Puisi

Kumpulan Puisi Patrik Poto

Kudengar siulan burung-burung mengantarku

Pada balada gembala yang siap kudengung pada harapan yang berceceran

Di sudut altar suci kuselipkan sekuntum mimpi yang masih kabur

berharap kau memungutnya dari tangan hina ini.

(Patrik Poto)

Rindu Tak Bertuan

Semenjak pagi mengetuk pintu gelapnya malam
Aku bagaikan tuan rumah yang lupa bahwa pencuri akan datang
Hati terasa kosong tak beruang
Dan semuanya terasa hampa bagaikan kecupan tak berasa

Baca Juga Puisi-Puisi Sari Yovita

Pagi mengajakku untuk bangun dan bergegas
Membuka kain jendela sembari mengantar cahaya pagi
Pada peraduan rumahku yang sudah dipenuhi rindu.
Rindu itu masih terbungkus hangat dalam balutan selimut yang hangat

Baca Juga Puisi-Puisi Yohanes Mau

Cobalah kau temaniku di pagi ini agar aku tak dilacuri lagi
Pada sebuah bayangan yang merasuki ku saat aku bangun
Bolekah kau duduk sembari mendengar nyanyian rinduku
Yang masih tak terpampang jelas pada malam

Dalam hangatnya balutan pagi berselimut kabut
Aku hanya ingin secangkir kopi setia menunggu sampai kudapati ampas
Dan saat kuhirup aroma kopi yang khas dari dapur
Aku tambah betah pada peraduan dan sambil berpikir
Mengapa rindu yang kutiduri dalam bayang tak lekas mati

Baca Juga Kumpulan Puisi Patrik Poto

Setelah secangkir kopi kuhabisi pada dinginya kabut
Aku menatap padam tak terarah
Sebab aku tak sadari bahwa aku hanya ditemani sunyi
Yang menatap hampa tak berbising pada jendela rumahku.

Senja Yang Menghanyutkan

Saat senja mengukir bibir langit di sore itu
Kulihat ada percikan tinta yang meluap dari tangkai mulutnya
Yang mungkin tak terlintas pada peraduan mereka
Sebab cahaya telah dibawa oleh malam yang menjemput senja

Perlahan aku meraba-raba pada saku jaketku
Ku ingin mengapai sebuah pena lalu mengambar pada secarik kertas
Yang mulai usang agar kau tak terhimpit dalam kebingungan
Sebab aku telah dibawa mimpi ke negeri yang jauh
Dan melangkah pada bibir pantai yang membuat laut menghapus jejak.

Baca Juga Puisi-Puisi Steve Marten

Silentium Incarnatum

Di antara bangku panjang ini ku katupkan seribu kata
Aku hanya tertunduk sepi sembari mengingat semuanya
Aku adalah keheningan yang merasuk dalam jejaknya
Meski aku tahu semua tak akan terkabar pada wajahnya

Baca juga Kumpulan Puisi-Puisi Alexander Wande Wegha

Di atas kursi panjang ini juga, aku duduk menatap heningnya gereja
Semua terasa bisu pada ruang yang begitu megah
Kudengar siulan burung-burung mengantarku
Pada balada gembala yang siap kudengung pada harapan yang berceceran
Di sudut altar suci kuselipkan sekuntum mimpi yang masih kabur
Dan berharap kau memungutnya dari tangan hina ini.

Patrik Poto (Foto/Dokpri)

Penulis berasal dari Doka-Mataloko

Dan sekarang sedang menempuh pendidikan di STFK Ledalero


Artikel Terkait

Satu komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button