Renungan

Jangan Mengkhianati Kebaikan Tuhan!

Oleh: Gust Kani, CS

Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?”
(Mat 26:21-22)

Salah satu hal terburuk dan paling menyakitkan yang dapat terjadi pada kita adalah ketika dikhianati oleh seseorang yang sangat dekat dengan kita dan kepada siapa kita biasa berbagi waktu, kepercayaan dan kasih sayang. Kita mungkin pernah menjadi korban pengkhianatan seperti: dari seorang suami atau istri, anggota keluarga, kekasih, teman sekolah, seorang sahabat terdekat, rekan kerja dan sebagainya. Maya Angelou, seorang penulis ternama Amerika, mengibaratkan pengkhianatan sebagai “Duri dari semak belukar yang seseorang telah tanam, pelihara dan pangkas menusuk lebih dalam dan menarik lebih banyak darah.” Singkatnya, pengkhianatan itu merupakan salah satu kejahatan terburuk yang bisa dilakukan oleh siapa pun dan kepada siapa pun, karena bisa menyerang sisi psikologis terdalam dari setiap pribadi. Dan efek terbesar darinya adalah seseorang akan merasa terasing, kecewa dan kesepian. Pengkhianatan membuat seseorang patah hati dan bahkan kalau tidak ditolong secepatnya, orang itu bisa saja melakukan sebuah tindakan yang membahayakan dirinya sendiri. Lebih dari itu, pengalaman itu dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan pada sesamanya atau setidaknya membuatnya lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan.

Penginjil Matius memberi tahu kita tentang bagaimana si Yudas Iskariot mengkhianati Yesus. Bahwa, dalam narasi Matius, si Yudas sesungguhnya sudah mempunyai niat terselubung untuk mengkhianati sang Guru. Dikisahkan bahwa beberapa hari sebelum Yesus mengadakan Perjamuan bersama para murid-Nya, Yudas sudah bernegosiasi dengan para imam kepala dan bahkan mencari-cari kesempatan untuk melakukan hal itu (Mat. 26:14-16). Lantas, pada hari raya Roti Tidak Beragi sementara duduk makan bersama para murid-Nya, Yesus mengingatkan mereka dengan berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (Mat 26:21). Dan hanya Yudas yang sanggup menjawab balik kepada Yesus dengan mengatakan, “Tentunya bukan aku, Rabi?” (Mat 26:25). Dengan mudah kita bisa berkesimpulan bahwa si Yudas memang tidak tulus dan munafik. Kita pasti juga bertanya-tanya: Apa yang menyebabkan Yudas mengambil keputusan setragis ini? Apakah Yesus telah membuat kesalahan dalam memilih Yudas untuk menjadi salah satu rasul dan sahabat karib-Nya? Apakah Yesus menyimpan rasa dendam dan membenci Yudas? Toh! Yesus sendiri menerima dengan rendah hati jalan salib tersebut sebagai bagian dari misi keselamatan-Nya di tengah dunia.

Beberapa ahli Kitab Suci berasumsi bahwa Yudas sesungguhnya memiliki tiga kemungkinan alasan mengapa ia mengkhianati Yesus, antara lain:

Pertama, alasan ketamakan atau termotivasi oleh keserakahan. Dalam Injil Yohanes dikisahkan bahwa ketika mengunjungi keluarga Lazarus di Betania, Maria membasuh kaki Yesus dan menuangkan kepala-Nya dengan parfum termahal miliknya. Dan si Yudas justru memprotes tindakan Maria tersebut. Dia mengatakan bahwa jika parfum tersebut dijual, uangnya dapat diberikan kepada orang miskin (Yoh 12:1-11). Tetapi, nyatanya Yudas tidak mempedulikan orang miskin. Penginjil Yohanes menulis: “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya” (Yoh 12:6).

Kedua, si Yudas menyimpan kebenciannya yang pahit terhadap Kristus. Si Yudas berasal dari sebuah keluarga nasionalistis yang cukup militan berjuang untuk pembebasan Israel dari kekuatan Romawi. Bisa jadi, ia kecewa dengan gaya kemesiasan Yesus yang tidak sesuai dengan model mesias yang ia dambakan. Kekecewaannya itu semakin membuncah hingga memutuskan untuk mengkhianati Gurunya itu. Dan juga, ia merasa bahwa perihal mengikuti Yesus justru tidak dapat memberikan kekayaan dan kehormatan kepadanya.

Ketiga, Yudas tidak punya niat agar Yesus segera wafat tetapi dengan mengkhianatinya, Yudas berusaha untuk memaksa Yesus untuk bertindak seperti apa yang dia dan kelompoknya harapkan. Yudas merasa bahwa Yesus agak lamban dalam mengimplementasikan rencana pembebasan yang diwartakan-Nya.

Dari ketiga asumsi tersebut, Yudas nampaknya didorong oleh keinginan egoisnya. Ia menolak untuk menerima model kemesiasan Yesus sebagaimana adanya. Ia hanya memikirkan apa yang ia mau dan dambakan. Entah kita sadari atau tidak! Terkadang dalam hidup sehari-hari, karena dorongan manusiawi yang begitu besar, kita cenderung bertindak seperti Yudas. Kita ‘menggunakan’ orang lain demi tergapainya tujuan dan keinginan kita sendiri. Lebih dari itu, bahkan ada sekelompok orang yang ‘memaksa’ Tuhan untuk mengikuti keinginan manusiawinya; mereka meminta dan ‘mengancam’ Tuhan untuk tunduk pada kehendak mereka. Bukankah itu suatu tindakan ‘pengkhianatan’ terhadap kebaikan Tuhan? Sesungguhnya, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita semua dan bahkan Dia lebih dekat dengan kita daripada diri kita sendiri. Ketika kita mengalami titik terendah dalam hidup dan merasa bahwa impian kita gagal, janganlah jadikan itu sebagai kesempatan untuk ‘mengkhianati’ Tuhan yang kita imani. Namun, jadikanlah itu sebagai kesempatan untuk membaharui diri kita dan berusaha untuk merubah pola pikir dan cara hidup.

Di satu pihak, perihal pemuridan kita, sebagai seorang Kristiani kita dipanggil untuk setia dan terbuka mengikuti kehendak Tuhan dan berusaha untuk membangun sebuah komunitas kasih dengan sesama di sekitar kita. Ingatlah! Yesus tahu betul rasanya ketika dikhianati Yudas, seseorang yang sangat ia kasihi dan yang setiap hari ada dan duduk makan bersama-Nya. Namun, Yesus menerimanya sebagai bagian dari misi keselamatan dan pengampunan yang Dia wartakan. Ketika mengecap ‘anggur pahit’ pengkhianatan dari orang-orang terdekat, kita mestinya meneladani sikap Yesus untuk menanamkan semangat saling mengampuni. Kita tidak perlu menjadi ‘Yudas’ yang lain bagi sesama. Hal ini memang berat, apalagi kalau kita tidak kuat untuk mengendalikan dorongan manusiawi kita. Toh! Untuk membentuk sebuah komunitas yang penuh kasih dan yang didambakan, kita perlu berjuang untuk membebaskan diri dan sesama kita dari ‘virus’ ini. Kita harus berusaha untuk bebas dari kepahitan pengalaman pengkhianatan, karena sejatinya kita tidak bisa menghapus masa lalu tetapi kita bisa mengubah masa depan. Menjadi ‘Yudas’ yang lain kepada orang yang mengkhianati kita justru tidak akan menyelesaikan persoalan.

Di pihak lain, apa pun yang dilakukan Yudas merupakan sesuatu yang buruk dan bisa menjadi sisi gelap dari diri kita. Dalam situasi tertentu, kita bisa saja punya dorongan yang serupa. Untuk itu, kita perlu siap untuk berhadapan dengan begitu banyak ‘Yudas’ yang dapat merusak relasi kita dengan sesama yang lain – entah diri kita sendiri atau juga orang lain. Dan sebagai seorang Kristiani sejati kita harus menanamkan nilai kasih dalam hidup bersama dengan yang lain. Kita berusaha untuk menerima kekuarangan dan kelemahan satu sama lain. Di sini, pengalaman pengkhianatan mestinya tidak menghambat setiap orang untuk menghayati keutamaan hidup kristianinya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button