Opini

Liku – Liku Politik Menuju Revolusi

(Bermonolog ketimbang berdialog apalagi berlaga argument)

Politik merupakan adalah seni merebut kekuasaan, seni memperlihatkan cara dalam mempengaruhi yang lain.  Manusia di era modern ini, semakin pandai berlaga argument untuk menunjukkan  keintelektualannya. Setiap individu berlombah-lombah terjun ke dalam dunia politik. Mereka yang memiliki pandangan kritis terhadap revolusi di suatu negara atau daerah tampil sebagai figur untuk mensejahterakan kehidupan masyarakatnya.

Menurut Aristoteles politik berasal dari kata polis yang berarti kota atau perkumpulan.

Politik menurutnya tidak hanya sebatas perkumpulan semata akan tetapi memiliki tujuan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Tidak hanya sebatas dirinya sendiri akan tetapi kepentingan umum juga termasuk dalam tujuan politik itu sendiri.

Baca Juga : Bencana Alam Konsekuensi Sikap Skeptis dan Apatis Manusia
Baca Juga : Metamorfosis Kebangkitan (Sebuah Refleksi)

Nuansa-nuansa politik  yang terlewati memberikan harapan baru bahwa dengan  terpilihnya pemimpin yang baru akan membawa revolusi seirama dengan realitas masyarakat kecil. Para calon politisi menghadirkan program kerja ( visi dan misi ) mereka selama lima tahun ke depan sebagai bentuk jaminan revolusi. Para pemimpin melihat banyak hal yang harus dibenahi. Mulai dari masalah ekonomi, terorisme, kesehatan, pendidikan, narkoba, korupsi dll.

Wilie P. Lerek menegaskan bahwa “people talking to people about people by using the language of people yang artinya manusia berbicara untuk manusia tentang manusia dengan menggunakan bahasa manusia”. Penegasan ini menjadi acuan dalam berlaga argumen.

Perdebatan dalam politik demi merebut kekuasaan dilihat seperti lesuh darah. Para calon pemimpin maupun wakil pemimpin lebih relevan disebut bermonolog ketimbang berdialog, apalagi berlaga argumen. Pemaparan visi dan misi jadi ajang umbar janji yang jauh di awang-awang. Kampanye di lapangan terbuka tak ditunggu orang ramai kecuali ketika penyanyi dangdut bergoyang.  

Baca Juga : Teror dan Teror(isme)
Baca Juga : Kekasih Antologi Puisi Erlin Efrin    
                                                                                                                

Perang mulut para pendukung di media cetak maupun media sosial hanya pantas jadi bahan pembicaraan saat bersantai untuk kemudian dilupakan begitu saja. Empat bulan setelah hari pencontrengan 9 Desember 2020, politik memang kehilangan zona hingga sekarang. Di tanah asal, kalau ada anak yang lebih kecil datang dan memaksa ikut bermain, kami akan membolehkannya. Tetapi setelah para pemain membisikkan kata “lelong” (anak bawang). Anak bawang adalah pemain yang mengira dirinya ikut bermain tapi sebenarnya hanya penggenap. Setiap orang tahu skor yang diperolehnya tidak masuk hitungan.

Sebagai anak kecil, menguasai seni anak bawang sangat penting. Kalau ada anak baru datang, ditemani oleh ibunya kita dapat mengisyaratkan kepada yang lain, inilah si anak bawang. Penganakbawangan juga berkembang di dunia politik. Kita pasti bisa mengingat suatu situasi pengambilan keputusan bersama, pemilihan panitia tim perancang peraturan tatkala sebagian anggota hanyalah anak bawang. Tanpa kita sadari, mungkin kita juga pernah menjadi anak bawang.

Politik tidak selalu diawali dengan “P” kecil yakni simbol pragmatisme dan pertarungan kekuasaan semata. Politik juga diawali dengan “P” besar yang berarti pengaturan, pembagian kekuasaan yang beradab untuk kepentingan masyarakat kecil. Politik dengan “P”  besar adalah cita-cita revolusi.

Baca Juga : Kado Imamat
Baca Juga : Indriyanti

Hary Tjan Silalahi menegaskan bahwa seorang pemimpin harus “pandai membaca situasi, jernih menganalisis persoalan dan jitu merancang taktik untuk sebuah kepentingan bersama”. Masyarakat tak ingin “mengahangatkan nasi kemarin” mengulang ide, menanaknya berulang-ulang lalu menyuguhkannya mejadi sajian tanpa selera.

Kesadaran masyarakat dalam kata “New” menjadi sesuatu yang digeluti sehari-hari. terkadang kata “New” yang artinya kebaruan. Kebaruan membawa revolusi mental masyarakat kecil. Mengangkat harkat dan martabat rakyat kecil. Kebaruan itu bisa berarti kecerdikan dalam memilih sudut pandang. Sudut pandang yang akan disoroti adalah masa lalu kedua calon pemimpin dan wakilnya. Bukan sembarang masa lalu, melainkan masa ketika kerakter mereka sebagai pemimpin terbentuk. Periodisasinya memang bervariasi. Masyarakat berasumsi bahwa itulah masa ketika mereka merasakan pahit dan manisnya kekuasaan sampai pada sesuatu yang pernah dan mungkin akan mereka genggam.

Demokrasi mempunyai tujuan (substansi) tetapi demokrasi mempunyai cara (prosedur). Tujuan demokrasi seperti persamaan dan keadilan harus diwujudkan tetapi tidak dengan mengorbankan hak atau milik pribadi dan kesejahteraan dapat dipaksakan realisasinya dengan mempersetankan kebebasan masyarakat kecil. Kalau tujuan meghalalkan semua cara, sebuah tiang topang demokrasi telah patah jadi tiga.

Baca Juga : Musafir Panggilan Antologi Puisi Haris Meme
Baca Juga : Senja di Pantai Hatimu Antologi Puisi Wandro Julio Haman

Orang berbondong-bondong menciptakan kehidupan mewah untuk kepentingan pribadi. Padahal makna dasar dari politik tidaklah membenarkan perilaku yang menguntungkan diri sendiri. Demikian pun layak dipertanyakan apakah semua yang dilakukan pemerintah kita sekarang ini sudah sebaik mungkin dan hanya perlu dilanjutkan. Kata Bung Karno “revolusi adalah kombinasi usaha menjebol dan membangun” dalam hal ini, terjemahan politik pembangunan adalah kombinasi optimal antara kontinuitas vs diskontinuitas dan perpaduan antara kebijakan serta melanjutkan dan keputusan menghentikan.

Pemimpin terpilih datang dan menganjurkan revolusionalisme. Masyarakat kecil seperti melihat cahaya baru di langit. Belum pernah kata change menggegerkan demikian banyak antusiasme, menimbulkan demikian banyak inspirasi dan menciptakan suatu kepercayaan baru.

Seorang pemimpin tidak akan menyelasaikan masalah tetapi harus meyakinkan masyarakat bahwa penyelesaian haruslah dimulai dengan tindakan revolusi karena sikap yang berubah akan mengubah identifikasi masalah yang dihadapi dan memperbarui pendekatan yang diterapkan. Barack Husein Obama, Presiden Amerika Serikat ke-44 meyakinkan rakyatnya dengan mengatakan “yes we can (ya kami bisa)”. Kita pasti bisa.

Suatu pemerintah pada dasarnya tidak seperti memerintah sebidang tanah dan lebar lautan atau memerintah pasar barang dan pasar modal. Pemerintah memerintah atas rakyatnya. Kalau pemerintah yang baru bisa menciptakan perubahan dalam visi pemerintahannya tanpa atraksi dan hadiah uang rakyak akan mendukungnya. Wingston Crurchill mengatakan: “problems are invitations to action” artinya setiap masalah adalah undangan untuk bertindak. Hal ini menegaskan bahwa sebelum bertindak pemerintah yang baru mana pun sebaiknya mengecek, apakah dia menerima undangan yang benar atau terkecoh oleh undang-undang yang gelap.

Arkhidius Bano (Arkha)

Belajar di Seminari St. Charolus Boromeus, Scalabrinian, Ruteng.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button