cerpen

Kopi Ibu

Foto: Liputan6.com

Secangkir kopi mampu meringkas segala jenis keresahan dan merangsang pikiran. Kopi dengan aromanya yang sangat aduhai membangkitkan hasrat bagi setiap pecandu kopi. Kopi memang menyajikan kenikmatan sendiri untuk setiap penikmatnya. Kebanyakan orang, khususnya laki-laki, kopi selalu memiliki “teman” yaitu rokok. Tapi tidak selamanya laki-laki pecandu kopi itu juga perokok. Memang setiap pecandu kopi memiliki persepsi tersendiri tentang nikmatnya kopi. Ah, berbicara tentang kopi pikiranku melayang jauh mengenang tentang dia dan kopi racikannya.

Sejak kecil saya sudah terbiasa minum kopi. Baik kopi pai,t maupun kopi yang rasanya manis. Setiap pagi ibu selalu menyajikan kopi untukku baik sebelum maupun sesudah sarapan. Waktu itu saya belum mengerti mengapa beliau selalu melakukan hal itu. Saya hanya mampu terbiasa dengan apa yang beliau suguhkan. Saya hanya menikmati tanpa pernah mencoba berpikir maksud dari secangkir kopi itu. Pada waktu SMP ibu masih melakukan hal yang sama setiap kali saya pulang libur dan itu pun terjadi juga sampai saya menyelesaikan SMA.

Kopi buatan ibu rasanya sangat jauh berbeda dengan kopi racikan orang lain. Saya sering bertamu dan ngopi di rumah tetangga, namun rasa kopi buatan ibu tidak ada di sana.

“Nak, kopi dapat membuatmu semangat dalam melakukan apa pun termasuk saat engkau baru menyelesaikan pekerjaanmu.” Pesan ibu sebelum saya mereguk kopi buatan beliau. Hal itu memang terbukti dan saya benar-benar merasakannya setelah mereguk kopi buatan ibu. Namun apalah daya, sudah empat tahun saya tidak pernah merasakan kopi buatan ibu. Kopi memang sejenis minuman yang memberi pengaruh tersendiri bagi tubuh. Selain sebagai penyemangat, kopi juga dapat melahirkan sejuta inspirasi. Hal ini tidak dipungkiri, karena sebagian orang sebelum melakukan sesuatu harus minum kopi terlebih dahulu. Ayahku salah satu dari mereka semua itu. Sebelum berangkat kerja, ibu selalu menyajikan kopi untuk ayah dan itu ibu lakukan setiap pagi. Sekali lagi saya katakan, kopi mampu meringankan sebagian beban dalam hidup. Selama di tanah perantauan saya selalu minum kopi tapi rasanya sangat berbeda.

Waktu itu saya sempat menanyakan kepada ibu, kira-kira apa resepnya sehingga kopi buatan beliau sangat berbeda dengan kopi buatan mantan saya. Dengan senyum khasnyaibu menjawab pertanyaan saya,
“Nak, Ibumu tidak memiliki resep seperti dokter untuk pasiennya.” Tapi jawaban ibu belum sepenuhnya menjawab pertanyaan saya.
‘Ibu, mengapa kopi buatan Ibu rasanya sangat berbeda dengan kopi buatan tetangga dan mantan saya dulu?”

“Nak, setiap orang yang membuat kopi pasti mereka memiliki takaran tersendiri baik kopinya maupun gulanya.”

“Apakah karena takaran itu menyebabkan rasanya berbeda?”

“Benar katamu, nak. Ibu juga tentunya memiliki takaran tersendiri dan itu berbeda dari orang lainnya.”

“Ibu, bisakah aku mengetahui takaran kopi dan gula yang Ibu racik?”

“Selain takaran itu, Ibu juga perlu memberitahukan kepadamu, bahwa ada hal yang lain mengapa Ayah dan engkau selalu merasakan hal yang berbeda ketika menikmati kopi buatan Ibu.”
Aku semakin penasaran, kira-kira apa yang mau ibu sampaikan.

“Nak, engkau sudah dewasa. Memang sudah saatnya Ibu memberitahukan kepadamu, selain soal takaran gula dan kopi yang paling penting dalam membuat kopi itu adalah ketenangan batin,” kata ibu,
“kita tidak boleh terburu-buru untuk melakukannya.” Ibu sedikit menjedakan pembicaraannya. Saya mulai bingung. Apakah pada saat kita membuat kopi harus tenang seperti yang disampaikan ibu? Ah … ini tidak mungkin. Saya mulai meragukan resep dari ibu.

“Nak, dengan ketenangan, kita mampu menyajikan kopi untuk siapa saja dengan baik.”

“Apakah ada hal lain selain ketenangan seperti yang disebutkan Ibu tadi?”

“Ini yang terakhir, Nak. Saat Ibu membuat kopi untuk Ayahmu dan kamu, Ibu selalu memasukkan 4 resep ini, yaitu masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan kasih sayang. Itulah mengapa kopi buatan ibu mengandung rasa yang berbeda dan kenikmatan tersendiri.”

‘Mengapa harus dengan masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan kasih sayang?” tanyaku.

“Nak, kamu sendiri yang akan menemukan jawabannya nanti.”

Genangan kenangan menggantung di pelupuk mataku. Ibu, belum kutemukan jawaban dari pertanyaanku. Engkau terlanjur berpulang sebelum aku berhasil mengorek rahasia kopi racikanmu. Kini hanya ada aku dan ayah menikmati kopi masing-masing. Diam seribu bahasa, enggan berkomentar tentang secangkir kopi yang tidak seperti dulu lagi.

*Tulisan ini pernah muat di media online sorotntt.com.

Waldus Budiman
Alumnus Filsafat Ledalero.Tulisannya pernah dimuat di Flores Pos, Pos Kupang, dan beberapa media online.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button