cerpen

Kembali

Sinta yang begitu aku cintai, kini sulit untuk kupercayai lagi. Aku sangat membencinya dan butuh waktu lama untuk kumaafkan kesalahannya. Ingin sekali kutampar dan kumaki dia, sebab aku kehilangan kendali. Intensitas pikiranku telah berpusat pada masalah itu dan aku ingin mengusir semuanya dari hadapanku bahkan Sinta sekalipun.

            “Mendingan kau pergi dari hadapanku, sebelum aku berbuat sesuatu yang lebih buruk lagi.” Tetapi Sinta tak menghiraukannya. Dia menangis dan berlutut seraya meminta maaf di hadapanku, bahkan tangisannya makin parah sehingga ucapannya hampir tidak terdengar jelas. Kali ini dia tidak takut dengan kemarahanku yang dalam kata dan kesal. Kubanting pintu dan tak ada kata kutinggalkan kontrakanku. Amarahku mengamuk sampai tak sanggup kuredam dengan sedikit ketegaran. Dari pada aksiku melampaui batas kesadaran, kupaksakan diri untuk meninggalkan tempat itu dan Sinta.  

            Berbagai telepon masuk tak kuhiraukan. Tak lama berselang temanku datang untuk menghibur. Dia merasa prihatin dengan situasi itu dan ia berinisiatif membuka pesan masuk di hpku.

Baca Juga : Jalan Panjang, Antologi Puisi Wandro Julio Haman
Baca Juga : Perasaan Tumbuh Dengan Cacat Antologi Puisi Alfa Edison Missa

“Kak, ibu mohon pulanglah! Kasihan dia seorang diri. Dia tidak mendengar kami lagi. Kami takut terjadi hal yang tidak baik pada dirinya,” demikian isi pesan masuk dari si pemilik kontrakanku. Sebenarnya aku sungguh tidak mau pulang, tetapi temanku memaksa untuk kembali ke kontrakanku. Kepulanganku terlampau lambat. Sinta telah pergi entah ke mana. Menyesal tampak jelas membingkai hati dan parasnya ketika terakhir kulihat. Semuanya menjadi panik termasuk pemilik kontrakanku yang diam-diam telah mengikuti alur dramatis kisah asmaraku. Tak lama berselang temanku menerima info bahwa Sinta tengah dirawat di rumah sakit. Belum lama aku menikmati kemarahan justru rasa iba mendinginkan kembali hawa murka hati ini. Aku sadar telah memarahinya secara berlebihan bahkan tidak memberinya secercah harapan. Seketika itu juga, aku bergegas menemuinya. Kutatap dari kejauhan. Sepertinya dia sangat marah pada petugas rumah sakit yang tidak membiarkan dia untuk berbuat sesuatu. Pipinya yang cantik penuh dengan air mata sedang darah masih terlihat jelas di lengannya. Kutinggalkan ego demi ibaku padanya, mungkin aku bisa menjadi solusi. Lalu kutatap dekat-dekat, dengan senyum bahagia dia membalas tatapanku. ”Kak,” sapanya seakan memaksa mulut manisnya untuk berkata sesuatu kepadaku. Dia sulit membuka mulut dan melanjutkan kata-katanya. Tanpa ucapan kata, kupeluk dia dengan rangkulan kasih seyogianya romantisme petang hari di pantai.

Baca Juga : Nostalgia Alarm Tua
Baca Juga : Cinta dan Toleransi Dalam Kaca Mata Mahatma Gandhi Serta Relevansinya Dalam Membangun Kesatuan NKRI

1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button