cerpen

Kau, Dia, dan Gelap

Foto: IDN times

Oleh: Maria A. Nurmayatil

Hujan tadi sore masih menyisahkan gerimis. Di luar tergenang banjir, sedang di sini tergenang kenangan. Di luar, gerimis membasahi ranting, membasahi daun sedang di sini membasahi pipi. Kemarin, pohon-pohon itu sempat merindukan hujan lantaran jiwa dan tubuhnya yang kering kerontang. Rindu akan hadirnya hujan telah lama ia pendam sama seperti aku yang merindukan waktu di mana kenangan itu tercipta.

Sama seperti hujan yang menyisahkan gerimis, demikian pertemuan itu, menyisahkan rindu yang entah kapan diberikan waktu dan ruang untuk menepi. Sama seperti pohon yang kekeringan merindukan air, demikian hatiku saat ini. Ah, brengsek, rindu ini tak punya akal, ia menyeret kembali memoriku ke sana, pada kenangan singkat yang kini menyita banyak waktu untuk melupakannya. Entah butuh waktu berapa lama, sungguh tak bisa kutebak.

Masih jelas terekam dalam memoriku, saat kita bercengkerama di batas cakrawala, di ujung senja yang masih sisa sepotong. Entah kemana sepotongnya lagi saat itu, aku tidak tau, kemungkinan besar telah ditelan awan lalu diberikannya gelap untuk dijadikan malam. Oh iya, aku lupa, sepotongnya telah diberikan pada Alina beberapa waktu lalu.

Kita bercengkerama sambil sesekali menyeruputi minuman kesukaan kita, kau dengan kopi pahitmu, sedang aku dengan teh tanpa gulaku. Kita bicara banyak hal. Dari hal yang absurd hingga ke hal-hal rasional. Dari hal-hal sederhana hingga ke hal-hal yang kompleks. Tidak jarang kita saling melempar tanya. Padaku, kau tanya banyak hal seolah-olah aku adalah mahkluk misterius yang tersimpan banyak jawaban yang tidak kau temukan pada mahkluk lain. Kebiasaanku yang lumrah kau anggap suatu hal yang aneh.

“Omong-omong, kenapa kau suka sekali minum teh tanpa gula ? tanyamu saat itu.
“Suka-suka saya” Jawabku singkat. Masih kuingat, itu adalah pertanyaan pertamamu yang kurasa masih ada pertanyaan lain setelahnya. Dan ternyata benar.

“Kenapa kau tidak minum air putih saja kalau kau memang tidak suka gula”. tanyamu lagi.
Sungguh, pertanyaanmu amat sangat tidak penting untuk dijawab apalagi untuk dijelaskan secara ilmiah. Aku rasa, kau tak perlu tahu tentang itu. Ini hanya menyangkut selera, bukan perkara besar yang harus kau usut untuk dicari tahu solusinya.

Aku lihat kau begitu berlagak sok tahu, kata siapa aku tidak suka gula? Minum teh tanpa gula bukan berarti aku tak suka gula, aku hanya tidak mau memperbiasakan diri dengan hal-hal manis. Sudah banyak hal manis yang telah kutelan dan berdampak buruk pada kondisi kesehatanku. Aku ingin semua yang terjadi baik-baik saja, datar-datar saja sama seperti teh tawar. Tak ada rasa, namun juga tak ada pengaruh.

Aku tidak suka kau menggelengkan kepala atas jawabanku saat itu. Kau tertawa sinis, sebagai wujud ketidakpuasanmu atas argumenetasiku. Apa sebenarnya yang harus kau tau? Itu adalah jawaban rill. Apa adanya tanpa menyebunyikan maksud lain.

“Bisakah kau sedikit lebih terbuka denganku?” tuntutmu saat itu.
“Maksudmu?” tanyaku heran.

Kau terdiam. Tak ada jawaban yang kuterima atas tuntutanmu. Terbuka dalam hal apa maksudmu. Tuntatanmu sama sekali tidak ada hubungannya dengan teh tanpa gulaku. Sungguh, kau buat aku menelan seribu satu tanya. Memang sedikit jenaka, kau pertanyakan kenapa tehku tidak pakai gula lalu kau jadikan sesuatu yang ruwet. Telah kujelaskan dengan mudah tapi kau tidak percaya seakan kau butuh jawaban lain yang lebih realistis.

Realistis yang bagaimana lagi yang kau mau? Orang-orang di luar sana yang telah menghabiskan waktu bersamaku sambil menikmati teh tanpa gula menerima alasanku ketika mereka tanya seperti itu, seperti yang kau tanyakan. Lalu, kau sendiri kenapa, apa yang membuatmu tidak percaya. Ingin sekali kulempar tanya padamu, sejak kapan kau gila? Tapi aku tak berani, aku takut kau tersinggung meski sebenarnya kau pantas menerima pertanyaan itu.

Perihal teh tanpa gula, menurutku bukan suatu hal yang penting untuk dibahas tapi ketidakpercayaanmu atas jawabanku yang membuatnya jadi suatu yang bermasalah. Bagaimana dengan kopi pahitmu? Bukankah itu juga tanpa gula, tapi aku tidak mempertanyakannya padamu, karena aku tau, ini soal selera, tak ada yang perlu diselidiki. Aku tidak ingin mengundang hal gila terjadi untuk kedua kali.

Tapi kalau boleh jujur sejujur-jujurnya aku ingin tanya, apa yang membuatmu tidak menyukai gula. Itu yang pertama. Yang kedua, kenapa kita sama-sama tidak menyukai gula? Terlepas dari menyangkut selera, barangkali kita sama-sama berangkat dari kisah pahit yang dulu terpaksa ditelan.

Barangkali kita sama-sama trauma dengan sesuatu yang berawal manis lalu berujung pahit nan pilu, barangkali kita sama-sama pernah terlibat dalam kisah asmara yang ternyata dibaluti dengan bumbu tak sedap, atau barangkali kita sama-sama pernah terjerat pada janji manis yang ternyata dibaluti dusta, atau…ah, sudahlah, skip saja tentang hal itu. Tidak penting. Sekali lagi, tidak P-E-N-T-I-N-G. Ini biar kujadikan rahasia hatiku saja, nanti kalau ditanya malah jadi pembahasan yang alot. Jangan sampai urat dan rahangku putus karena bahas soal itu.

Teringat lagi dengan pertanyaanmu berikutnya, masih tentang kelazimanku yang kau angggap aneh.
“Kenapa kau suka dengan gelap? Aku dengar dari temanmu kau amat suka berada dalam situasi gelap? Tidakkah kau takut?” tanyamu lagi ketika kau terbangun dari diammu.

Aku kembali heran dengan pertanyaaanmu, semuanya absurd. Tapi kau terlihat serius dengan pertanyaanmu. Apa salahnya kau pertanyaankan soal-soal yang sedikit rasional? Maksudnya yang enak dan nyambung untuk dibahas. Misalnya kenapa bisa terjadi gelap dan terang, atau kenapa gelap disebut malam, dan terang disebut siang? Itu kan enak untuk dibahas, jadi aku juga bisa menjawabnya dengan mudah “Buka dan bacakan saja Alkitab kejadian”. Itu kalau aku menjawabnya dari sudut pandang teologis atau kau bisa baca di buku IPA tentang rotasi bumi. Pertanyaanmu terlalu subyektif untukku. Itu hal yang amat sangat privatif.

“Apalagi yang kamu dengar tentangku dari teman-teman?” tanyaku balik saat itu.
“Tugasmu menjawab” ucapmu dengan datar sambil menyeruputi kopi pahitmu.
“ Apa penting pertanyaanmu kujawab?”

“Kalau kau tidak menjawab, aku akan bilang ke orang-orang bahwa kau adalah manusia gaib, manusia siluman, wanita setengah setan, wanita sihir…wanita aneh, kau mestinya hidup di zaman dulu, zaman di mana lilin dan listrik belum ada”.

Aku menatapmu dengan serius, tekanan darahku tiba-tiba naik mendengar ucapanmu yang amat sangat tidak beretika. Kau mengataiku sesuka hatimu dengan nada dan intonasi yang amat tidak enak didengar. Entah sadar atau tidak kau ucapkan itu dengan intonasi yang tegas dang tinggi, namun yang pasti hatiku sakit. Kau tebaskan harga diriku. Aku terdiam, kata-katamu seakan membius seluruh alat ucapku.

Jauh di dalam hatiku, aku persilahkan kau melakukan apa yang mau kau katakana pada orang-orang tentangku. Aku tidak peduli, kau tidak berhak mengetahui semuanya tentangku termasuk tentang gelap itu. Jauh sebelum aku mengenal kau, jauh sebelum aku menghabiskan waktu bersama kau, jauh sebelum kau membawaku di batas cakrawala itu, gelap telah memberikanku segalanya. Kau hanya tidak tahu, bagaimana aku selepas kepergiannya, tak terhitung lagi berapa kali aku beteriak memanggilnya pulang hingga akhirnya aku lelah, terlelap dan terperangkap dalam sepi dan tenang teduhnya gelap, tanpa kebisingan.

Kau tidak tahu bagaimana sibuknya aku menghitung hari, berharap waktu lekas berlalu dan membawa pergi kenanganku bersamanya. Kau tidak tau bagaiamana aku berusaha menenangkan diri dalam gelap ketika rinduku padanya semakin riuh, kau tidak tahu bagaimana aku tertatih menyebut namanya dalam doa di tengah kegelapan malam hingga akhirnya aku tertidur dan tidak menyadari hadirnya sang fajar. Ini berat, ini perihal hati yang terluka namun tetap merindu dan berusaha merawat kenangan yang pernah terjadi dengannya.

Bagaimana kau bisa merawat kenangan manis dengan kondisi hati yang terluka? Ini berat. Dan kau tahu? Aku butuh gelap untuk menepi dari semua kerinduan ini, aku butuh gelap untuk menyudahi kenangan ini. Dan aku, aku…aku juga butuh kau. Aku harap, dengan hadirnya kau, kenanganku bersamanya benar-benar usai dan kubungkus lalu ditempatkan pada ruang masa lalu. Aku butuh kau untuk memulai kisah yang baru. Aku berteriak dalam hati saat itu, besar keingianku untuk katakan semua itu padamu, tapi aku rasa percuma, kau tidak akan pernah mengerti. Kau akan terus menganggap bahwa aku wanita aneh, wanita sihir dan wanita apalagi.

Kau terlalu sibuk mengukur seberapa dalam rasa cintamu, rasa perhatian dan sayangmu padaku hingga tak tau bagaimana aku berusaha keras untuk mencoba menghargai perasaanmu itu tanpa harus menghadirkan masa lalu dan membandingkan kau dengannya. Bukankah itu akan melukaimu juga? Tak penting kau tanya ini, tanya itu, yang paling penting adalah bagaimana caranya agar kau mampu membunuh kenanganku bersamanya? Buktikan padaku bahwa tidak semua kisah yang berawal manis berujung pada kisah pahit.

Buktikan padaku bahwa tidak semua kisah asmara dibaluti bumbu tak sedap tapi dengan kesetiaan yang berujung pada kalimat sakral di hadapan Tuhan. Tolong bantu aku untuk bisa mengharagi perasaanmu, menebus masa lalu dengan cara memilikimu. Jauh di dalam hatiku yang amat dalam, aku juga ingin mencintaimu seutuhnya.

Ah …kenapa pula aku ini? Kenapa aku memikirkan kata-kata yang tidak sempat kuucapkan saat itu?
Sudah, tidurlah, rindu ini biar kita bahas pada pertemuan berikutnya. Aku tunggu di batas cakrawala. “Aku ingin mencintai seutuhnya”

Semoga pertemuan berikutnya kalimat itu aku ucap di hadapanmu tanpa kata ingin.
“Aku mencintaimu seutuhnya”, romantis bukan?
Sudah, tidurlah, mimpi manis menunggumu di ranjang.

Salam,
* Gadis Pemuja Gelap, Juli 2020

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button