cerpen

Lyan

Foto: Google

Penulis: Ema Mourinho

Aku gadis belia lahir dari rahim sunyi melangkah tak tahu arah. Kerasnya sikap ayah juga ibu yang selalu mengalah membuatku tak berdaya. Ayah seorang pemabuk, keluar pagi pulang larut malam. Semalam terjadi pertengkaran hebat antara ayah dan ibu, ayah memukul ibu beberapa menit setelah pertengkaran itu, lalu ribut lagi-pukul lagi-ribut lagi.

Aku duduk merenung seorang diri di beranda rumah. Memungut kisah yang sulit untuk dipahami dari kata dan tingkah sang ayah. Perbuatan ayah membuatku murung, tidak percaya diri, enggan keluar rumah dan memilih diam. Entah apa, dengan alasan seadanya ayah melarangku untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi.

Matahari terus merangkak di ufuk barat menyusuri pegunungan sebelum lenyap di telan bumi. Semilir angin menerpa dedaunan perlahan merembes sekujur tubuhku, melumas bibir dingin yang terus menggigil. Pada pucuk cemara seekor burung pipit mencecit kegelisahan sebelum kembali ke peraduan malam. Ini musim terasa sulit ketika rumah menjadi tempat segalanya.

Air mataku perlahan merembes, beku bersama dingin udara senja. Aku berusaha tegar, merentangkan kaki melepas penat dari segala ingatan serupa belati yang menyayat hati. Mataku menerawang jauh ke arah cakrawala. Mentari kian condong, langit tampak cerah nyaris tidak ada awan yang bergelantungan, sedang hatiku kian lembab.

Pada suatu malam akhir Desember ayah dengan leluasa merenggut kembang diriku sebelum menyambut hari di tahun baru. Masih lekat dibenakku kenangan pekat nan pahit itu, tatkala tubuh kekarnya rebah di atas tubuhku. Aku diam seribu bahasa di malam yang kelam nan panjang. Bibirku gemetar usai wajah ayah berpaling disamping pipihku. “Ayah mengapa bertindak segila ini”? aku membatin dengan air mata terus berderai.

Hati menjerit nan pedih. Malam kelam aku mengaduh, mengapa ibu tidak tahu kalau ayah tidak ada lagi di kamar malam itu, mengapa Ryan yang kamarnya di sampingku seolah diam tak tahu apa yang sedang kualami. setiap desahan nafas nafsu dari ayah seolah-olah lenyap dibailk selimut yang menutupi tubuh kami berdua. Malam itu menjadi malam kelabu dalam ziarah hidupku. Malam yang sulit untuk dilupakan. Ayah dengan leluasa merenggut kembang diriku yang sedang mekar berseri.

Hidup kadang sulit untuk dijelaskan, dia yang semula kuanggap tempat terakhir aku mengaduh kini telah merenggut kembang mekar diriku. Lengan yang semula kuanggap kuat menopang hidup dan menjunjung masa depanku seakan rapuh tak beradaya. Petuah motifasi dari ayah menjadi hambar tak bermakna.
“Ka, mengapa kamu menangis”? aku terkejut setelah mendengar pertanyaan dari Ryan, yang berdiri tepat disampingku. Sejurus aku merapikan rambut dan membetulkan posisi duduk. Aku menatap wajah Ryan adik semata wayang yang setia memberi motivasi.

“Ryan, beberapa hari lalu ayah melarangku untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tingi, katanya permpuan tidak boleh pergi jauh dari rumah, lagian di rumah hanya ibu sendiri” aku berusaha tegar menjawab pertanyaan dari Ryan sembari mengusap air mata pada kedua pipiku.
“Kamu harus kuat kak, jadilah wanita tegar ” demikian Kata-kata peneguhan dari Ryan yang sulit kucerna. Tegar menghadapi ayah yang mencaplok kembang diriku merupakan sesuatu yang mustahil. Tetapi saya harus kuat di hadapan Ryan walau hatiku terus merontah.
“Terima kasih Ryan, kelak jadilah lelaki yang berguna bagi keluarga”. Di hadapan Ryan aku harus menjadi seorang wanita tegar walau setumpuk luka di hati kian menganga.

Hidup adalah sebuah ziarah yang tak kunjung usai. Setelah peristiwa kelam bersama ayah, aku memutuskan pergi dari rumah. Merantau ke kota sekedar menghindar dari perlakuan bejat sang ayah. Sebuah pilihan yang terasa sulit bagi seorang gadis remaja. Perkataan Dee Lestary serupa firman yang meneguhkan hati “hidup adalah pilihan jika ingin satu jangan pilih dua sebab satu menggenapkan tetapi dua melenyapkan”. Kerasnya kehidupan kota memaksaku untuk terus merias diri biar menarik untuk di pandang. Itulah pilihan paling mudah bagiku sebagai seorang remaja.

Angin berhempas mesra, temaran cahaya lampu tumpah ruah dan aku terhempas di sana menjajah tubuh yang usang. Ia, tubuh usang. Setiap derap langkah di koridor diskotik selalu ditatap penuh senyum dan sinis dari lelaki hidung belang. Sebentar kami meneguk anggur bersama, sesekali tertawa ria usai kata sepakat, atau mengkerut dahi ketika tawaran belum menunjukkan kata sepakat. Aku berusaha mengerti keadaan sembari terus menjajakan tubuh.

Perlahan aku semakin paham ternyata gelora nafsu lebih besar dari gemuru ombak dan deru gelora. Setiap kata dari pelanggan lebih tajam dari pada pedang bermata dua. Tak jarang aku sering dijuluki “anjing” dari mereka yang katanya manusiawi tapi meninggalkan istri dan anak demi menghabiskan malam di rumah bordil.

Aku mengenal baik seorang pelanggan tetap di rumah bordil ini. Setiap hari ia berdasi dan bersepatu neces ketika menuju tempat kerja di salah satu kantor daerah. Bajunya lengkap dengan logo dan nama institusi terhormat yang katanya public figur tapi toh sama-sama bermalam bersama “anjing”. Bukankah hanya sepasang anjing yang bisa bersetubuh, ah! Sudalah setiap orang punya hak untuk berbicara, dan saya punya hak untuk memberi tangganpan.

Aku memilih cara hidupku sendiri menjajah tubuh di antara temaran lampu diskotik. Orang-orang menyebutku pelacur. Beberapa ibu di tempat tinggalku menghabiskan waktu senggang untuk mencibir pekerjaanku, mereka lupa kalau sebagian dari suami mereka sering bermalam bersamaku di rumah bordil. Rumah seakan tempat yang tak menjanjikan kedamaian. Rumah menjadi awal mula tempat pelarian. dari rumah menuju rumah bordil adalah ziara yang tak kunjung usai.

St. Rafa, 2 Februari 2020
*Ema Mourinho adalah nama gaul dari Ino Mori, lahir di Detuleda 31 Maret 1996. Alumnus Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere. Sekarang belajar filsafat di STFK Ledalero, Maumere.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button