cerpen

Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus

Januari, Ruteng menjadi kota hujan. Tak peduli itu pagi, siang ataupun malam, hujan seperti menjadi selimut yang nyaman. Seperti hari ini, mendung terbentang di atas langit kota ini, dan hujan turun pelan membasahi jalanan. Sial sekali hari ini, aku lupa membawa mantel. Terpaksa aku menepikan motor dan duduk di pinggiran pertokoan. Dingin yang meraba kulitku menembus sampai ke dalam tulang. Teringat kopi panas yang sering terhidang saat-saat seperti ini. ‘Ya, sampai di rumah sebentar, memang harus langsung menikmatinya, pasti akan terasa nikmat, apalagi tadi pagi mama sempat membeli jagung muda’, gumamku pada diri sendiri.

Baca Juga : Perempuan Patah Hati Dengan Kenangan Yang Masih Enggan Antologi Puisi Ningsih Ye
Baca juga : Merindu Antologi Puisi Widiana Marny

Terasa nikmat saat membayangkan hal itu, jagung muda yang manis, kopi hitam yang panas. Kerongkonganku menelan ludah. Ah….sial….sial…..Kalau saja tadi tidak terlalu lama di bukit, mungkin tidak akan seperti ini. Gerutuku dalam hati. Dingin yang menyapu udara bersatu dengan khayalan konyol dan pikiran yang sibuk.

Kak Putra, sedang memikirkan apa? Sepertinya jauh sekali pikiranmu itu.’ Seorang gadis cantik tersenyum  ke arahku,  Yane? (Tenggorokanku tercekat, sejak kapan di sini, sudah berapa lama pula dia memperhatikanku? Tanyaku mengawang dalam hati)

Ee…..tidak kok, hanya tertegun melihat rintik hujan saja,’ jawabku seadanya, menyembunyikan semua ingin, tentang kopi, jagung muda dan juga tanya tentang dia.

Yane, gadis dengan wajah manis yang dibalut kulit sawo matang serta rambut air yang dipotong sebahu. Tingginya kira-kira 158 cm, setidaknya sedikit di bawahku. Terakhir bertemu sekitar dua tahun lalu di sebuah toko tempat fajar menyingsing. Kalau tidak salah ingat, saat itu aku sedang berbelanja untuk keperluan rumah, sedangkan dia berbelanja untuk keperluan sekolahnya. Oh iya, sekarang dia berprofesi sebagai seorang guru, dulu dia adik kelasku, hanya saja kemudian, dia lebih cepat menyelesaikan pendidikannya di universitas di kota ini. Sedangkan aku, sibuk sana sini saat menempuh pendidikan di ujung pulau ini sehingga kuliahku terbengkalai dan aku agak lama menyelesaikan kuliah jika dibandingkan dengan Yane.

Kak, kok bengong la’ ucap Yane menyadarkan pikiranku yang sering sibuk sendiri.

“Aduh, maaf. Gara-gara hujan ni, pikiranku selalu tertipu rintikny’, jawabku saat itu.

‘’Kakak ini tidak berubah sama sekali ya, masih saja seperti dulu, sedikit-sedikit larut dengan pikiran sendiri. Kemudian, muncul lagi”, ucapnya kali ini.

hehehhehetawaku pecah, garing menebas hujan dan dinginnya.

Kamu apa kabar, Ne?’’, Tanyaku kali ini.

Saya baik kok kak, malah baik sekali, kalau kakak, kabarnya bagaimana? Sepertinya menghilang selama ini, di akun media sosial juga sudah lama sekali tidak kelihatan. Seperti di telan bumi saja. Untung hari ini bisa ketemu’’.

‘‘Aduh, kok begitu sekali gerutumu itu Ne, Aku baik kok, liat aja ni.’’ Sambil tersenyum aku membalas pertanyaannya.

Ia sih, memang kakak kelihatan baik, bahkan hampir-hampir tidak berubah sama sekali, masih sama seperti terakhir kali kita bertemu. Tapi, sekarang kerja di mana kak? Juga pacarnya dari mana?”, tanyanya lebih jauh.

‘‘Aduh, Ne….Ne….masih juga seperti yang dulu, tidak pernah menahan kata kalau nanya. Jelas , pasti dan menusuk”, ucapku.

Hehehehe…..kalau dengan kakak, memang harus begitu, kalau tidak, mana pernah kakak bakal berbicara panjang lebar. Kakak kan sukanya hanya berbicara, singkat dan padat makna. Kecuali kalo ada pertanyaan yang menyinggung diri kakak, baru panjang lebar, ungkapnya kali ini.

‘’Dasar, hafal sekali dengan tingkah lakuku, padahal sudah lama sekali tidak bertemu”.

‘’Jadi, bagaimana kak?’’ potongnya sebelum aku menyelesaikan kataku.

’Aku, ya begini saja Ne… Kerja tidak ada, apalagi pacar. Sekarang lagi fokus dengan diri saja. Banyak hal yang harus, aku perbaiki. Kamu tahukan, aku ini bagaimana? Tidak  jelas orangnya….heheheh…’’

‘‘Aduk kak, jangan ngomong begitulah, kakak orang baik kok, juga paling bisa diandalkan kalau ada apa-apa”. Katanya atas pernyataanku barusan.

Aku hanya bisa tersenyum mendengarkan ucapan barusan, “kalau kamu bagaimana Ne?”, tanyaku mencari tahu tentang dia.

Aku sih masih mengajar kak, untuk pacar, saat ini sudah tidak ada lagi kak, hanya saja aku sudah tunangan kak..hehehhehe..” , tawanya

Aduh, baru ketemu, tiba-tiba udah dengar kabar kalau udah tunangan. Baguslah kalau begitu, setidak-tidaknya ada yang berubah dari kamu setelah dua tahun tidak bertemu”, ucapku menahan ludah pada kerongkongan, yang entah kenapa terasa begitu pahit.

‘’yah kak, soalnya kalau lama-lama nanti takutnya jodoh dibawa orang. Hehehe.Kakak cepat nyusul ya.’ Ucapnya padaku.

‘Yah, Ne, memang gampang urus anak orang? Hidup aja masih nggak jelas begini”, balasku

‘‘Yah, selalu begitu, dari dulu selalu begitu”’.

Kenapa Ne?” Aku pura-pura tidak mendengar ucapannya barusan.

Tidak kok kak, hujannya belum redah ni”.

Oh iya sih, tunggu saja sedikit lagi pasti sebentar lagi bakalan reda”.

Baiklah, sepertinya aku duluan ya, kalau nunggu sepertinya tidak bakalan reda total hujannya”.

“Hae, emangnya tidak takut kehujanan, nanti kamu sakit lagi Ne”, ucapku menahannya pergi.

Tidaklah kak, aku kan tadi pakai mantel, kebetulan lihat kakak lagi duduk di sini, makanya aku berhenti”. Senyum tidak lepas, saat mengatakan itu sambil mengarahkan telunjuknya yang sedang terparkir di parkiran pertokoan.

“Ya, kalau begitu tidak usah berhenti saja tadi Ne, buang-buang waktumu saja”, kataku padanya.

“Soalnya… Ya sudahlah kak, aku berangkat dulu”, pamitnya. Tapi kata-katanya itu masih mengawang.

Motornya mulai bergerak. Aku sendiri lagi di sini. Kemudian, hujan masih rintik-rintik kecil seolah menggodaku untuk menahannya agar jangan dulu pergi. Tapi, inilah aku, masih berdiri saja. Menatap motornya yang lewat di depanku sampai punggungnya tak terjangkau pandangan mataku.

Baca juga : Rindu yang Sempat Riuh
Baca juga : Merindu Antologi Puisi Widiana Marny

Aku masih di sini, setelah lewat beberapa menit pertemuanku dengan Yane. Hujan mulai tampak akan reda. Tapi dingin ini semakin terasa. Kini bukan hanya pada kulit, kemudian menembus tulang. Tapi ada yang lain. Hatiku ini.

“Ah….sial, kenapa saat-saat seperti ini” gerutuku pada diri sendiri kemudian kenyataan dan juga pada takdir.  Kemudian kuraba saku celana, kuambil kunci motor, dan berangkat. Meninggalkan pertokoan yang sepi. Tidak kuhiraukan lagi hujan yang turun. Motor melaju ke arah pohon beringin, kemudian belok kiri, dan terus mengikuti jalur jalan. Tapi, saat itu juga ada yang merayap dari bawah alam sadarku.

Yane, gadis separuh nafasku, yang dulu tiba-tiba menghilang. Kenapa hari ini tiba-tiba muncul lagi. Ya, Yane. Tiga tahun, di bangku kuliah, kami menjalani hubungan (pacaran) jarak jauh. Dia di sini dan aku di sana, jauh di ujung pulau ini. Tapi suatu hari, semuanya tanpa kabar. Akun media sosial di-block dan aku kehilangan semua informasi tentangnya.

Baca juga : Bangku-Bangku di Gereja
Baca juga : Merindu Antologi Puisi Widiana Marny

Tidak terasa sampai juga di rumah dan tentangnya selalu mengikutiku. Dengan cepat aku memarkirkan  motorku lalu berlari ke dapur. Di sana mama sedang masak. “Dari mana saja nana?”, (Panggilan kesayangan mama untuk anak ini-tapi umumnya untuk anak laki-laki di Manggarai-NTT). “Kenapa baru pulang? mana basah-basahan lagi”. Tanya mama padaku yang memang basah kuyup dikeroyok hujan. Tapi yang lebih parahnya lagi, bagian dalam diri ini yang hancur berkeping-keping.

Tadi sempat berteduh di pertokoan karena hujan, ma. Makanya lama. Tapi setelah ditunggu lumayan lama, tidak kunjung berhenti. Makanya terpaksa kuterjang saja hujannya mama. Seperti laut akan kuarungi, badai akan lewati, tapi kopi panas masih pakai tiup ma, hehehe..” kelakarku pada mama.

Ya, sudah. Nana mandi dulu, mama akan buatkan kopi. Mama juga sudah rebus jagung yang tadi pagi mama beli”.

Baik ma, aku mandi dulu”. Setelah mandi semuanya sudah tersedia di depan meja. Aku mulai ritual menghangatkan tubuh dengan segelas kopi, dan juga sepiring jagung.

Ma, bapa di mana? yang lain juga di mana? Kok sepi ma?”, tanyaku pada mama dari ruang tengah.

Bapa, lagi tidur nana, yang lain tadi pada keluar. Mungkin terjebak hujan juga. Kamu makan saja dulu”.

Yah sudah mama, saya makan semua jagungnya”.

Setidaknya dengan begitu, apa yang kulalui hari ini, biar hanya sebuah cerita saja, dan yang nyata adalah kopi panas dan jagung rebus di depanku ini. Selamat menikmati.

Baca juga : Ciuman Pertama Antologi Puisi Defri Noksi Sae
Baca juga : Ina Ada yang Patah Selepas Mengenalmu

Kemudian dering notif hp, tanda ada chat yang masuk, nomor baru? Siapa? Seingatku selama ini aku tidak pernah memberikan nomor ke orang lain. Kemudian ketika kubuka. “Hallo kak, maaf tadi aku sudah menipu kakak. Sebenarnya, aku belum bertunangan. Aku masih seperti yang dulu kok…Oo iya untung kakak, tidak mengganti nomornya. Jadi ketika kumasukkan tadi, nomornya masih terdaftar di WhatsApp.  Kakak sedang apa?”.

Tertanda, Yane.

Kemudian, semuanya berlanjut. Kopinya semakin dingin begitu juga jagung rebusnya tidak kunjung habis.

Andi Dollo

Penulis, Andi Dollo, tinggal di Tenda, Ruteng, Flores, NTT. Akrab disapa Andi. Mencintai kehidupan tulisan dalam keseharian. Dapat disapa melalui media sosial: fb. Andi Dolo dan Ig.@Andidollo serta No. Wa. 085205466205.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button