumpama rindu yang riuh, menghangatkan, menyejukkan dan membahagiakan. Kasih adalah sabda nyata yang mestinya disalurkan kepada setiap pribadi dengan saling mengasihi.

Dua tahun silan, aku benar-benar bahagia. Dua orang malaikat yang Tuhan utuskan menjaga aku. Mereka adalah orang tuaku. Kedamaian, keharmonisan, kesetian, dan tangguniawab merupakan buah kasih yang mereka wariskan dan tanamkan dalam hati kami. Dalam berjalan waktu, semuanya berubah. Keluargaku tidak lagi memancarkan kasih tapi lebih pada kebencinan, kerakusan, dan ketamakan.

Ibu yang aku tahu adalah seorang wanita yang kuat dan tegar dan tidak pernah bersedih, tidak pernah menangis, dan selalu ceriah. Namun, semuanya telah berubah. Ibu sekarang adalah wanita yang lemah lesu dan tidak kuat lagi. Terlalu berat penderitaan dalam rumah tangga yang harus dipikul ibu sekarang. Kecerahan sinar damai yang selalu memancari keluarga kami, kini berubah menjadi awan mendung pekat yang menutup sinar surya dan selalu meneteskan rintik-rintik air mata. Semuanya berubah karena ayah.

Aku tidak begitu tau, motif apa yang membuat ayah berubah. Pancaran kasih dari wajahnya hilang bersama lalunya waktu. Aku mengaggumi ayah sebagai sosok terhebat dalam hidupku. Dia seorang pekerja keras tanpa kenal lelah. Dia pahlawan bagiku selain ibu. Ayah seorang religius yang radikal. Setiap malam, saat kami lelap, ayah mengambil kesempatan berbicara dengan Tuhan. Dia lebih suka situasi yang hening. Di sana ada permenungan yang dalam. Aku pernah bertanya pada ayah, “Ayah, apa saja yang ayah ceritakan dengan Tuhan setiap malam?”.
Sambil tersenyum dan mengelus kepalaku, ayah menjawab ” ada banyak hal. Tapi pada intinya kita harus bersykur atas apa yang kita terima selama sehari”. Ayah memang seorang penyayang. Hampir saja tidak pernah memarahi kami apalagi memukul kami.

Waktu berlalu, musim berganti, semuanya berubah. Hidup memang penuh dengan tanda tanya. Tidak ada yang bersifat statis. Dia selalu berubah.
Ayah yang dulu beda dengan sekarang. Kebiasaannya berdoa saat kami lelap, menemani saat kami bermain dan belajar, hilang seketika. Ayah lebih suka berada di pos ronda, menikmati tuak dan rokok, suka bernyanyi dan berteriak saat malam larut. Ayah suka bermain kartu dan menampar ibu. Itulah kebiasaan ayah akhir-akhir ini.

Di pipi ibu sekarang masih ada bekas jemari ayah. Mukanya lebam. Selain ibu, kami juga tidak luput dari itu. Kadang kami di bentak, di tendang, di pukul bahkan hampir setiap hari. Ayah pulang setelah mabuk tuak dan kalah judi. Kambing, kerbau dan sapi sudah dijual sebagai barang taruhan. Semuanya hancur berantakan.

Suatu hari, aku bersama adikku satu-satunya bermain di rumah tetangga yang kebetulan teman kelasku. Saat asyk bermain, aku terkejut mendengar teriakan keras minta tolong dari rumah kami. Suara teriakan itu adalah suara perempuan. Dalam hatiku berkata.
“Suara siapa lagi kalau bukan suara ibu. Ibu satu-satunya perempuan di rumah kami. Itu pasti suara ibu”.

Ibu dan ayah terlibat dalam pertengkaran hebat di sana. Ibu pasti di tampar, di tendang, di siksa dan di hajar habis-habisan oleh ayah. Hanya pikiran itu yang ada di otakku. Tidak ada pikiran lain. Meskipun, saat kami berangkat dari rumah, ayah tidak ada, mungkin ia sedang asik dengan dunianya sendiri, entah di mana. Tetapi tetap saja pikiranku mengarah kepada pertengkaran hebat atara ibu dan ayah.

Aku bergegas meninggalkan adik dan temanku. Aku berlari dengan sangat cepat. Sampai di depan rumah, pintu rumah kami tertutup rapat. Sepertinya dikunci dari dalam. Dari luar aku mendengar tangisan keras sembari meminta tolong. Aku tahu, itu suara ibu yang menjerit kesakitan.

Sambil memukul pintu dengan keras, aku berteriak dari luar.
“Ibuuu…Ibuuu….Ibuuu…. kenapa buuu? Bukakan pintunya, Buu!”

Ibu menangis tersedu-sedu. Ibu tidak bisa membuka pintunya. Aku berteriak sekali lagi.

“Ibu.. cepat buka pintunyaaaa”?
Terdengar, suara tamparan di susul caci maki.
“Plaak, plaak, plaak”
Aku tahu, ibu mungkin ingin beranjak membuka pintu. Tetapi ayah menghalangi dan memukul ibu.
Aku berteriak dengan suara yang agak keras.
“Bukakan pintunyaaa…!”
Aku berharap warga sekitar segera datang menolong ibu.

Adik yang menyusul saya berlari tergopoh-gopoh dari rumah tetangga sambil menangis. Sampai di depan rumah, sambil menangis ia berteriak minta tolong.

“Tolong…tolong…tolong…ibu dan ayah bertengkar lagi”.
Kami sangat berharap, warga sekitar segera datang menolong ibu. Tak tau mengapa, tetangga saat itu tidak ada yang keluar untuk menolong ibu saya. Apakah, karena situasi ini bukalah hal yang baru terjadi. Sehingga tetangga merasa bosan menghadapi masalah seperti ini. Atau, tetangga sekitar, memang tidak ada di rumah. Terlintas cepat setitik pikiran di otakku.

Aku bersama adikku tidak berhenti menangis seiring dengan tangisan ibu yang tersedu-sedu dari dalam rumah. Kami tidak bosan meminta pertolongan warga. Warga tetangga kami tak kunjung datang menolong.

Dari dalam rumah, ibu tidak berhenti menangis. Menangis seperti bayi yang sedang kelaparan. Menangis keras seperti sedang kedinginan dan membutuhkan dekapan dan pelukan hangat dari seorang ibu.

Terdengar juga sesekali bunyi tamparan dan tendangan. Aku dan adikku tidak berhenti meminta pertolongan. Aku berusaha berteriak dengan suara yang sangat kencang.

Sementara dari dalam, sesekali juga terdengar suara ayah.
“Di mana kamu simpan itu? Kalau kamu berikan itu, aku tidak akan melakukan ini semua kepadamu”.

Sepertinya, bantal-bantal di tempat tidur dibuang ke lantai. Tidak berbeda seperti sebelumnya, saat ayah mencari uang simpanan ibu yang disembunyikan di balik bantal atau kasur tidur kami. Aku juga teringat saat ayah membongkar semua kasur tidur, semua barang-barang di lemari di bongkar habis untuk mencari uang simpanan ibu.

Saat itu aku membayang wajah ibu penuh dengan lumuran darah. Rambutnya ditarik-tarik dengan kencang. Ibu pasti sangat letih karena tenaganya sudah habis. Kulit wajah dan badanya terasa sakit karena pukulan ayah. Aku membayangkan kejadiannya seperti kemarin dan masih ada yang bekas tangan ayah yang tergambar jelas di pipi ibu.

Saat kami menangis tersedu-sedu di depan pintu, ibu beranjak dari kamar. Rupanya ia hendak membuka pintu.
“Anakku, tolonglah ibu, nak. Ibu sudah tidak kuat lagi menjalani kehidupan ini. Seandainya ibu tidak punya tanggung jawab untuk membesarkan kalian, ibu lebih memilih mati. Daripada ibu menghadapi dunia yang kejam ini”. Ibu kelihatan lelah dan pasrah.

Aku tidak tau lagi, ayah ada di mana saat itu. Sampai ibu bisa bangkit berdiri membuka pintu. Tetapi yang pasti keinginan ayah sudah terpenuhi. Uang simpanan ibu untuk memenuhi kebutuhan kami sudah diraupnya. Ayah sudah hilang dari rumah. Entahlah, ayah lewat pintu dapur atau jendela, tetapi yang pasti ayah tidak ada di rumah saat itu.

Editor: Waldus Budiman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button