Puisi

Kumpulan Puisi Indrha Gamur

Selepas itu biarkan aku menidurinya sekali lagi,
Aku ingin malam paling anjing yang dia miliki dari padaku

(Indrha Gamur)

Nekat

Kini puisi itu berantakan dalam dada
Begitu sulit untuk mengatur keberadaan nya.
Mendeteksi segala aksi yang merampas segala suka.

Malam terlampau lebam
Mengolah kata, rasa juga kita, barangkali.
Begitu banyaknya catatan kaki
Yang menyebabkan tertikam kelam

Kalau hanya kaki yang terantuk penat
Kenapa mata, sulit untuk menangkap cahaya.
Kalau hanya rindu pada pulang
Kenapa pula pilihan menangkap daku pada kamar pelik?

Ingin kuhabisi dengan sejumput marah
Namun, kuberdiri sendiri di sini
Memisahkan duri dari kisah itu.
Walau tertusuk, kepala sudah terlalu keras

Sebenarnya aku tak ingin menulis terlalu dalam
Namun semakin kupendam.
Dendam pada waktu semakin terasa gempurnya.

Demi rasa yang selalu kuhatur baik
Aku tidak tau bagaimana cara memintal caci maki ditiap lirik ini.
Jika ada, biarkan dia melayang ke atas permukaan

Waktu
Beri aku waktu menamparnya sekali saja,
Setelah itu, aku ingin menyetubuhinya berkali-kali
Aku ingin malam paling anjing yang dia dapati dariku.

Tuhan,…….
Biarkan cambuk itu berlipat ganda.
Sebab layu dan debu akulah di mata-Mu
Biarkan kau menidurinya malam ini
Sekali lagi. Ini terlalu nekat, lekat tanpa pekat

(Surabaya, November 2020)

Baca Juga Perpisahan Itu Menyesakkan, Bukan?

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button