Puisi

Kamu Antologi Puisi Maria Magdalena

“Lain waktu
Biarkan matamu bercerita lagi
Soal a pa saja
Luka yang terkubur
Suka yang manis
Atau rahasia di ruang kedap suara
Jantungmu”

Mar

KAMU

Langit hari itu serasa rebah seperti padam
Matahari dan gemawan
Rasa-rasanya lupa menjadi doa
Tetapi di matamu
Aku menemukan Tuhan Yang Maha
Itu sedang tertidur

Lain waktu
Biarkan matamu bercerita lagi
Soal apa saja
Luka yang terkubur
Suka yang manis
Atau rahasia di ruang kedap suara
Jantungmu

Lain kali
Biarkan senja menjemput pertemuan kita
Redup dan jigganya
Biarkan jadi pelataraan paling merdu
Untuk kembali menulis rindu

Pada apa saja
Sesiapa saja
Asal sajak ini
Masih sanggup
Menemanimu

(Maumere, 2021)

Baca Juga : Vita Quaerens Fabulam (Hidup harus dinarasikan)
Baca Juga : Dalam Doa Antologi Puisi Wandro Julio Haman

WAKTU

Waktu yang terus berpacu
Mengalir manis seperti madu
Iramanya syahdu
Mengalun lembut indahnya lagu
Raga ini tidak lagi sendu
Manakala dia terlihat lugu
Diri ini terus menunggu
Hadirnya dia di sisi waktu

Nadiku seakan berdetak tak menentu
Jemariku seakan menyentuh lubuk
Hatimu untuk menenangkan hatiku
Di kala risau memenjarakanku
Akan sosok wajahmu

(Maumere, 2021)

Baca Juga : Hujan di Malam Hari
Baca Juga : Mama Antologi Puisi Andi Dollo

IBU

Ruang ini kembali bersua
Merasakan hadirnya jejakmu
Rajutan lembut terus disulam
Sembari menikmati kicau pipit
Nan anggun
Di sana ada dia yang menghuni
Ruang, lemah dan tak berdaya

Hari ini genap langkah ke sembilan
Gerbang dimensi menuju dunia baru
Telah dibuka
Ada jurang dan tombak
Juga taman Eden di sana
Kau tak mengenal jera
Terus saja kau lewati jurang dan tombak
Penuh darah
Penuh nanah

Tiraiku terus meluruh
Suraiku tak indah
Tetap saja kau bahagia melihatku
Silau, itu yang kurasa
Dimensi ini terus bergulir
Ada yang berubah di sana
Aku mulai aktif bersua
Dunia aku taklukan
Kau tak pernah keluh
Manakala aku terus beraksi

Hari ini dunia kembali sunyi
Kau mulai senyap
Suraimu memudar
Garis takdir terlihat nyata
Semuanya suram
Tak lagi ada resah
Bahkan rasa takut
Kau sudah bahagia
Duniamu telah kembali

(Maumere, 2021)

Baca Juga : Model Politik Eudaimonistik Aristoteles (384/383-322 SM)
Baca Juga : John Rawls: Keadilan Global dan Nalar Publik (1921- 2002)

TAKDIR

Deru angin kian mendesir
Kereta waktu sudah terparkir
Ada haru yang mulai hadir
Kala rakyat diam meminggir

Kalbuku kembali keluh
Kala rimba kembali beraduh
Rayuan waktu kian gemuruh
Hadirmu aku seluruh

Jejakku terukir sempurna
Ruang ini kembali bersua
Ada suka yang terus berdiam
Di sana sketsanya jelas tidak bernoda

Sedihku telah usai
Tirai bahagia mulai berderai
Perang telah dilerai
Suka cita kembali diurai

(Maumere, 2021)

Penulis : Maria Makdalena, mahasiswi psikologi semester 6 Universitas Nusa Nipa Maumere, penulis dapat di sapa lewat akun media sosial: facebook Mar, Instagram Mar_Mkdlna atau melalui email makdalenamariacapril02@gmail.com.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button