Puisi

Kita dalam Gelap dan Terang Antologi Puisi Defri Noksi Sae

Jangan Pergi

Ketika buana membahana,

atas keeratan yang tak bisu, semoga tak berujung sembilu

Waktu berdetak, menunjukkan ambisinya, semoga aku dan kamu sehidup dan semati, janganlah engkau pergi

Janganlah engkau pergi kala lingkungan merasa nyaman, insan seraya memuji dan bersuka ria, semoga persahabatan ini kekal

Berbuat baik hingga kebajikan itu hidup, meninggalkan nama saat raga kita diambil oleh cacing-cacing tanah

(Kefamenanu, 13 Desember 2020)

Baca juga : Kandang Natal Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Kita dalam Gelap dan Terang

Gelap dan terang berperang dalam ajang kekuasaan dunia tanpa sekat-sekat yang membantai kehadirannya, kita tak berpihak kepada siapa-siapa

Gelap dan terang dijangkau dalam imaji dan mimpi, kadang realistis memberi dalam wujud nyata, dan kita dituntut memilih

Kedaginganku lemah, sahabat. Engkau memberi arti dan mengalihkan gelapku dalam jalan kedamaian yang hakiki, seraya nasehat sebagai bingkisan

Hidup bagai lingkaran tanpa penghujung, tanpa tembok penghalang dalam bersikap baik, semoga kehidupan aku dan sahabat membedakan gelap dan terang kehidupan

(Kefamenanu, 13 Desember 2020)

Baca juga : Bagaimana Aku Menelanjangimu Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Gerimis Sepanjang Hidup

Gerimis mengiris tiris-tiris kalbu
Menitipkan rilis-rilis barisan ulasan
Sebuah alasan kehidupan
Menciptakan gerimis-gerimis yang mencandu

Tak habis gelap selepas fajar mengajar
Tak mati terang sesudah senja bertengger
Tapi pertengkaran hadir sejajar
Menyelimuti atma dan membuat geger

Tanpa harapan mati asa
Bak dewa Yunani nan perkasa
Mengangkasa dalam jagat kehidupan
Tapi sungguh, itu sebatas ilusi yang menumbuhkan kehampaan

Serupa gerimis mengahalau mimpi
Menjebak tapak dalam api
Semoga batin dan iman tak bermanipulasi
Menerima suap dari halusinasi

(Kefamenanu, 16 Desember 2020)

Baca juga : Kegaduhan Naluri Antologi Puisi Ingrida Astuti Lestari

Kematian

Kematian lebih dari mematikan, kedagingan merinding
Memikirkan tiada jeda dan membelah jantung
Mengiris suka kala dunia tersenyum dan gemilang
Tak bisa pergi dari duka yang menggiring

Kebahagiaan pun tergelincir dalam serpihan-serpihan neraka
Nan menghantui batin, lalu merestui nestapa
‘Tuk mendominan dalam gubuk-gubuk bahagia
Dan terganggu sepanjang nafas belum dicopot

(Kefamenanu, 17 Desember 2020)

Baca juga : Hidup Mesti Berkencan Dengan Tuhan Antologi Puisi Andi Hotmartuah Girsang

PUISI YANG BERDUKA

P uisi mewakili para imajinasi
U lurkan sensasi nan mendominasi
I si batin dan jiwa para insani
S ampai bayang-bayang itu pun nyata
I maji tak lagi bersemi bak musim bunga

Y ang Mulia, hati manusia dalam petaka
A nak-anak manusia dalam nestapa
N eraka menyelimuti sukma
G eger sudah sukacita ini tanpa bahagia

B esar harap hanya dalam hampa
E ntah doa-doa tersesat, dan
R ela dibajak dalam bejat
D erai kelam kini menghujat
U luran doa terpanjat
K epada tuan tanpa tujuan
A kankah duka tiada itu tiada mati?

(Kefamenanu, 17 Desember 2020)

Baca juga : Tak Bisa Membohongi Rasa

Kelam

Kelam menyelam
Hendak menganyam
Senyum nan bijak
Ke tanah nan fasik

Manusia bisu
Tiada mampu
Lumpuh dan buntu
Ke dunia hantu

Kelam sungguh mengiris
Air mata bak gerimis
Bahasahi tanah dengan sesal
Sesatkan umat penuh kumat nan bual

Hidup serasa mati
Duka tiada menepi
Liang kubur menghampiri
Serta pulas mengabiri

(Kefamenanu, 17 Desember 2020)

Baca juga : Aku Mencintainya dalam Diam

Beban

Beban membebani jiwa
Lamban dalam senyap
Sebab jiwa dan raga lembab
Setelah dihujani derasnya beban

Aku berperang dengan waktu
Kala remaja terdekap paksa
Oleh usia nan egois
Serasa hampa, lalu ku menangis

Bak puisi ini tercipta
Tak ada gempita
Tiada suka menggema
Nan menggambarkan sebait skema suka

Hari-hari terisi gemercik
Cacian nan merakit
Ke mahligai hati penuh sakit
Bak belati nan merabik-rabik

(Kefamenanu, 17 Desember 2020)

Baca juga : Senja di Oesapa Berserta Kenangannya

Menolak Takdir Terakhir

Menerima takdir
Dan netra kian berbinar
Bak mentari bersinar
Menghangatkan segala bilur

Takdirku adalah hidup dan mati
Tak sempat berfikir
Bahwa buana akan dihuni
Bagai kembang nan selalu mujur

Tak sempat terlintas
Kematian dalam baluntas
Batin dan otak tak lunas
Dari takdir terakhir dengan lugas

Kelahiran itu sang kehidupan
Dan esok, badaniah hanyut dalam kematian
Kini gerogi segala bulu badan
Lalu menolak takdir terakhir

(Kefamenanu, 17 Desember 2020)

Baca juga : Hijabmu dan Rosarioku Dalam Cinta yang Esa

Gelisah

Gelisah terkisah
Berkisar
Seperjalanan nafas
Beringas

Enggan menilai
Prasangka lalai
Dari balai-balai
Mahligai hati

Gilisah itu biasa
Mungkin bisa binasa
Tapi masih berdaya
Memberi swadaya

Tak dapat lari
Juga bersembunyi
S’bab bukan ilusi
Nan hadir dalam imaji

(Kefamenanu, 20 Desember 2020)

Baca juga : Mencari Tuhan Dalam Wajah Sesama

Hujan Duka

Hujan duka
Mengalirkan luka
Basahi nuansa suka
Dibuana hingga buta

Hujan merajam
Butir-butirnya tajam
Bilur-bilur dianyam
Di dunia kelam

Air mata ini tulus
Basahi jalan tak lurus
Jalan hidup ini tak mulus
Juga cerita yang mulus

Adalah kematian yang hidup
Menelusuriku hingga senyap
Disini, tanpa sayap-sayap
Aku kini duduk meratap

(Kefamenanu, 20 Desember 2020)

Baca juga : Matinya Veronika

Hidup yang Fana

Hendak kemana
Egoisme itu berkelana?
Seindah bianglala
Pun mati dalam gelap

Kita adalah api lilin
Yang sarat artian
Baik hidup pun kematian
Lalu mati diterpa angin

Bak hidup yang fana
Tiada lilin yang mulia
Mungkin aku dan kita
Adalah butiran dosa

Diberi kesempatan
Tanpa kekekalan
Dan ketenangan
Pula keabadian

(Kefamenanu, 20 Desember 2020)

Baca juga : Renungan Hari Minggu Adven Ke-IV

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button