Opini

Indonesia Surga Kita Bersama

Ilustrasi: edunews.id

Indonesia merupakan salah satu Negara pluralisme yang mempunyai keanekaragaman budaya, suku, ras dan bahasa di dunia. Keanekaragaman bangsa Indonesia telah melahirkan banyak cendekiawan dari Sabang sampai Mearauke. Secara umum cendekiawan anak bangsa Indonesia memiliki kehebatan masing-masing.

“Mereka berkarya bukan hanya di Indonesia melainkan menyebar ke seluruh dunia sebagai pribadi pewarta kebenaran dan mengupas kesenjangan-kesenjangan terjadi di dalam Negara”.

Cendekiawan dilahirkan sebagai pribadi-pribadi yang berperan penting dalam suatu bangsa. Tujuan kehadiran mereka bukan untuk menciptakan kekuasan terhadap masyarakat, namun untuk membina dan mengupas masalah sosial dalam bingkai lembaga-lembaga Negara. Dengan suatu landasan serta tujuan yang pasti untuk menjamin kesejahteraan tatanan sosial Negara dalam masyarakat.

Hal ini sangat relevan dengan realitas di Indonesia dimana sejak kemerdekaan NKRI telah hadir juga sosok-sosok pahlawan bangsa sebagai pejuang kebenaran.

Ini mengandaikan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia menggambarkan tentang keharmonisan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat serta sikap solidaritas terhadap tatanan kehidupan bangsa dalam segala aspek kehidupan sosial. Nilai kerhamonisan memberi motivasi serta semangat kepada satu generasi ke generasi lain.

Dengan demikian, pluralisme bukan dipandang sebagai instrument yang dapat digunakan sebagai ruang untuk menguasai satu sama lain yaitu kaum lemah, melainkan pluralisme dalam bangsa Indonesia berorientasi kepada pelayanan serta sikap saling melayani dan menerima satu sama lain sebagai saudara.

Pluralisme bukan sebagai saran untuk saling menguasai, melainkan kekuasaan yang melahirkan dan memberikan benih keadilan bagi masyarakat sebagai citra keanekaragaman.

Citra keanekaragaman itu pula harus bernuansa kemanusiaan yang adil dan beradab serta saling menghargai, mendengar dan menjunjung tinggi Sang Maha Esa sesuai dengan kepercayaan masing-masing yang berlandaskan Pancasila sebagai fondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pancasila menjadi acuan bagi semua warga Negara untuk menangkal kesalahpahaman karena latar belakang pendidikan, suku, budaya, ras dan bahasa. Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang beragama, nuansa keagamaan setiap orang sangat dibutuhkan melalui tindakan nyata dalam bingkai Negara Indonesia. Setiap orang berhak menghayati kebinekaragaman itu dengan caranya masing-masing serta tetap optimis dalam menjaga keselarasan dengan menjalin relasi persaudaraan yang harmonis.

Hemat penulis, sebagai bangsa pluralis maka, untuk mensejahterahkan kehidupan bangsa dibutuhkan sikap netralisasi kerjasama untuk membangun kerukunan, kemakmuran yang dijadikan sebagai acuan bagi semua orang sebagai pedomaan hidup.

Sebagaimana yang dikutip oleh Taufiq Abdul Rahim dalam artikelnya yang berjudul “Politik Kekuasaan dan Keserakahan”(artikel ini telah diterbitkan pada tahun 2018).
Ia menegaskan bahwa pada dasarnya keharmonisan suatu bangsa sangat bergantung pada norma yang diberlakukan oleh pemerintah Negara. Ia juga menegaskan bahwa secara hakiki, kekuasaan seorang pemimpin bukanlah bersifat abadi melainkan bersifat sementara dan bukan merupakan sarana untuk mencari kepentingan sendiri dalam kehidupan keluarga.

Akan tetapi untuk kepentingan masyarakat umum. Dengan kata lain, kekuasaan itu dapat bermakna bagi kehidupan masyarakat ketika si pemimpin membuka dirinya melayani kepentingan masyarakat umum.
Oleh karena itu, pluralisme merupakan nilai keindahaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dan segala perbedaan yang ada di dalam Negara Indonesia bukan menjadi sebuah permasalahan yang dapat menimbulkan konflik.

Di samping itu juga, pluralisme bangsa Indonesia tercipta untuk mempererat masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Bertolak belakang dengan realitas di atas, penulis mencoba menelaah realitas politik di Indonesia saat ini. Penulis melihat bahwa situasi politik di Indonesia telah melahirkan fenomena brutal seperti kecurangan, konflik dan kesombongan. Kecurangan, konflik sering terjadi di mana-mana karena perebutan kursi jabatan pemimpin.

Perpecahan meningkat karena ketidakcocokan dalam ruang jabatan. Baik karena perselisihan maupun karena faktor kepentingan merebut kekuasaan. Para politisi beramai-ramai merangkai kata-kata puitis sebagai taktik manis untuk menarik perhatian masyarakat luas. Bahkan jeli dalam menutupi kelemahan mereka sendiri dengan cara menyampaikan kehebatannya seolah-olah tidak ada kekurangan pada mereka.

Hal ini merupakan fenomenalogi yang sedang melanda kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Fenomenalogi sosial tersebut dilahirkan karena adanya penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh manusia. Dalam hal ini menggambarkan kepada kita bahwa nilai solidaritas bangsa Indonesia mulai terkikis.

Kerja sama dalam satu bangsa mulai berpudar dan nilai solidaritas yang dianggap berperan penting dalam suatu Negara yang pluralis sering abaikan. Ia sering dipandang sebagai penghalang bisnis. Akan tetapi, kenyataanya Ia memberikan nuansa persatuan serta melaraskan persaudaraan yang kokoh.

Dengan demikian, hemat penulis, sebagai bangsa pluralis, nuansa persaudaraan harus dijadikan sebagai pandangan hidup yang membentuk sikap kerendahan hati sebagai kunci utama dalam kehidupan bersama.

* Fredy langgut, mahasiswa semester VII STFK Ledalero.

Artikel Terkait

Satu komentar

  1. Tulisan ini sangat bagus, menambah wawasan para pembaca jga… Di tunggu karya tulis selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button