cerpen

Ina Ada yang Patah Selepas Mengenalmu

Mengenal gadis-gadis manis itu sangat mudah. Tidak sukar seperti perjuangan menulis skripsi  yang selalu banyak revisi. Ini tentang bung Matias yang kerap punya hobby meluluhkan hati nona-nona  alias ina dalam bahasa Sabu, bagi bung Matias itu hal mudah yang dipikirkan  dan benar  semua tergantung pada merk motor.

Tapi kali ini Bung Matias  berhasil meluluhkan hati  Ina Marta  dengan modal jiwa penyair walaupun merk motor hanya Suprafit klasik. Kata-kata puitis dari Bung Matias sudah membuat Ina  Marta   tidak bisa memejamkan mata 1×24 jam. Walaupun malam yang sudah hampir ditelan fajar juga suara ayam tetangga yang kian berkokok riang, percuma saja. Karena Ina  Marta masih saja membayangkan sosok pria tampan yang bernama Matias, yang ciri-cirinya mungkin kalau dipaparkan membuat pembaca stres. Dimana rambut keriting yang sengaja digondrong agar terlihat seperti artis barat klasik, kumis tipis agar  terlihat jiwa lelakinya juga badan kurus yang disengajakan agar terlihat seperti Koreanisme, mungkin juga dikarenakan kebiasaan bergadang menunggu contreng biru  sebab terlalu lama centang dua saja.

Baca juga: Membaca Tubuhmu Antologi Puisi Maxi L Sawung

Ina Marta dengan bibir tipis, rambut halus aduhai dengan kulit hitam manis semanis gula sabu, juga hidung mancung yang menjulang tinggi seperti menara babel, tidak bisa dibayangkan paras aduhai seperti mahligai. Bung Matias mengenal Ina Marta 4 bulan lalu sebelum daerahnya dilanda wabah Covid-19. Mereka berkenalan di sebuah cafe tempat di mana Ina Marta bekerja. Di sana Ina Marta bekerja sebagai pelayan. Paras cantik dan body aduhai ditambah persyaratan bekerja yang harus menggunakan pakaian yang sedikit mencolok membuat setiap yang datang ke cafe tersebut enggan pulang sebab pemandangan disana sangat luar biasa, seperti sebuah magnet ada tarikan dan gravitasi sehingga  yang datang dan pergi mudah binasa dalam ruang rasa. Dari semua yang datang ke tempat itu hanya Matias manusia satu-satunya yang mampu mendekati Ina Marta, gadis manis seperti gula sabu dan cantik seperti  mahliagai itu. Hal ini terjadi ketika pengunjung satu-satunya yang masih nongkrong disana saat kota itu dilanda hujan ialah Matias. Mungkin saja niatnya malam itu enggan pulang karena disana penyejuk hati dan pikiran yang sedang tak karuan oleh revisi tugas akhir  yang sangat terbelit-belit.

Baca juga : Hidup Ini Sekeras Batu

Perjumpaan itu membuat Matias menjadi bucin alias budak cinta dalam istilah kekinian, segala niat dan semangat menyelesaikan tugas akhir sangat melewati batas garis finis ini satu-satunya hal yang paling menarik dan lelaki seperti Matias inilah yang harus dikembangbiakkan. Jatuh cinta harus bisa membawa perubahan ke arah positif, bahkan jiwa malas harus dimusnahkan sebab ketika malas mandi maka ketampanan akan pudar seketika maka gadis manis aduhai seperti mahliagai akan beranjak pergi. Matias dan Ina Marta menjalin hubungan tanpa status seperti yang sering ditulis pada  bio Facebook remaja masa kini, kata-kata romantis buah imaji Matias lontarkan, bahkan syair-syairnya dibuat sedemikian rupa agar terlihat menarik sehingga mengimbangi beberapa penyair hebat Nusa Tenggara Timur kak Mari Lawi dan Juga Bung Felix Nesi. Kepercayaan diri Matias melewati batas tertinggi sampai-sampai memberanikan diri menanyakan Ina Marta tentang waktu pernikahan benar-benar sebuah kenekatan yang tak tertandingkan.

Baca juga : Tak Bisa Membohongi Rasa

Dari perkenalan itu Bung Matias dan Ina Marta menjalin hubungan tanpa status. Hari-hari Bung Matias dan Ina Marta berjalan sangat amat sempurna. Kisah-kisah romentis dan polesan dunia puitis yang  membuat kedua insan ini tak hentinya menjalin asmara dan bersejoli sepanjang waktu .

Siang itu Bung Matias geser beranda sana-sini. Tidak seperti biasanya, sudah hampir seharian tidak ada satupun pesan yang masuk bahkan yang sering menjadi sepi. Ina Marta yang kerap memberi kabar namun kali ini hanya keping-keping kesunyian yang  menghantui, hanya harapan-harapan yang berkecamuk di pikiran sungguh tak seperti biasa.  Hari ini telah usai, dua dan tiga hari berikutnya perihal kesunyian dan kotak pesan yang tak ada kabar masih tetap sama. Yang tersisa hanya patah pada jiwa yang fana. Bung Matias tak berdaya, sebab gadis pujaan telah tiada entah kemana. Dunia yang baka atau pelukan yang mapan, yang ditanam hanya kesunyian dan yang di rapikan hanya kisah asmara.

Baca juga : Aku Mencintainya dalam Diam

Kini Bung Matias benar-benar menjadi korban dari kisah cinta. Patah hati membawa malapetaka. Bung Matias yang dulu pernah semangat untuk menyelesaikan tugas akhir kini menjadi tak berdaya. Malam itu Bung Matias bertekat mengirim pesan kepada Ina Marta sebagai ucapan perpisahan. Berharap ada balasan permohonan maaf dan memberi alasan yang dapat mengembalikan rasa. Satu kata yang  Bung Matias sampaikan, ”Ina ada yang patas selepas mengenal mu”. Itu yang sempat di sampaikan sebelum Bung Matias pergi mencari asmara di kota lain.

la Karmila

Mahasiswi -Sosiologi Fisip Undana, Semester VIII, tinggal di Kupang, Asal Manggarai Timur


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button