cerpen

Lelaki Rahasia

Foto: Pinterest.id

Penulis : Hams Hama

Kurindu kau kecup sepiku. Terlalu lama aku menggantung harap di bibirku
Jika aku memang pemula, lepaskan saja. Sejadahku saat subuh purna
Kurindu kau peluk diamku ini. Kala pendar dan padam nyalaku
Bangun setiap lelahku menanti
Dalam syair lirih tentang lupaku
Seperti esok yang enggan kuulang
Berharap kau kecup diamku:
Akankah fanaku purna seketika?

”Tanganku ingin terulur,maukah kau menyambutnya? Fanamu tak langsung musnah, namun pasti akan terbang perlahan bersama mentari walau perlahan tinggal kompromi saja pada sang waktu” komentku seadanya.
”Ah lagi-lagi, akankah tangan itu mengepal, bangun letih itu? Setidaknya ia memahaminya untuk kemudian ia sepakat” jawabnya kilat.

”Jika uluran tangan masih membuatmu takut dalam kebingungan bagaimana dengan rangkulan? Ya rangkulan yang hangat” lagi-lagi aku membalas seadanya dengan sedikit mulai berani bercampur deru gugup yang menggemuruh melihat jawaban selanjutnya.
“Ah jauh melampaui takut. Tangan saja sudah membuka jalan. Apalagi dengan rangkulan itu, masihkah ia milik kita? Ataukah ia hanyalah oase khayalan? Setidaknya bukan”
”Rangkulan ini kini menjadi tanyamu? Belum ada si pemilik mutlak, jangan ragu. Bayangnya pun belum kulihat. Jadi tangan ini tuk bulir kristal pipimu dan rangkulan tuk pundakmu yang mulai terkulai. Maukah tersenyum setelahnya?” aku menjadi sedikit bebas. Lantunan katanya benar-benar syahdu. Kukira ia memahami maksudku bahwa aku memang masih single.
”Sungguh, akankah aku jadi empuhnya kata atau memang sebatas abjad ataupun aksara buta, senjata jauh kita? Dan aku mulai ragu dan biarkan tangan itu bekerja, melerai setiap detik simponi kesendirian ini”.
”Abjad yang membentuk kata? Jadi biarkan waktu yang menjawabnya. Sehingga ragumu nanti terbunuh dengan manis ”
”Ah…amin saja akhir mengguyur bibir ini tanpa ragu”.
”Dan amin itu semoga berangkat dari senyummu” balasku dengan senyum kebebasan.

Kututup face-bookku. Bergelimang tanya sejadi-jadinya membanjiri akalku. Seakan tak terhabiskan dan tak terhenti. Lelaki yang memiliki senyum manis itu melerai segala kecurigaanku pada setiap lelaki yang selama ini kuanggap perayu dan pembohong. Yah, ini benar-benar gila. Ruang koment pada statusnya menjadi ruang yang tak terlewatkan bagiku. Dan aku benar-benar tidak puas dengan segala responnya. Renyah dan lincah.

Malam kini tak lagi bisa membenamku dalam lelap. Aku tak lagi sabar untuk kembali menatap senyumnya. Lagi aku ‘menghijau’. Berharap ruang koment pada statusnya kemarin muncul. Ah, betapa bergetar hati ini ketika pria yang kuharapkan kali ini nongol dengan tanda merah pada kotak pesan masuk di facebookku.
“Makasih utk edisi likenya. salam kenal dan tabe wie” ”Ioioio,kae makasih untuk perkenalan renyah ini. Hehehe”

”Maaf mengurangi kadar renyahnya, hanya saja lupa belajar dari jawaban tabe wie. Jadi dengan bahasa pertiwi saja. Selamat malam, hihihi”
”Keren, setidaknya mengurangi rasa lupa.Ternyata kita masih jadi pelupa. Hehehe. Maaf kk, saya harus menyapa kk apa di dunia baru kita. Saya lebih suka panggilan kesayangan. Maaf kepo”

”EDA. Yah itu jadi panggilan sayang semua orang. Hanya tiga huruf. Jadi lupamu, lupaku takkan kumat. Lalu apa sapa teranggun dan teramat tuk sahabat baruku ini?”
”EDA nama yang amat mudah untuk selalu dikenang, ma kasih ka Eda. Kalau aku bebas kk. Apa saja yang penting tujuannya untuk saya”.

”Bukankah timbul ketidakadilan disana? Kini aku harus berpikjr keras sehingga sahabatku punya sebuah nama khas untukku. Hufff sungguh tak adil”.
”Oh, sungguh! Okee namaku Khemok. Setidaknya bisa dieja. Maaf untuk ketidakadilannya. Salam sehat dan semangat untuk keluarganya di sana”

Rupanya dia malu dengan sikapku yang langsung protes. Sehingga ia pulang tanpa pamit. Tapi jujur caranya membuat tanya kembali mengumbarku tentangnya. Ah, dasar laki-laki.

Berkali-kali dan semakin menjadi-jadi aku sudah akrab dengannya walau sebatas maya. Nomor hp sudah tidak menjadi bahan pertimbagan ketika si pria Manggarai itu memintanya. Jujur aku merasa betah akhir-akhir ini di mata laki-laki karenanya. Senyumnya meneduhkan. Katakatanya berdaya. Meski ia banyak diam saat kutelpon. Ah persetan. Yang terpenting adalah aku merasa bebas dari kecurigaanku pada laki-laki terutama pada ayahku yang meninggalkan aku bersama ibu. Sungguh dia lelaki yang masih menyimpan seribu dan berjuta harap dalam hidupku.

Perempuan pencuri sepi
(Untuk:E)
Senja itu kau turun basahi rinduku yang usang
Lulu pelan tanpa peduli kau curi diamku. Hingga kita berpaut memikul sepiku Bermula kau tanya sejarah sembari lepas gelagak tawa yang mengoyakkan sepiku
Untuk kemudian kita sepakat berutang janji.
Yah janji. Bukankah demikian?

”Wah sepertinya sosok pencuri sekaligus pembunuh. Kenapa ia curi sepimu? Bukankah kau tumbuh dalam sepi itu? Lalu janji bersama E sedang ditapaki bukan? Ah, kenapa kini E jadi sosok multitafsir? (ketauan terlalu banyak koleksi B). E-mu sengaja diam, biar kau temukan inspirasimu sehingga ia lumpuh dalam tutur lidahmu. Bukankah kau yang memintanya? Karena katamu kini terlalu banyak tanya bermunculan hehe”. Lagi-lagi aku menjadi orang pertama yang koment Statusnya. Kali ini aku menduga jika inisial E dalam statusnya adalah diriku. Dan aku benar-benar terpancing, entahkah curigaku benar atau masih ada kemungkinan lainnya yang mengganjal. “Oh, sepertinya lagi dihujani kata. Dan aku menyukainya”.

“Ah, aku jadinya tak berani mengadu segala. Biarkan pencuri itu adalah pencuri yang sejati”
”Ah kenapa takut? Ini tuturmu dan bebas kau tunjukan pada siapapun. Senyum ini selalu mengembang jadi santai saja” jawabku menyakinkannya.
”Yukk mari kita diam. Dan biarkan semuanya membatu. Jadikan segalanya mengawan. Biarkan dia sendiri menjadi hujan yang tak bertepi”
”Diammu itu penuh makna dan mengalir banyak keindahan. Tapi jangan ajak aku untuk berdiam. Sedikkit menakutkan untukku” selaku.

Sejenak ia bungkam. Barangkali ada wanita lain hingga ia sudah melewatkan Waktu lima menit untuk menjawab komentku. Aku kini menimbun curiga dalam hati.
”Hahaha”
Diam itu adalah harta. Jadi kembalikan sepi yang telah hilang”
”Ahaaa jadi gelak tawanya si E harus pergi agar sepimu kembali?”

”Yaa, kukira begitu. Biarkan itu berjalan apa adanya. Hanya saja jangan biarkan kekosongan melampaui kekosongan itu bukan?”
”Kalau sepi harus kembali maka gelak tawa harus minggat?”
”Yah, biarkan saja sepi itu ada agar tetap tercipta gelagak tawa yang rencah-renyah”
”Ah itu tidak mungkin. Tawa tak mungkin lahir dalam sepi.” ”Aih itu bisa juga. Tinggal kita memanfaatkan sepi”

“Tidak bisa. Titik”. Aku mulai tersinggung. Karena aku selalu terbahak-bahak sejadi-jadinya jika nomornya kuhubungi. Ini aneh. Disatu sisi Khe adalah sosok yang menyenangkan dan ramah, disisi lain sosok yang menakutkan. Karena selalu saja diriku terpengaruh dengan segala ucapannya. Aku benar-benar lemah dihadapan lelaki sepertinya. Ah, kacau.

Lebih kacau kini. Dua minggu terjalin komunikasi bersamanya. la selalu memujiku sebagai wanita yang termanis yang dijumpainya dalam hidup. Tak peduli rupaku yang kental Alor juga sikapku yang kadang keras dan cerewet padanya. Semenjak ditinggalkan ayah di Kupang bersama ibu aku semakin galak dan cerewet pada laki-laki di kampus semasa kuliah. Khe menjadi sosok yang menghadirkan masa laluku yang penuh bercucuran air mata. Namun juga dia bisa menjadi obat yang menyembuhkanku pada masa laluku meski itu sulit.

Di bumi kopi dan kota dingin ini aku menyambung hidup setelah bertahun-tahun kutinggalkan ibu di Kupang. Tak terasa gelar cumlaude kuperoleh di tempat yang sama ini. Namun apa daya gelar cumlaude tak menjamin hidupku. Aku masih saja menjadi pengangguran di Kota Dingin, bumi kopi ini untuk tahun yang kedua ini. Aku tidak punya tempat di tanah orang untuk menyambung hidup. Lagi-lagi Khe menyemangatiku untuk tidak menyerah pada keadaan. Dan kau tahu ia menjadi priaku kini. Tak peduli dengan cerewetku. Tak peduli dengan masa laluku yang kelam. “Kaulah wanita yang termanis yang pernah kukenal Ed, tak kupeduli rupamu, apa pun tentangmu” demikian ia mengirim pesan saat awal September cinta itu bersemi. Hahaha.

Jauh dimata itu jatuh katamu
Mengurai rinduku tak ujung-ujung
Hanya saja aku tak sanggup menakar-menimbang
Lalu lekas lupa
Seperti anggapmu aku adalah priamu

Setelah kuujar ucap
Bukan lagi sekedar menimbang hamp
Hanya saja aku takut: Mungkinkah itu?

”Dan rindu di sini si pembunuh tanpa rupa yang sedang mencekikku perlahan. Akankah priaku menyaksikan aku terenggut? Jika takutmu hidup. tak bisakah kau bunuh dengan senyumku? Ataukah?” kali ini statusnya tanpa judul.
”Ah, terlalu muda dan mungkin terlalu dini ia menghampiriku. Adakah itu adalah sebuah prasangka kematian hingga harus terenggut?

Setidaknya bukan. Biarkan saja panah kata itu meleset tembusi ruang kerinduan itu”.
”Bukankah rindu lebih menyakitkan dari sebuah kemat’ian? Sosoknya ada tapi tak terjamah dan karena terlalu dini sehingga aku belum bisa menjinakkan rindumu. Huff
“Yah, hanya karena itulah aku takut diburu rindu yang membuta. Dan aku akan membalas rindu itu dengan apa adanya. Maukah ajari aku tentang rindu? Hingga akhirnya kita bisa memetik segala makna dibalik semuanya? Dan aku tak mau lepas rindu lepas harap. Seperti kini kurindu tanganmu yang pasti akan membelaiku dari segala keraguan”

“Jika rindu harus kuajarkan, jadi pertanda aku tak pernah ada di hati dan akal priaku. Bukan hanya belaian namun ditambah dekapku. Pasti meluluhlantakan semua ragumu”.
“Hajajaja. Yaa benamkan saja rindu itu. Lalu ciptakan pupuk yang baru”
“Hehehe nanti saat kita dipertemukan pasti lebih dari sekedar pupuk”

Selesai mengomentari satus Khe, hatiku resah pada rupa dan sosoknya yang ingin kupeluk erat. Iujur aku tak pernah puas dengan jawaban-jawaban komentnya. Selalu saja meresahkan. Dan itu membuatku dilanda rindu yang tiada bertepi.

Sebuah senja mengingatkanku pada kata-katanya saat menyatakan cintanya awal Seeptember. Kali ini aku tak sungkang untuk menelponnya. Tak kupeduli sibuknya di sana.
“Hai Khe, masikah ingat tanggal jadi kita? Hehehe”
“Ah, peduli amat. Itu tak pentinglah. Hahaha”
“Kali ini rindumu benar-benar memikat dan mengikatku. Masih ingatkan tanggal jadian kita. Eh kau tau apa yang lebih menyakitkan dari patah hati? Itu adalah saat aku hanya bisa mengimajinasikan tentang kita. Itulah kenapa aku ingin tau darimu apa dirimu mengingatnya?” tak ada jawaban.1a diam. Aku benar-benar marah pada sikapnya.
“Kenapa diam? Hal sekecil itu saja tentang kita tidak kau ingat”
“Pentingkah itu?” jawabannya menyulutkan api benci dibenakku. Marah.
“Ternyata kau menjalin hubungan dengan saya ini hanya iseng-iseng. Egois kau. Hanya ingat diri saja. Hal sekecil ini saja tidak kau peduli. Apa karena kau adalah sosok rahasia seperti katamu itu? Ah, kau putihmu.
Memang tak layak kunodai dengan cerewetku. Aku cape dengan diammu”

Keterangan:
Tabe wie= selamat malam,
Kota Dingin=julukan untuk kota Ruteng yang dingin
Kae (bahasa daerah Manggarai-Flores)= kakak

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button