Resensi

Malam di Larantuka dan Jejak-Jejak Perziarahan Yang Menginspirasi

foto: dok pribadi

Judul Buku : 3 Malam di Larantuka
Penulis : Yanuardi Syukur
Penerbit : Aura Publishing, Lampung
Tahun Terbit : 2018
Jumlah Halaman : 122 Halaman
ISBN : 978-682-6747-46-4

Hidup adalah tentang perziarahan. Dalam perziarahan itu, manusia akan menjumpai berbagai peristiwa. Entah suka atau duka, pastinya setiap peristiwa selalu memiliki daya untuk dijadikan sebagai pengalaman berharga. Tak heran, seringkali manusia selalu menjadikan pengalaman itu sebagai guru terbaik.

Namun tak dapat dimungkiri, kebanyakan orang juga acap kali memaknai setiap peristiwa yang dilalui itu hanya sesaat di mata. Mulut pun sering berguman hanya sebatas keluarkan kata-kata kaguman belaka, semisal; “Ohhh, peristiwa ini, itu bagus sekali la”. Tapi enggan untuk menulisnya kembali. Jika saya dan Anda sekalian menjadi bagian dari orang yang malas menulis itu, maka saya menganjurkan untuk mengencani buku 3 Malam di Larantuka.

Melalui buku ini, kita akan menyadari tentang kedalaman arti dari sebuah peristiwa hidup itu sendiri. Dan ulasan sederhana ini semacam pengantar untuk menginpirasi kita semua menuju jalan pemaknaan secara konkret atas semua peristiwa hidup itu sendiri.

Tanggal 28 November 2018 adalah hari bersejarah bagi masyarakat Larantuka-Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pasalnya, dalam Rapat Kerja Nasional Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) yang dilangsungkan di Jakarta dari tanggal 4-6 Mei 2018, memutuskan bahwa Agupena cabang Flores Timur mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Hari lahir (Harlah) yang ke-12 Agupena secara nasional.

Perayaan ini, dimeriahkan oleh beragam perlombaan yang bernuansa akademik. Turut hadir pula, tokoh-tokoh literat bertaraf lokal, nasional dan internasional. Dan salah satu tokoh yang dipercayakan menjadi salah satu pembicara saat perayaan (Harlah) itu adalah saudara Yanuardi Syukur.
Atas dasar kepercayaan itulah, akhirnya Yanuardi mendaratkan kakinya di Larantuka.

Setiap peristiwa dan perjumpaan sejak keberangkatannya dari Jakarta hingga tiba di Larantuka diramunya dalam tulisan yang amat apik.
Melalui tulisan-tulisan itulah Buku 3 Malam ke Larantuka pun hadir ke hadapan pembaca. Hemat saya, buku ini tidak sekadar berisikan catatan rihlah ke Larantuka, atau semacam catatan perjalanan dari Jakarta ke Larantuka, namun mengandung nilai dan pesan-pesan humanis.

Setidaknya ada 3 pesan yang termaktup dalam buku ini. Pertama, pribadi pencipta jejak yang hidup. Kehadiran 3 Malam di Larantuka, sebenarnya Yanuardi sedang menciptakan jejak-jejak hidup itu sendiri. Di mana dia menjadikan semua tempat yang disinggahi adalah rahim yang mampu melahirkan banyak ilmu. Dan semua orang yang dijumpai adalah perpustakaan yang hidup. Selanjutnya, jejak-jejak itu tidak saja berguna bagi diri tapi lebih daripada itu ketersediaan jalan humanis bagi para generasi sedang dipersiapakan secara baik.

Kedua, menjadi pribadi yang beridentitas. Ketika kebanyakan orang yang menamakan dirinya sebagai kaum akademisi menunjukan kebiasaan malas menulis, Yanuardi justru datang menawarkan sesuatu yang menghidupkan. Bahwa pengalaman adalah guru terbaik yang harus direfleksikan dan dituangkan dalam tulisan.

Untuk itu, tidaklah berkelebihan jika saya menobatkan Yanuardi sebagai seorang akademisi dan tokoh literasi nasional maupun internasional yang telah berhasil menunjukan identitas diri yang sesungguhnya. Bahwa sebagai makhluk sosial dan juga sebagai seorang akademisi, Yanuardi mampu memaknai hidup ini secara benar dan bijaksana.

Yanuardi sungguh menyadari bahwa keterciptaanya dan keberadaanya di dunia ini haruslah bermakna bagi sesama dan lingkunganya. Oleh karena itu, tak heran, jika ia selalu menulis semua apa yang dilihat, didengar dan dirasakan dalam setiap peristiwa hidupnya secara berkelanjutan.

Dan pada titik ini, sekali lagi, saya harus menegaskan bahwa Yanuardi adalah seorang akademisi yang peka dan sosialis. Kepekaan dan semangat sosialnya sebagai seorang akademisi dan tokoh literat inilah yang mau mempertegas tentang keaslian identitasnya. Yang dalam pandangan Erikson bahwa identitas itu pada hakikatnya juga bersifat “psikososial”, karena identitas adalah “solidaritas batin dengan cita-cita dan identitas kelompok” (Erikson, Identitas dan Siklus Hidup Manusia, Suntingan Cremers, halaman 188).

Baginya, pembentukan identitas adalah suatu proses sosial yang terjadi dalam inti kedalaman diri, dan juga di tengah-tengah masyarakat. Dengannya menjadi seorang akademisi, tokoh literat dan makhluk sosial bukan cuma menggenggam labelnya saja tapi lebih dari pada itu, label-label itu harus dikonkritkan baik dalam perkataan maupun perbuatan konkret.

Dan nantinya berguna dan terus membekas dalam pikiran dan hidup para generasi kini dan yang akan datang.
Oleh karena itu, buku 3 Malam di Larantuka mau melegitemasi bahwa Yanuardi mampu memosisikan dirinya secara benar sembari menunjukan kerelaan terhadap keterpecahan dirinya secara sosial. Bahwa hidup harus memiliki identitas yang jelas, memiliki nilai dan daya guna secara sosial itu sendiri.

Ketiga, menggugat. Mengapa menggugat dan siapa yang harus digugat? Disadari atau tidak, bahwa apa yang kita baca dan pelajari saat ini adalah jejak-jejak peristiwa yang dialami oleh para penduhulu. Mereka, tidak saja membatasi diri hanya pada melihat, mengalami dan merasakan, namun sebisa mungkin merangkaikanya lewat kata-kata.

Dan jikalau saya dan Anda sekalian adalah tipikal manusia yang selalu memosisikan diri sebagai makhluk-makhluk penikmat tanpa mencipta, maka keberadaan kita sebenarnya sedang digugat. Apalagi, jikalau kebiasaan ini dihidupi dan dibudayakan secara turun temurun oleh para akademisi kita, pastinya makin buruk dan goncangan gugatan itu semakin dahsyat.

Semisal, tak perlu heran jika dalam dunia kampus banyak mahasiswa yang lebih nyaman membuat karya ilmiah dengan cara plagiat. Selain itu banyak guru yang pangkatnya tetap ditempat karena tak mampu membuat karya tulis ilmiah sebagai salah satu syarat untuk kenaikan pangkat.

Akhirnya, sehebat apa pun kita tetaplah tidak bermakna bagi sesama. Sebab kehebatan kita, hanya bisa berarti selama kita hidup dan sejauh orang mengingatnya. Dan jikalu kita sudah tak bernapas lagi, maka kehebatan kita juga ikut mati selamanya. Pembunuhan terhadap generasi pun terjadi.

Kita semua tentu tak mau mati tanpa meninggalkan sesuatu yang berarti bagi generasi yang ditinggalkan. Atau lebih sadisnya mati sebelum saatnya, bukan. Untuk itu, marilah berarti. Menjadi berarti, tidak harus memaksa diri untuk menulis ya, gaes. Atau harus membuat hal-hal yang spektakuler. Itu tak perlu. Sebab, tak menjamin untuk membuat kita lebih dan sangat berarti. Tapi berartilah sesuai bakat, potensi dan kemampuan yang ada pada masing-masing kita. Ini adalah keharusan. Sebab kehadiran buku ini tidak terbatas pada pembicaraan menulis.

Tapi lebih dalam dari itu adalah kita diingatkan agar selalu memiliki carapandang untuk memosisikan diri kita, inspiratif dan berarti bagi sesama secara berkelanjutan.
Karenanya, tak pernah boleh lagi kita membudayakan sikap dan penghayatan hidup pada zona nyaman melulu. Mari mulai.

Tak pernah ada kata terlambat untuk menjadi berarti. Biar pada saatnya ketika kita dipanggil Sang Khalik, kita tetaplah berarti. Bahkan tak mudah lenyap dan dilenyapkan dari perbincangan para generasi kini dan yang akan datang. Saat yang sama, sebenarnya, kita sedang memaknai hidup ini sebagai perziarahan yang menginspirasi.

* Catatan; Yanuardi Syukur meminta penulis untuk membuat Endorsement. Dan ulasan ini adalah hasil olahan ulang dengan berbagai penambahan pada bagian-bagian tertentu yang dianggap penting.

* Oleh: Bonefasius Zanda-Pendidik SMA Katolik Regina Pacis-Bajawa-Flores-NTT.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button