Opini

John Rawls: Keadilan Global dan Nalar Publik (1921- 2002)

Penulis : Otto Gusti Madung (STFK Ledalero)

1. Pengantar

Dalam sebuah dokumen otobiografis John Rawls berjudul “On my religion” terdapat sebuah tesis awal berjudul A Brief Inquiry into the Meaning of Sinn and Faith. Pembaca dikejutkan dengan informasi bahwa John Rawls pernah tertarik pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial seputar agama. Pada tahun 1941 ia bahkan pernah berrencana untuk masuk seminari dan menjadi imam. Namun pengalaman tragis perang dunia kedua yang dialaminya sendiri sebagai tentara yang bertugas di wilayah Pasifik dan berita seputar pembantaian masal Holocaust membuatnya bimbang tentang eksistensi Allah dan makna iman.

Kendatipun demikian terdapat semacam jembatan penghubung antara minat teologis Rawls di atas dengan pandangan politiknya dalam karya A Theory of Justice. Dalam karya ini Rawls bicara tentang “prinsip keseimbangan”. Prinsip ini menuntut, talenta-talenta yang didapat bukan dari hasil kerja manusia harus dipandang sebagai barang milik komunitas. Dalam tesis awal Rawls kita jumpai ungkapan teologis yang merelativisasi prestasi dan jasa. Seperti kritik Agustinus atas Pelagius, Rawls pun menulis: “there is no merit before God.” Kita tidak boleh berbisnis dengan Allah. Membanggakan prestasi sendiri adalah sebuah kesombongan dan dosa berat. Apa yang telah diterima oleh setiap manusia adalah sebuah karunia yang harus disyukuri.

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button