cerpen

Kado Imamat

Bagi mama hidup adalah sebuah proses dari perjuangan untuk menggerakkan bahtera yang ada menjejal lautan derita mencari pulau yang menyimpan tawa, dan suka walau tak juga kekal. Yang aku tahu dia tidak mau menyebut dirinya nahkoda sebab dia hanya kelasi bawahan yang berkesempatan oleh takdir.

Yoran Khourast

“Nak diminum kopinya, nanti keburu dingin. Tidak baik kalau kopinya dingin nanti seleramu hilang, lalu sebentar kamu tidak mau meminumnya.”

“Ia ma,” jawabku dari tempat aku duduk sambil berdiang di dekat tungku api.

Tubuhku masih digerogoti oleh kedinginan yang sungguh tak tertahankan, karena tadi aku kehujanan saat pulang dari kebun. Sesekali tubuhku menggigil karena kedinginan itu, kaki dan tanganku gemetar. Nyala api yang bergelora di depan mata tidak mempan untuk melawan rasa dingin itu.

Sambil mendekap tubuhku sendiri perlahan kucoba meneguk kopi buatan mama. Dua tiga tegukan yang sudah kutelan suhu di tubuhku mulai terasa hangat dan aku tak lagi menggigil kedinginan, tanganku tak lagi memeluk tubuhku sendiri. Jarak antara mulut gelas dengan sisa kopi yang masih kunikmati sektar lima senti. Mama telah menyiapkan segala sesuatu untuk dihidangkan sebentar malam.

Ya, walaupun yang kusebut segala sesuatu itu hanyalah nasih putih dan sayur singkong yang direbus dengan air tanpa bawang, tanpa racikan bumbu apapun. Semuanya adalah anugerah yang patut disyukuri, salah satu bentuk ekspresi dari rasa syukur itu adalah ketika kami bersama tersenyum saat menikmati kesederhanaan itu.

Baca Juga : Metamorfosis Kebangkitan (Sebuah Refleksi)
Baca Juga : Kekasih Antologi Puisi Erlin Efrin

Ma bisakah saya menanyakan sesuatu? Mulanya mama tak menyahut, karena pikirnya aku hanya bercanda. Mama terus berkosentrasi dengan pekerjaannya, menganyam tikar. Kuperhatikan kelincahan mama merangkai anyaman itu dengan lentik jemarinya membentuk kotak-kotak catur yang kecil. Semuanya rapi teratur penuh estetis.

Kuberanikan diriku mendekati mama yang duduk bersila di atas sepotong tikar.

“Apakah mama masih mampu untuk membiayai pendidikan saya?” Mama merasa tercekam dengan pertanyaan yang aku lontarkan, dia hening sejenak dan menghembuskan napas panjang.

 “Ada apa gerangan hingga engkau menanyakan hal itu nak? Tidakkah engkau melihat perjuangan mama selama ini untuk membiayai sekolahmu? Nak jangan menganggap remeh pekerjaan mama. Selagi mama masih menghembuskan napas, tangan dan kaki mama masih kuat untuk bergerak dan bekerja, mama masih tetap bisa mendukung dan membiayai sekolahmu. Dengar nak! mama sudah terbiasa hidup sengsara, bahkan sejak ayahmu masih hidup, mama sudah merasakan penderitaan itu. Dan semenjak dia pergi penderitaan itu kian bertambah. Mulai saat itu aku berperan sebagai ibu dan sekaligus ayah untuk kamu. Nak aku sangat bersyukur karena Tuhan selalu memberikan jalan untukku supaya bisa mendapatkan sesuap nasi dan bahkan bisa membiayai sekolahmu. Mengapa engkau begitu cemas? Mama masih tetap kuat bekerja, apalagi kakakmu sudah bekerja dan sudah bisa menghasilkan uang. Mungkin kamu melihat pekerjaan ini sangat kecil dan tidak bisa menghasilkan uang, tapi ini cukup nak untuk mendapatkan uang. Dengar baik-baik nak! Jangan pernah meragukan apakah mama mampu membiayai pendidikan kamu. Berjuanglah nak, mama sakit hati dengan penderitaan yang mama alami, mama tidak mau melihat kamu mengalami hal yang sama seperti yang mama rasakan. Mama akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa membiayai kamu.” Demikian kata mama yang sempat kudengar sore itu. Antara berbunga-bunga dan rasa haru terhadap ucapan mama terjadi berhamburan dalam hati. Bahkan aku merasa mataku terus mengalirkan airnya yang hangat menyusuri garis-garis pipi. Dari jawaban yang mama lontarkan bahkan membuat aku berkecil hati terhadap realitas yang ada di tengah keluarga kami.

Baca Juga : Teror dan Teror(isme)
Baca Juga : Musafir Panggilan Antologi Puisi Haris Meme

Mengapa ya, ayah begitu cepat meninggalkan kami? Mengapa dia tega meninggalkan mama sendirian menanggung derita demi mengasuh kami anak-anak mereka. Saat yang sama pula aku benci terhadap ayah yang telah pergi meninggalkan kami sebagai anaknya dan juga mama.

 Ya, mama sudah menjadi pahlawan dalam kehidupan kami. Mama adalah wanita yang tegar, yang mampu berdiri dengan kokoh melawan badai kemiskinan yang tengah melanda bahterah rumah tangganya. Dia telah bekerja membanting tulang, tak kenal lelah. Panas terik matahari dan badai hujan deras di kala musim dureng bahkan tak pernah ia hiraukan. Itu semuanya demi sesuap nasi, untuk menghidupkan kami. Dia telah menjadi wanita tegar yang setia merawat lara. Aku telah belajar banyak dari situasi kelaurga kami. Aku tahu kapan saatnya kami makan nasi dan kapan saatnya kami makan ubi dan jagung. Itulah sebabnya aku sangat meragukan untuk melanjutkan studiku ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Dulu bahkan ketika aku masih kecil, masih teringat dalam benak tentang mama yang harus mengabdi menjadi pembantu untuk seorang konglomerat. Upah yang mama dapat tak pernah sesuai dengan tenaga dan keringat yang mama keluarkan. Dia bekerja membanting tulang dari pagi sampai larut malam. Hingga yang paling aku benci dari orang-orang kaya adalah kesombongan, kepelitan dan keserakahan.

 Jauh dalam lubuk hati ini menyimpan semacam sebuah kepahitan yang menjelma derita menjadi semangat juang yang tinggi, tapi beranikah saya menyangkal realitas? Keberanian adalah kunci utama, keraguan hanya sesaat, dia akan hilang seiring dengan keberhasilan yang kita capai. Beranikah aku untuk terus melangkah maju untuk mengibarkan sebuah keberhasilan? Walaupun aku harus terus menindas keadaan? Sempat aku meragukan segalanya, namun cukup dari setiap pilu yang kudapat adalah ingatan yang menjadi tolok ukur dari semua yang sedang aku kejar.

Baca Juga : Merawat Jalan Sunyi
Baca Juga : Divina Commedia: Grazie Dantev (700 tahun Dante Aleghieri)

Di balik semuanya itu adalah mereka yang aku korbankan, apa upayaku untuk memulihkan semuanya? Tak sedikit pun pilu ini berarti jika seandainya aku terus membungkam dalam keegoan. Aku harusnya terbuka terhadap realitas yang tengah mendekap lembut dengan segala tetek bengek dari masa lalu. Apalah artinya mencintai jika dalam kenyataannya aku hanya terus menjadi penjajah yang  terselubung, mungkin dengan cara yang sedikit manis. Aku tertunduk pada waktu yang kian mengalir, yang membawa pergi masa lalu hingga menyuguhkan realita masa depan yang masih misteri dan hanya samar-samar.

 Sering kali aku mendengar suara jeritan, apakah aku harus menjelmanya menjadi semacam suara yang bersorak mendukung? Ya dalam artiku hari ini dapat saja itu, aku hanya cenderung menjadi orang bodoh, demi sesuatu yang kusematkan dalam dada. Kiranya apa yang aku kejar adalah sebuah kebahagian yang dapat menghapus derita masa lalu dari seorang wanita tua yang adalah penyemangat jiwaku. Aku hanya ingin menghapus pilunya dengan sapu tangan sederhana yang aku miliki. Telah cukup lama aku larut dalam rasa sesal, aku tenggelam dalam lautan kecemasan, hingga akhirnya aku jatuh pula dalam jurang keegoan yang kian memberangus segala kebencian.

Luka dalam hati ini benar-benar perih. Aku hanya bisa berpasrah kiranya semua yang aku harapkan takan pernah menjadi sia-sia. Pada tebing waktu aku memanjat dengan penuh yakin, sementara di pundakku memikul semacam sejarah tentang mama yang selalu tabah dan sabar dalam segala rintang, tuk melewati setiap deretan waktu demi menjadi dan menyuguhkan cerita dalam balutan kasih. Waktu aku sedikit mengerti dengan apa yang namanya kepahitan sejenak aku berhenti dalam rotasi waktu, aku menjadi tahu mama sementara dirasuki rasa gundah. Dia merawatnya demi aku, dan dia tak mau aku tahu tentang hal itu. Cukuplah menjadi rahasia dalam hati mama yang sempat aku intip lewat ceruk matanya serta lipatan kening yang mulai keriput. Membungkus gundah dalam lara yang kian menggunung adalah suatu sikap ketabahan mama. Memilih tangis di sela waktu bukan berarti dia tak mampu lagi menghadapi realitas hidup yang disuguhkan padanya. Dia hanya sekedar terjeda untuk memohon karena dia tahu sumber dari segala derita yang ia hadapi tak pernah menutup mata terhadap segala malum.

Baca Juga : Lika-Liku Kentut
Baca Juga : Hujan di Malam Hari

Dia tahu derita tak selamanya kekal, dan kebahagiaan masih menunggu di ujung waktu, tapi bukan sekarang. Tak ada waktu baginya walau sekadar menceritakan segala macam kepahitan itu, karena setiap detik hidupnya dipersembahkan untuk merajut kisah sederhana dalam bahtera yang ditinggal pergi oleh sang ayah.

Bagi mama hidup adalah sebuah proses dari perjuangan untuk menggerakkan bahtera yang ada menjejal lautan derita mencari pulau yang menyimpan tawa, dan suka walau tak juga kekal. Yang aku tahu dia tidak mau menyebut dirinya nahkoda sebab dia hanya kelasi bawahan yang berkesempatan oleh takdir. Dia bukan penumpang sebab dia punya seribu tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap utuh dari badai derita yang kian mengguncang itu. Sampai sekarang cintanya bahkan tetap utuh, dengan segala mimpinya biduknya diterpa angin menyamarkan kepulauan tawa.

 Pada deretan waktu yang ia lalui, aku berdiri di atas puncak keheningan menjejal setiap arahnya kemarin. Saat aku berkontenplasi, kembali kutemui ada semacam rasa gundah yang kian menumpuk, juga sedih dan tangis mewarnai setiap waktu yang merangkul keras jiwanya. Barangkali ini semacam bekas-bekas yang menceritakan tentang masa lalunya. Bahwa hidupnya pernah menjadi asin melebihi garam laut, ada hening yang melebihi kesepihan samudera, serta ada goncangan yang melebihi ombak di lautan lepas. Sejenak kumenoleh untuk melihat kepedihannya pada dinding-dinding luka yang sudah masam, di sana ada semacam sembilu yang letih beristirahat, dan tetap pongah terhadap kesabaran. Tak mampu menyayat lagi sebab hati yang menjadi obyek sayatan bersahabat pada luka dan setiap sobekan.

Baca Juga : Hermeneutika Diri : Sebuah Jalan Yang Panjang
Baca Juga : Senja di Pantai Hatimu Antologi Puisi Wandro Julio Haman

 Dari kepahitannya itu lahir sebuah doa yang harus terus dirapalnya dalam keheningan padang gurun. Doa yang bukan lagi protesnya terhadap waktu melainkan semacam lamentasi dalam kekusukan penuh mohon. Baginya hidup adalah doa yang tak sampai lalu sampai pada doa yang selalu sampai. Ocehan waktu yang berdemonstrasi pada jejak kepahitan karena dibelokkannya arah menuju sudut-sudut suka yang menunggu, tak pernah berhenti.

Saat semuanya usai di gubuk yang berpelupuh lapuk, tangisnya kudengar merintih di balik jendela menguping ingat pada deretan tapak yang sunyi. Saat itu aku sudah mengikrarkan kaul kekalku di sebuah kongregasi religius. Selain dari kemauan yang teguh dari diriku sendriri untuk menerima janji selibat seumur hidup itu, aku juga ingin menghapus keringat mama yang telah berjasa atas diriku. Aku ingin mempersembahkan imamatku untuk mama.

Sore itu hujan mereda saat aku tengah menghabiskan segelas kopi di refectory. Baru kemarin aku pulang dari kampung untuk menghadiri pemakaman jenazah mama. Aku teringat akan pesan mama sebelum dia meninggalkan aku.

“Nak jaga panggilanmu, dalam imamatmu nanti, mama hanya menitipkan nama. Bantu mama untuk mencapai tempat itu, karena di sana mungkin mama bisa menikmati kebahagiaan bersama imamatmu. Peluk aku dalam doamu agar mama bisa mengecap anggur keselamatan bersamamu dalam perjamuan kudus. ‘Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,’ jadikan ini sebagai motto tahbisanmu nanti.  Kulipat pesan itu dalam kantung kemejaku, dan kuingat mama dalam setiap kekusukan doaku. Hingga tiba saatnya aku ditahbiskan menjadi seorang pastor, kuingat persis semua kisah itu. Saat aku berlari bersama waktu, aku semakin sadar bahwa pilihan hidup yang aku jalani adalah bentuk pengabdianku terhadap dia. Aku tahu inilah kado terindah untuk mama, untuk dia yang

memberi kekuatan kepadaku,’ jadikan ini sebagai motto tahbisanmu nanti.

 Kulipat pesan itu dalam kantung kemejaku, dan kuingat mama dalam setiap kekusukan doaku. Hingga tiba saatnya aku ditahbiskan menjadi seorang pastor, kuingat persis semua kisah itu. Saat aku berlari bersama waktu, aku semakin sadar bahwa pilihan hidup yang aku jalani adalah bentuk pengabdianku terhadap dia. Aku tahu inilah kado terindah untuk mama, untuk dia yang sepenuhnya adalah pemilik jiwaku.

Yoran Khourast

Penulis saat ini tinggal di Seminari Rogasionis Hati Yesus 


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button