Puisi

Kabar Pagi Antologi puisi Defri Sae

S’bab dahulu ada rintih, ada pedih, dan sedih

menggerogoti buana manusia,

menjadi perihal bodoh dan memateraikan buta pada ingatan tetua.

Defri Sae

Kabar Pagi

Beranjak dari ranjang,
ada girang saat pajangan semesta berjalan
membelai rerunputan kota.

Pada balai yang ingin rubuh
kopi diseruput dibawah gerimis
dan sebelum pagi berpulang.

Bunga bermekar meramaikan pagi
mentari tanpa taring
karena tak ingin mencampuri haus yang kini bersetubuh.

Populasi di taman hingga selokan menjadi polusi
kupu-kupu tak mampu membelai angka
saat mensensus wujud estetik tanaman.

Dari balik jendela ada persepsi kebahagiaan menukik
turut melantunkan kidung agung di bilik hati
merespon kabar pagi yang semarak.

Kefamenanu, 2021.

Baca juga : Kita dan Kuasanya-Nya Antologi Puisi Verr Lado
Baca juga : Bunga di Tepi Jalan

Ibadah

Merawat nasib, menolak aib
dan menjadi tabib untuk diri, bagi dunia. Kehidupan.

S’bab dahulu ada rintih, pedih, dan sedih menggerogoti buana manusia
menjadi perihal bodoh dan memateraikan buta pada ingatan tetua.

Kini alam serupa rusak
oleh nafas yang tersesat menaikan hormat
dari nyaringnya terompet yang diculik peradaban.

Menjadi beban moral yang mengusik batin
saat perihat nubuat malaikat menyamar menjadi siang dan malam
membawa bait-bait lisan.

Mendekap semua makna dan menuju transformasi
dari tiap harapan di pedalaman desa adalah ibadah sepanjang hayat.

Kefamenanu, 2021

Baca juga : Labuan Bajo 24 Agustus Antologi Puisi Affriana
Baca juga : Mati Itu Abadi Antologi Puisi Asni Bastari

Kesudahan

Otot merenggang, dan otak menguras ide saat mentari melotot.
Energi memberi bobot-bobot harini menuju kematangan.

Rotasi terus menghitung setiap detik yang gugur,
pun berkuyur keringat dibawah tangis pori-pori yang merintih.

Jemari memintal karya tanpa jeda,
seolah berhutang budi pada waktu dan usia.

Tubuh kurus ini mencari setitik air,
meredamkan gemertak tenggorakan
bak insan di padang sahara membelai butiran-butiran pasir.

Pohon lengkeng, tempat raga memohon durasi,
bayang-bayang dedaunan menjadi saksi
kunamainya pelipur lara.

Secangkir kopi dan ubi bakar membelai jiwa yang terkapar,
netra berkedip sebelum semuanya terjadi,
seraya syukur terhatur pada Ilahi, adalah kesudahan usai tubuh merintih.

Kefamenanu, 10 Februari 2021.

Defri Sae adalah namanya, pria yang menyukai puisi sebagai bagian hidupnya, karena menulis adalah ibadah yang hidup.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button