cerpen

Karya-Karya SMP Negeri 4 Lembor (1)

Ilustrasi: kliping sastra

*Lelaki di Penghujung Senja

Oleh: Spenpat

Pada awalnya adalah waktu. Namaku Inem, seorang guru di sebuah daerah terpencil yang terletak diperbatasan . Aku berkisah tentang duniaku menjadi seorang pendidik yang mungkin berbeda dari kalian. Beberapa waktu ketika aku menyelesaikan masa kuliahku, aku mencoba mengikuti tes PNS.
Aku termasuk peserta termuda dalam kompetisi tersebut. Rasa pesismis selalu menghantui diri tapi itu tidak menarik jika tidak mencoba. Ternyata Tuhan baik ya. Aku lolos dalam tes tersebut. Jujur, saya memaknai semua yang terjadi sebagai bagian dari misi Tuhan.

Bulan Mei saya menerima SK dan Juni mulai bertugas di sebuah sekolah pada daerah terpencil. Wow,,,kehidupan yang sungguh menantang. Semua serba berkekurangan. Banyak yang mengatakan air menjadi sumber kehidupan dan kami harus berjalan menyusuri mata air yang terletak sangat jauh. Selain itu, hamparan tanah yang dirasakan seperti padang gurun yang hampa dan panas, dan ternak yang berjejal-jejal di jalanan menjadi sahabat untuk bersua.

Saya sempat kaget dengan pola kehidupan yang bisa dikatakan berbeda dari sebelumnya. Tapi aku pernah bermimpi untuk bisa menjadi bagian dari mereka. Merasakan bagaimana berjuang bersama asa melawan kegentiran hidup. Merasakan keseharian dalam ketidakpastian.

Terlepas dari problematika itu, satu yang pasti bahwa aku bahagia. Aku merasa menjadi sosok yang berharga bagi mereka. Berharga terlebih khusus karena aku bisa merangkul para pengais pengetahuan yang haus akan dunia pendidikan. Keterbatasan seperti melewati arung jeram sungai yang deras, jembatan selalu bergerak tak karuan ketika kita berjalan melewati sungai, atau perahu yang harus diatur posisinya supaya tidak terjatuh, dan binatang buas seperti buaya yang menjadi penjaga sungai yang dilalui tidak menjadi penghalang untuk bermimpi.

“Nak, kita memang berada pada situasi yang terhempas, tapi ingat bahwa kita jangan sanpai pupus.”
Berjuanglah bersama mimpimu dan yakinlah akan ada pelangi setelah hujan.

Kemarin rasanya terhempas seperti petir yang menjadi embel-embel kala hujan membasahi bumi. Sebulan telah berlalu dengan nyaman dan unik. Hari itu, aku mendapat tugas untuk piket di sekolah. Semua hal yang menjadi kewajiban piket akan menjadi kewajibanku. Ketika aku mengecek keliling, tiba-tiba satpam sekolah mendatangiku sambil berujar.

“Ibu Inem, sebentar sore buku kontribusi untuk daerah terpencil akan tiba di sekolah. Sambil memperhatikan satpam, saya menyanggahi dengan mengatakan “ baiklah pak, akan saya temui sebentar sore”.

Senja kembali menyapa dengan gaya khasnya. Tiba-tiba pintu rumah dinas diketuk oleh sesosok mahluk yang belum pernah kutemui sebelumnya. Sambil tersenyum dan pipi lesungnya yang mulai Nampak, dia menyapaku dengan mengatakan.

“halo”, itulah kata yang pertama. diucapkanny. Saya dari relawan contributor buku daerah terpencil. Mendengar hal itu, saya teringat pesan satpam sekolah tadi siang. Dengan sigap saya mempersilahkan masuk sambil mengatakan bahwa saya mendapat pesan dari satpam sekolah tadi siang.

Komunikasipun semakin asyik karena kami saling sharing tentang keinginan untuk berjuang memajukan pendidikan daerah terpencil. Banyak mimpi yang dilontarkan dan setiap kalinya berujung pada canda yang menarik.

Kami terhentak karena suara azan mulai bergaung kembali. Saya melirik jam yang menjadi saksi kami bercerita, tetapi tidak kompromi untuk setiap kalinya melaju sesuai koridornya. Hari mulai menunjukkan rutenya untuk beralih pada suatu situasi yang orang sering menyebutnya malam. Sosok lelaki yang singgah di ujung senja berdalil untuk segera bergegas pada peraduaannya. Sembari berpamitan. Sambil menyusuri setapak, dia mengatakan,

”terima kasih untuk menjadi seperti koresponden yang asyik. Setiap orang punya ruang, berekspresilah meskipun usahamu tidak dilirik seperti pelangi setelah hujan”.

Suara motor bututnya memberi tanda bahwa sesosok makluk gaib entah dari negeri mana akan pergi melanjutkan misinya.
See you again (entah kapan akan bersua kembali) makhluk senja, I hope kita akan bersua pada sebuah persimpangan untuk sekadar melanjutkan misi yang pernah tertinggal.

* Rumah Kita Ada di Sini

Oleh: April

Aku akan berkisah tentang dusunku. Bercerita perihal kisah klasik entah yang berujung sendu atau bahagia, tapi intinya aku bahagia berada di sini. Nama desa itu adalah poma, desa itu juga tempat tinggal aku waktu masih kecil, bermain dengan saudara-saudaraku dan teman-temanku, banyak kenangan yang tersimpan disana dan tak bias aku lupakan.

Pada suatu hari ada anak tinggal di desa yang sangat indah nan asri. Di desanya itu terdapat rumah-rumah yang dicat indah dan di depan rumah terdapat pagar dan bunga yang berwarna-warni sehingga menambah keasrian bilik berpenghuni tersebut.

Selain itu, desa itu ada memiliki harta tak ternilai yang merupakan sumber kehidupan yakni sawah yang terletak dekat dengan jalan aspal, Setiap siapa saja yang melihat pemandangan sawah yang sangat indah itu menjadi daya tarik sehingga siapapun merasa penciptanya antik. Ada burung-burung yang terbang disana-sini dan mengeluarkan suara yang indah menambah keantikan desaku.

* Aku Sang Pemimpi

Oleh: Getri

Namaku Getri. Saya baru saja lulus dari sekolah dasar katolik kaca dengan hasil yang cukup memuaskan. 3 bulan saya libur, saya dan juga kedua orang tuaku berencana untuk mendaftarkan saya di SMP Negeri 1 Lembor selatan tepatnya di Bonda.

Di Bonda, saya tinggal di rumah tanta. Mulai saat itu saya sudah tidak sabar lagi untuk pergi ke sekolah, akhirnya saya bertanya pada kakak sepupu namanya Santi.
“kapan mulai sekolah?” Tanya saya.
“hari senin 14, juli 2018”, jawabnya singkat.

Tiba waktunya , saya pergi ke sekolah bersama teman-teman . Waktu semakin berlalu sudah dua minggu saya pergi ke sekolah. Saya mulai merasa tidak nyaman dengan situasinya. Pada saat itu saya berniat untuk pindah sekolah, tepatnya pada tanggal 28 juli 2018. Saya meminta izin pada tanta, tetapi tanta merasa heran.

Tante tau apa yang saya rasakan, dan akhirnya pamit dengan mereka . Sampai dirumah kedua orang tuaku kaget karena belum sampai sebulan,saya ingin pindah sekolah lalu mereka bertanya tentang alasan saya. Dengan rasa takut saya menjelaskan semuanya, akhirnya mereka yakin dan mengabulkan keinginan saya.

Kedua orang tuaku memberikan izin utuk pindah di SMP Negeri 4 Lembor.
Waktu bergulir begitu cepat, tepatnya 09 Agustus 2018 adalah saya memulai cerita baruku di SMP Negeri 4 Lembor. Di sekolah bapak dan ibu guru serta teman-teman menyambut dengan sangat ramah. Terdegar bunyi lonceng pertanda semua siswa masuk kelas, saya mulai memperkenalkan diri dan mengikuti belajar.

*nantikan karya yang lain dari adik-adik SMP Negeri 4 Lembor.

Artikel Terkait

Satu komentar

  1. Teruslah berkarya ibu guru yg cantikku,,,,luar biasa ulasan kata demi kata sehingga menjadi sebuah kalimat yg penuh dgn aroma kasih dan sayang yg begitu tulus dalam menjalankan tugas dan kewajibannya didaerah terpencil ini….?????

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button