Puisi

Kegaduhan Naluri Antologi Puisi Ingrida Astuti Lestari

Kegaduhan Naluri

Sembari melempar senyum
Kepada penghuni bumi
Elok berkaca pada air yang bergelombang
Sunyi nan gelap menyelimuti
Jiwa yang penuh kekacauan

Pikiran yang tak tenteram
Seolah-olah menyeretku
Meratap kepergian sebagian penghuni bumi
Ratapan dan tatapan dari jiwa
Menghilang tanpa jejak
Kembali memberi isyarat
Tanpa pengampunan

Entah ingin berceloteh tentang apa
Saat kebisuan melanda
Bagaikan larik menghantam jiwa
Memberi luka atas kekacauan
Sembari meneteskan kedukaan yang mendalam

Kini naluri jiwaku semakin terkurung
Dalam kekacauan yang penuh dengan kepiluan
Memohon ampun untuk kedukaan yang melanda
Mengakhiri perasaan penuh dengan kegelapan
Menjauh dari ketertawaan yang dilanda dengan kegilaan tanpa batas

Baca juga Hidup Mesti Berkencan Dengan Tuhan Antologi Puisi Andi Hotmartuah Girsang

Untuk Nana

Lambaian awan memberi salam
Mengucap kata dengan sambutan manis
Sembari mendekatkan diri dan berkata
Bagaimana kabarmu sepekan ini?
Lama tak jumpa lelah menunggu
Kata si rambut hitam

Untukmu nana
Kemarin hujan memberi salam
Namun tak kesampaian karena angin yang terburu-buru
Ahh, gurauan di malam gelap
Untuk apa kau dengar dengan bijak?

Untuk nana
Kata si rambut hitam
Aku putri dari petani
Ayahku buruh angin tak berpenghasilan banyak
Ibuku peramas tanah tak berpenghasilan emas
Namun aku mencintai setiap apa yang mereka miliki

Untukmu nana
Aku sekolah bukan kesombonganku
Karena ayah ibuku berpesan
Kelak gelap yang kami rangkai saat ini akan menjadi cahaya tanganmu
Tetesan atas pesan itu membuatku semakin pilu

Untukmu nana
Fajar tak selalu hadir dengan niatmu
Mendung juga tak akan memberi hujan
Jika engkau masih meragukan ketulusan
Dari yang menerimamu sampai yang meninggalkanmu
Gelas pecah menjadi serpihan
Belum tentu menjadi utuh

Untukmu nana
Kata si rambut hitam
Aku masih menunggumu
Di persimpangan janji
Tempatmu memberi harapan
Salam

Baca juga Tak Bisa Membohongi Rasa

Untukmu yang Bertugas

Salam padamu kekasih
Kini hujan kembali menyapa
Dan haripun akan mulai senja
Batin ini sudah tidak karuan berkata
Mendengar simpang siur yang begitu banyak tentang keadaan dunia kita saat ini

Aku berdoa di kediaman gelap yang sunyi
Sembari mengucap syukur atas kebaikan Tuhan
Hingga nafasku masih ada
Tidak lupa pula aku menyebut namamu
Yang sedang bertugas di keramaian dunia yang penuh kedukaan
Aku tahu kamu melakukan tugasmu tanpa memikir resikonya
Tetapi jiwa ini seperti tidak tenang harus merelakanmu bertugas dengan dukanya dunia

Hujan masih tak berhenti
Hati masih menangis
Melihat dirimu jauh dari pandangan mata
Tugasmu sangat mulia
Sampai celotehkupun tak kamu dengar
Aku tahu semua ini demi kebaikan
Tapi namamu selalu aku doakan

Berjuanglah
Berbaktilah
Karena semuanya akan
Memberi jawaban yang mulia

Baca juga Mencari Tuhan Dalam Wajah Sesama

Ingrida Astuti Lestari

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada UNIKA St. Paulus Ruteng.



Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button