cerpen

Iluk, Rindu, dan Covid-19

Foto: Pinterest

Penulis: Marsel Natar

Iluk duduk manis di atas sofa tua. Kedua tangannya bertumpu di atas tempurung lututnya yang tegar. Hari-hari ini ia tampak bingung dengan langkah laku orang-orang rumah. Kakaknya sudah tidak berseragam sekolah lagi. Pun bapaknya, sudah tidak mengenakan pakaian dinas lagi. Ini tentu sebuah peristiwa yang tidak biasa. Lazimnya, hampir setiap pagi, kecuali hari Minggu, bapak selalu mengenakan pakaian dinas dan berangkat ke kantor. Kakak pun demikian, setiap pagi ia selalu mengenakan pakaian sekolahnya. Dari pagi ke pagi, Iluk menyaksikan peristiwa yang sama, kakak tidak ke sekolah dan bapak tidak ke kantor. Selain dari pada peristiwa itu, Iluk semakin asing dan tidak mengikuti alur cerita dari film kartun kesayangannya: Upin dan Ipin. Betapa tidak, remote televisi dikendalikan oleh bapaknya untuk menonton berita yang sudah menjadi konsumsi sebagian besar pengagum layar TV. Covid-19 kurang lebih judul setiap headline dan breakingnews setiap layar TV.

Menyebalkan! Apalagi Bapaknya selalu setia dengan channel tertentu yang memberitakan perkembangan penyebaran Covid-19 itu. Iluk hanya membenam niatnya dalam hati untuk menonton serial kartun kesayangannya. Selain Iluk terasing dari serial kartun kesayangannya, ia juga dilarang keras untuk bermain di luar rumah bersama teman sebayanya. Pun kalau diizinkan, Iluk selalu disarankan untuk menggunakan masker dan selalu dalam pengawasan kakaknya. Segala sesuatu penuh dengan aturan. Sebelum dan sesudah makan selalu mencuci tangan menggunakan zat pembersih tangan. Di meja makan sekali pun, jarak dan tempat duduk diatur. Dilarang untuk bersalaman dengan berjabatan tangan, berpelukan dan berkontak langsung dengan teman sebaya, karenanya Iluk tidak diizinkan keluar rumah. Iluk kecil, lugu dan belum mengetahui banyak hal, kian hari kian merasa diasingkan. Ia sama sekali belum paham, apa yang tengah terjadi, apa itu Covid-19 dan mengapa segala sesuatu dalam rumah penuh dengan aturan? Membosankan, memang!

Suatu pagi, di hari minggu, pagi-pagi benar Iluk kecil bergegas ke kamar mandi untuk membasuh diri. Sebagaimana lazimnya, di hari minggu pagi, Iluk selalu mendahului orang-orang rumah dalam hal membasuh diri sebelum ke gereja mengikuti perayaan ekaristi. Seusai membasuh diri di kamar mandi, Iluk betapa terkejut. Ia menyaksikan kedua orang tua dan kakaknya masih terlelap dalam tidur. Melihat itu, Iluk dengan suara lantang berteriak membangunkan mereka. Kedua orang tuanya lantas terjaga, lalu menegur Iluk dengan rada marah. “Luk, apakah kamu tidak tahu bahwa bapak, mama dan kakakmu, sedang tidur? Apakah harus dengan berteriak untuk membangunkan kami, Luk? Bapak, Mama dan Kakakmu tahu Luk, bahwa hari ini minggu dan kita semua berkewajiban untuk mengikuti perayaan ekaristi di gereja!” tegas bapaknya dengan lugas. Mendengar pernyataan itu, Iluk kecil tertegun membungkam. Wajah ceria dan bahagianya mesti dinodai pernyataan tegas yang keluar dari mulut ayahnya. Ia masih saja bingung, ada apa dan mengapa semuanya menjadi berubah? Dengan wajah muram dan masam, Iluk kecil melangkahkan kakinya menuju teras rumah. Ia tahu, bahwa hanya angin segar di depan teras rumahlah yang sanggup merangkulnya penuh kedamaian.

Di teras rumah, Iluk melayangkan pandangannya sejauh mata memandang. Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Di tengah kelegaan dan kedamaian yang didapatinya, Ia bagai terjaga. Tidak ada satu pun orang yang terlihat, teras dan halaman rumah, lorong-lorong dan jalan raya semuanya sepi. Tidak ada orang yang bergegas menuju gereja. Tidak ada satu pun kendaraan melintas di jalan. Hamparan kebingungan kian merebak di benak Iluk kecil. Iluk kembali tertegun, membatin. Sementara di ufuk timur, matahari berlayar perlahan. Semakin detik berlalu, semakin tampak rona jingga cahayanya. Semakin menit berlalu, semakin terasa sengat panas cahayanya. Teras-teras rumah, halaman-halaman rumah, lorong-lorong dan jalan raya, masih saja diliputi kesunyian. Tidak pelak, lonceng gereja pun enggan berdentang. Dalam tatapan bisu, Iluk menatap beberapa ekor ayam, beberapa ekor anjing, beberapa ekor bebek yang berkeliaran tanpa beban.

“Iluk, Luk, Mari masuk, nak! Mama sudah siapkan sarapan untuk kita.” Sahut ibunya dari ruangan tengah, rumah. Iluk lalu bergegas masuk menuju ruangan makan. Namun tidak lupa ia mencuci kedua tangannya sebelum makan. Seusai sarapan, bapaknya berusaha sebisa mungkin mengedukasikan virus baru bernama Covid-19 kepada Iluk. Namun sayangnya, Iluk terdahulu dijejali seribu satu kebingungan, kebebasannya di kekang, perasaannya dilukai dan harus mengalami penolakan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button