Opini

Kartini, Covid-19, dan Tuhan

Foto: todayline

Penulis: Sr. Alfiana, CB

wanita identik dengan pesonanya yang cantik. Kecantikan wanita dapat dinilai dari berbagai sisi. Misalnya, wajahnya mulus tanpa ada jerawat, warna kulit putih, rambut lurus, hidung mancung. Namun, apapun jenis penilaian tersebut, perempuan tetaplah perempuan yang selalu hidup dalam nalurinya sebagai perempuan. Ada seorang wanita cantik, baik, asyik, dan energik. Selain itu, ia mempunyai banyak talenta yang dianugerahkan Tuhan secara cuma-cuma. Hari-hari hidupnya penuh dengan inspiratif, kreatif, berpikir positif dan produktif. Tidaklah heran jika sikapnya tersebut banyak memetik pujian dari lingkungan tempat ia tinggal tidak terkecuali di kampus tempat ia mengenyam pendidikan sekarang. Namun tiga bulan terakhir ini timbul rasa malas, jenuh bahkan merasa galau. Ada yang tahu, siapakah wanita tersebut? Nah, daripada dihantui oleh rasa penasaran tentang nama wanita tersebut, sebutkan saja namanya adalah “Kartini.”

Pada suatu hari Kartini merasa galau dan mengalami kejenuhan karena selalu stay at home bersama keluarga. Bukan hanya itu, tugas tambahan dari kampus selama tiga bulan terakhir untuk menjadi guru bagi adik-adiknya yang sudah kuliah online, juga menjadi guru bagi anaknya di tengah situasi stay at home. Semakin membuat Kartini galau ketika ia sadar bahwa tugas menjadi seorang ibu rumah tangga juga tidak kalah penting di tengah situasi sekarang. Suatu hari, walupun roh kuat namun daging lemah Kartini tidak terlepas dari rasa galau dan jenuh. Ketika mengalami kegalauan dan kejenuhan kebanyakan orang kurang produktif dalam melakukan kegiatan apapun, termasuk berdoa. Kali ini Kartini sangat berbeda dengan apa yang dirasakan banyak orang, justru dalam kegalauan dan kejenuhan Kartini masih tekun berdoa kepada Tuhan. Dalam suasana yang hening dan sepi Kartini berdoa kepada Tuhan:

Kartini : Ya Tuhan, bangkitkanlah dan sembuhkanlah kami dari penderitaan pandemi Covid 19.
“Sembuhkanlah ya Tuhan….” pintanya sambil memelas.
Tuhan : Kartin….hadapi, hayati, dan nikmatilah apa yang kau alami saat ini. Semuanya akan indah pada
waktunya, jika semua orang bertobat, taat pada peraturan dan meningkatkan pola hidup sehat.
Kartini : Tuhan, bagaimana caranya?
Tuhan : Baiklah saya akan akan meceritakan semuanya kepadamu Kartin, dan saya berharap anak-anakku yang
sangat kucintai di muka bumi melakukan apa yang saya katakan.
Kartini : Oh… Tuhanku…bersabdalah maka hambamu siap mendengarkan.
Tuhan : Pertama, hati-hati gunakan tanganmu maka cucilah tangan, sebab umur panjang ada ditangan
kanan,kekayaan dan kehormatan ada ditangan kiri (Amsal 3:16). Kedua, engkau sudah
kuciptakan setara dengan gambar dan citraKu, carilah wajahKu. Jangan sibuk mengelus dan menyentuh
wajahmu sendiri.
Ketiga, memperhatikan etika bersin dan batuk. Keempat, memakai masker.
Kelima, tidak boleh berkumpul, menyebarkan gosip dan menciptakan ide-ide yang memecahkan
persatuan dan persudaraan.
Makanya ingat menghindari interaksi lansung dengan sesama. Supaya kamu lebih intens untuk
berinteraksi denganKu. Keenam, syukuri apa yang ada karena hidup ini anugerah. Gunakan
barang sendiri dan tidak meminjam barang orang lain, membeli barang-barang yang dibutuhkan bukan
yang dinginkan. Ketujuh, social distancing sangat penting, itulah yang menyembuhkan
tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu (Amsal 3:8). Kedelapan, cucilah bahan makanan.
Selain mencuci bahan makanan juga menyucikan diri dengan apa yang baik, apa yang berguna, apa
yang mendatangkan faedah, berpikir hal-hal baik, dan kalau itu sesuai dengan FirmanKu, itu yang
kamu lakukan.
Kesembilan, bersihkan perabot rumah. Kesepuluh,tingkatkan imunitas tubuh. Sebab tubuhmu
adalah bait Roh kudus.
Lakukanlah ini setiap hari niscaya kehidupanmu akan berubah.

(Kurang lebih tiga bulan berlalu pandemi covid 19 belum juga dipulihkan, Kartini datang dan mengeluh lagi kepada Tuhan)

Kartini : “Ya Tuhan mana janjiMu, sudah tiga bulan saya berusaha melakukan 10 treatmen, tetapi tetap saja
tidak ada perubahan, malah menjadi-jadi. Covid 19 itu tidak juga pergi dan kehidupan yang aku
dapatkan tetap saja, stay at home. Tuhan Engkau telah membohongiku.”
Tuhan : Tidakkah Kau lihat dan Kau rasakan apa yang terjadi pada tubuhmu? Sekarang tubuhmu lebih sehat,
lebih kuat, keluargamu lebih harmonis, mempunyai banyak waktu untuk bermain, belajar, dan
berdialog bersama semua anggota keluarga. Rajin berdoa, walaupun perayaan ekaristi menggunakan
live streaming. Saya berikir ini bukanlah masalah. No problem. Semakin rajin, kreatif,
proaktif, postitif, produktif, suportif, dan menjadi inspiratif.

Jika Tuhan tidak memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan, hal ini membuat kita lemah. Kita tidak pernah bisa sekuat seperti apa yang kita inginkan.
Ketika kita meminta kekuatan, Tuhan memberi kita kesulitan untuk kita hadapi. Itu membuat kita menjadi kuat.
Ketika kita meminta kebijaksanaan, Tuhan memberi kita masalah-masalah yang harus kita pecahkan. Ketika kita meminta kemakmuran, Tuhan memberikan otak dan kekuatan untuk bekerja.
Ketika kita meminta keberanian, Tuhan memberi kita rintangan untuk kita hadapi.
Ketika kita meminta Cinta, Tuhan memberikan orang-orang yang dalam kesulitan untuk kita bantu.
Ketika kita meminta pertolongan, Tuhan memberi kita kesempatan.
Kita tidak menerima apa yang kita inginkan. Kita menerima apa yang kita butuhkan.

Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.

Semakin BERGAIRAH kita dalam mengisi HIDUP, semakin banyak pula KEGEMBIRAAN yang kita temui, dan KEGEMBIRAAN itu adalah pintu GERBANG menuju KEBAHAGIAAN.
Ditengah wabah pandemi Covid-19 saat ini, kita terus berusaha untuk bahagia karena kebahagiaan adalah obat mujarab untuk melawan Covid-19. Temukanlah kebahagiaan itu.

Habis Gelap Terbitlah Terang
Selamat Hari kartini!

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button