cerpen

Kafe Kenangan

Ilustrasi: seo-blog

Oleh: RP. Ovan Setu, O.Carm

Pada suatu pagi yang tidak biasa, ketika sedang sarapan pagi bersama beberapa teman se-atap dalam rumah yang ditempati itu, Rian menjadi ragu dengan dirinya. Ada sesuatu yang janggal bukan aneh bukan pula sesuatu yang baru. Ada sesuatu yang seperti teringat – hinggap di dalam benaknya hanya saja pagi itu ia sempat lupa bukan karena ia sengaja.

“jika ada yang perlu kuingat, ingatlah agar kutahu apa yang harus kulakukan sepanjang hari ini” gumam Rian.

Seperti biasa menu sarapan pagi Rian hanya satu roti tawar tambah selai cokelat dan secangkir kopi serta diimbangi oleh sebatang rokok surya. Rian sudah sangat lama mengisi lambungnya setiap pagi dengan menu sarapan seperti itu. Barangkali sejak ia memasukki tahun kedua kuliahnya di salah satu Universitas Swasta di Kota Metropolitan.

Sebagai seorang Guru Bahasa dan Sastra Indonesia Rian selalu mampu mengajak dirinya untuk dekat dan mengawini hari-harinya dengan buku dan tulisan-tulisan kecil baik berupa coretan tangannya maupun coretan siapa saja. Rian tahu cara terbaik untuk mengapresiasi apa yang perlu diapresiasi dan mengkritik apa yang harus dikritisi.

Usai sarapan, Rian kembali ke kamar tidurnya. Dipungutnya beberapa buku bacaan dan diantaranya adalah sebuah novel karya F. Rahardi yang berjudul Ine Pare (Novel Ibu Padi).

Hari ini, tidak terlalu banyak jam pelajaran yang harus diisinya selain di kelas XI untuk jam pertama sampai jam ketiga. Ia berencana untuk mengisi waktu kosong dengan membaca novel itu yang belum selesai di beberapa minggu terkahir.

*****

Pagi-pagi itu sekolah tampak lebih bedah dari sebelumnya. Guru-guru lebih tepat waktu dari biasanya. Anak-anak didik yang lebih rapih dan tahu memberi salam, sapa dan senyum dan untuk itu tidak seperti biasanya. Tempat parkir yang lebih rapih dan terartur. Daun-daun kering yang jatuh – sering menjadi sapaan setiap pagi setiap kali melangkah maju menuju gerbang sekolah kini lebih bersih dari biasanya. Ada yang baru meskipum begitu Rian masih saja bingung dengan dirinya. Ada yang ia lupa bukan dirinya tapi sesuatu.

“selamat pagi, Pak” ucap Ibu Shinta, Guru Geografi seumuran dengan Rian.
“Selamat pagi kembali, Bu” balas Rian.

Di ruang guru, Rian menimang-nimang tiga jam pelajarannya. Antara memberi pelajaran, tugas, dan memberi mereka kesempatan untuk membaca atau membiarkan mereka menonton sebuah film sastra yang dirilis dari sebuah novel agar mereka mampu menganalisa berdasarkan cara membaca dan menginterpretasi masing-masing.

“Rian, ada sesuatu yang kau lupa, tapi bukan dirimu. Sesuatu itu seperti janji dan sesuatu beruapa kencan dengan seorang bahkan sesuatu seperti cerita yang tak ingin kau putuskan.” Gerutu Rian atas dirinya sendiri.

Kringgg…kring…. Lonceng jam pertama telah berdering. Dengan langkah gontai Rian mengimbangi ubin yang dijejalnya menuju ruangan kelas XI Bahasa I.

“selamat pagi, Pak guru” salam anak-anak didik dengan antusiasme dan semangat.
“selamat pagi kembali, anak-anakku. Silahkan duduk.” Balas Rian.

Di sekolah itu, Rian menjadi salah satu guru favorit bagi peserta didiknya. Selain karena wajahnya yang tampan dengan usianya masih muda. Rian juga dikenal sebagai seorang guru yang sangat sederhana, dekat dan pengertian dengan peserta didik. Mengenai pengalaman mengajar memang Rian bukanlah senior namun ketika melihat metode mengajarnya semua guru akan melihat betapa berpengalamannya ia dalam mengajar.

Kebiasaan berbicara dengan bahasa yang cukup baku mendorong peserta didiknya suka tidak suka turut terbiasa. Dan sejak tiga tahun yang lalu Rian mulai memasukki lembaga pendidikan itu, ada perubahan yang dratis atas minat pengujung perpustakaan, minat mengikuti ekstra kurikuler, minat membaca – menulis dan sesuatu menjadi amat sangat menarik setiap Rian mulai berbicara.
Ketertarikan itu yang akhirnya mendorong para siswa untuk selalu mencoba meminati apa yang diminati oleh Rian, guru Bahasa dan Sastra Indonesia mereka.

Selama tiga jam pelajaran hari itu, Rian memberi kesempatan kepada peserta didiknya untuk menonton film sastra hingga jam kelas selesai.

Dalam perjalanan kembali ke ruang guru Rian telah berencana untuk menyelesaikan novel yang ia bawa. Tapi sayang, siang itu ia telah lama pusing dengan dirinya. Ia bingung dengan keadaan dirinya. Ia menimang-nimang kembali ingatannya bahwa ada yang janggal dan itu bukan dirinya. Yang janggal adalah tentang apa yang ingin diingatnya tapi apa. Itu yang ingin dipaksanya.

Rian hanya menghiasi mejanya dengan buku novel yang dibawanya itu tanpa benar-benar membacanya sekalipun jemari-jemari tangannya selalu membolak-balik halaman per halaman buku novel dihadapannya itu.
****

“Rian kok, kamu menghayal sih. Ada apa denganmu. Kamu kok seperti orang bingung begitu.” ucap Shinta
Shinta dan Rian saat itu sedang berada di caffe. Keduanya sedang menjalani kencan ketiga mereka sebab kencan kedua beberapa bulan yang lalu adalah di mana Rian meminang Shinta. Dan pada kencan ketiga ini Rian ingin agar keduanya segera mungkin ke pelaminan.

Shinta dan Rian adalah sama yatim piatu. Kedua orang tua mereka meninggal dalam perjalanan rohani. Memang kedua orang tua Rian dan Shinta adalah sahabat karib sekaligus partner kerja di kantor camat tempat mereka tinggal. Keakraban itu mengikat Rian dan Shinta dalam sebuah perjodohan. Untungnya, keduanya memang telah saling mencintai.

“Rian!” Panggil Shinta. Dia tersadar dari ilusinya.

“kamu kenapa?” tanya Shinta.
“tidak apa-apa Shin?, hanya saja aku seperti berada di dunia lain tadi. Toh tadi aku seperti bermimpi bahwa aku sedang mengajar dan sedang sarapan dengan sesuatu yang baru dengan duniaku. Memang di sana ada dirimu Shin, namun kita berdua sepert orang asing hanya saling sapa tanpa tahu bahwa kita saling mencintai. Kita mengajar pada sekolah yang sama. Tapi aneh, kita begitu jarak dan sangat jarak”.

“Berarti, kamu juga memimpikan itu, Rian” tanya Shinta.

Sebab, beberapa hari yang lalu, ketika kau mengajakku kencan di caffe ini. Aku juga sempat bermimpi tentang hal itu. Hal yang sama seperti yang kau mimpikan barusan itu. Apakah itu tanda atau apakah itu pesan?”. Keduanya tak tahu dan sama-sama tidak bisa dipahami.

“Akh, Shinta jangan-jangan kita tidak direstui oleh semesta” ucap Rian.
Tapi Rian, ini tahun ke sepeluh setelah kita menikah. Dan tidakkah kau lihat caffe ini adalah miliki kita dan di sana ada anak-anak kita dan cucu-cucu kita yang sedang tawa riah dan bersenang-senang.

“tapi Shint?”

Di tahun ini kau lupa Rian, kau sedang menantikan hari lahirmu yang ke 60 dan aku menantikan hari lahirku yang ke 54.
Kita berdua terpaut enam tahun. Dan hari ini sebenarnya kita sedang bernostalgia di hadapan anak-anak dan cucu-cucu kita. Mereka semua ada dan sedang menulis kenangan akan kita.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button