cerpen

Linonella

Tatapannya kosong, menikam sudut ruangan. Secangkir kopi menempel di tangannya. Tak menghiraukan kedatanganku yang tengah basah kuyup. Tak menoleh sedikit pun. Apalagi hendak menyambutku pulang.

Aku mengagetinya. Secangkir kopi mendarat di wajahku. Perih memang. Aku menyekanya dengan bajuku yang basah, bertelanjang dada sembari menatapnya penuh iba. Dia memelototiku seakan ingin melahapku bulat-bulat. Aku keburu merengkuhnya dalam peluk. Menghangatkannya di tengah hujan yang mengguyur.

Masih terlukis jelas trauma di wajahnya. Luka masih mengepakkan sayapnya pada pelupuk mata yang sayu itu. Masih belum bisa tersembunyikan. Setelah memberinya kecup, aku meninggalkannya ke kamar. Dia masih menikmati kesendirian di ruang tengah.

Orang tuaku sedang tidak di rumah. Jadi kami hanya berdua. Dan dia, entah orang tuaku berada di rumah atau tidak, akan tetap sperti itu. Merenung, dengan secangir kopi yang nyaris tak pernah dipisahkan dari cengkeramannya.

Aku menyiapkan barang-barangku hendak ke Spanyol. Tujuan utamaku adalah kota Catalan. Markas FC Barcelona, penguasa Liga Spanyol itu. Aku diizinkan cuti selama satu bulan. Sebenarnya aku cuti sejak dua bulan lalu.

Tapi bos keparat itu tak menandatangani surat permohonan cutiku. Dan dia, seperti biasanya duduk diam sambil mencengkeram secangkir kopi. Tanpa kata. Membisu. Sesekali dia menghela nafas panjang. Ia masih bergumul dengan penyesalan. Aku menaruh iba padanya karena ia satu-satunya bagiku.

Baca Juga Serdadu di Balik Bangku

Malam keberangkatanku, dia mengantarku sampai di gerbang. Untuk pertama kalinya semenjak kejadian itu, dia memintaku memeluknya. Mungkin karena dia tahu bahwa aku tidak berada di rumah setidaknya selama satu bulan ke depan.

1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button