Sastra

Ingin Membencimu namun masih Mencintaimu

Sudah lama kita tak bersua

Bertegur sapapun hanyalah serpihan kata belaka.

Aku Membencimu tetapi, aku juga masih mencintaimu.

Sari Yovita

Ingin Membencimu namun masih Mencintaimu

Sebenarnya,
Kamu masih menjadi nomor satu dalam ingatanku
Kamu masih menjadi tokoh dan tujuan utama
Atas semua lisan yang aku curahkan
Di atas kertas tak bernyawa itu.

Kita yang sudah sepakat,
Mengikat setia pada tali jarak
Beserta putaran waktu yang sedikit berbeda.

Ternyata,
Berbalik arah
Gagal adalah jalan yang menghadang.
Egois sengaja ditanamkan,
Bertambah gengsi yang dipaku mati
Atas logika yang tak lagi berperasaan.

Sebab itulah,
Kita telah kalah
Tepat sebelum doa-doa yang kita langitkan, menjadi nyata.

Gagal bertahan, adalah pilihan masing-masing.
Khususnya dirimu
Kau pergi dengan caramu,
Sementara aku tak kuat mencegahmu
Untuk tetap bersamaku.

Jadi,
Untukmu yang kusebut kekasih
Yang pernah ada bahkan lama
Kini dirimu adalah kenangan
yang kubawa dari hari-hari kemarin sampai hari ini.

Sudah lama kita tak bersua
Bertegur sapapun hanyalah serpihan kata belaka.
Maafkan aku,
Aku tak tahu rasa apa yang ada padaku sampai saat ini
Aku kebingungan
Aku Membencimu tetapi, aku juga masih mencintaimu.

Baca juga Hijabmu dan Rosarioku Dalam Cinta yang Esa

Aku, Penyesalan Terbaikmu

Aku mengira pergi adalah pilihanmu
Yang membawa segudang lara dan merasuk kalbuku.
Aku tak perlu bersuara banyak,
Lanyaknya tong kosong.
Kaupun tahu, bahwa tak ada yang baik-baik saja
Setelah ditinggal pergi oleh pujaan hati.

Aku sudah mengalami hal serupa.
Diriku dibuang begitu saja
Dari tempat yang kusebut rumah.
Kukira lembut, ternyata kasar.
Seperti itulah caramu,
Menghancurkan semuanya.

Pada masa terpurukku,
Kau sama sekali tak merasakan apapun.
Sementara aku sibuk melupa paksa,
Agar tak semakin tersiksa.

Tetapi aku adalah manusia yang tak sempurna
Begitu sulit bagiku menghilangkan jejakmu
Dari perjalanan panjangku
Akhirnya, aku bisa dan itu mutlak.

Kini kau ingin kembali
Layaknya senja yang hilang ditelan malam.
Datang lalu pergi sesukanya.
Maaf, aku bukan robot yang bisa diotak-Atik,
Kemudian kau permainkan semaumu

Aku sudah memegang prinsip dalam sanubari
Untuk tak lagi menerima apa yang pernah hilang
Karena kau adalah patah hati terhebatku,
Dan aku yang kau sebut
Penyesalan terbaikmu.

Baca juga Suatu Senja di Golo Lantar

Mati Rasa

Di penghujung kota
Angin malam seakan mengajakku
Memeluk diri sendiri dengan paksa
Nyatanya aku teringat hangatnya dekapmu
Yang tak lagi kurasakan sejak lama

Aku ingin memutar waktu
mengingat kita tak pernah bersama
Saling mengisi dan melengkapi,
Entah perihal rasa atau apa saja
Yang membicarakan tentang aku dan dirimu.

Setelah semuanya usai dalam waktu yang singkat
Kata kita hanyalah sebuah dongeng.
Sebut saja “Masa Lalu.”
Dan kata kita sudah menjadi kata “aku dan kamu”

Pahit jika dikenang.
Aku merasakannya.
Bunyi klakson di jalanan kota
Membangunkanku dari dilema panjang
Sedang kunikmati dengan matang
Sekelilingku penuh canda ria

Aku hangus tertinggal
Ditinggal janji-janji manismu
Ini aku penikmat luka lama
Enggan beranjak agar sadar
Aku menjadi mati rasa.

Baca Juga Matinya Veronika

Sari Yovita (Foto/Dokpri)

Penulis adalah Mahasiswa Pariwisata, STP AMPTA Yogyakarta.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Periksa Juga
Close
Back to top button