Puisi

Kumpulan Puisi Patrik Poto

Dan, dari jauh kuhanya mampu menetap, tanpa sepenggal kata

Dan kecupan hangat dari bibir pena yang mengeja kata untukmu

Ahhh, sedalam itu

(Patrik Poto)

Pemungut Bayang Senja

Di sela bayang-bayang mimpi yang terus mengadu
Pada sepercik sinar yang melambai masuk
Aku sibuk merayakan jejak pada sepenggal lara
Yang tak kunjung pergi terjilat waktu

Adalah bayang yang tak pernah merekah
Setelah dihantam amukan gelombang senja
Dan aku dari tadi hanya bersandar pada sejengkal kursi tua
Yang sebentar lagi rapuh pada pijaknya

Dari jauh kulihat lambaian senja mulai nampak
Seakan perlahan menjadi pertanda perpisahan pada waktu
Dan aku hanya ditemani secangkir kopi
Yang setia merawat hangat pada aroma khasnya
Namun perlahan mulai merasuk pada jiwaku

Dalam bayang senja kutemukan sepijar cinta
Yang kau tanggalkan pada mulutmu
Sewaktu kau ucapkan kata perpisahan pada lorong waktu
Dan dari jauh ku hanya mampu menatap tanpa sepenggal kata
Dan kecupan hangat dari bibir pena yang menulis kata.

( Ruang sunyi, 28-10-2020)

Baca Juga

Puisi-Puisi Steve Marten

Baca Juga

Puisi-Puisi Sari Yovita

Musim Kembali Kelabu

Kisah di bulan itu dan pada tahun yang telah berlalu
Membuat kata seakan mati pada pulpen
Dan hujan mengering pada tanah yang haus akan rindu

Kutatap dalam bayangku, dan kuraih sebuah jalan
Jalan yang merangkak menghampiri peraduanku,
Yang sudah kutitipkan pada gerbang rahasia
Dan kisahmu telah kularungkan pada sebatang pena hitam
Yang akan kukisahkan sebagai musim yang kelabu

Pada musim ini, aku telah berjalan terengah-engah
Tatkala aku mengejar dalam hari-hariku
Yang tak akan bisa kukisahkan padamu
Tentang setiap setetes air mata yang menetes dan membasahi
Setiap jejak pena yang sibuk berkisah

Hitam putih hidup akankah kuwarnai dengan noktah-noktah tinta
Dan haruskah aku berdengung pada mimpi yang kutemui di sudut bilik kota.

Ah, malam hampir menyapa fajar di musim kelabu
Akankah kubiarkan malam menjilati luka pada lorong yang akan dilewati sunyi
Atau, aku harus berjaga-jaga sampai katup mata terbuka menyambar pagi.

(Mataloko,26-01-2020)

Baca Juga

Aku Ingin Tahu (Kumpulan Puisi Adel Chaet)

Baca Juga

Blokir Maling Dengan Pendidikan Keteladanan

Secangkir Kisah

Saat itu, kita duduk saling beradu pandang
Kau mulai buka dan menyuguhkan cerita pada sejengkal meja
Yang kita gandrungi.

Di sudut bangunan tua itu hanya ada aku dan kamu
Dan kamu nampak serius menatap setiap kata yang kau ucapkan
Sampai aku lupa bahwa kopiku mulai dingin diterpa angin.

(Patrik Poto|penulis berasal dari Doka-Mataloko sekarang menetap di biara Scalabrinian-Maumere)


Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button