Puisi

Mama Antologi Puisi Andi Dollo

“Rindu ini aneh,

Engkau tepat di depan mataku”

Andi Dollo

MAMA

Rindu ini aneh
Engkau tepat di depan mataku
Tapi mengapa gejolak dalam dada dan pikiran ini malah meletup-letup?

Getaran kakiku merambat hingga ujung rambut.
Kamu di sini, tepat di depanku;
Tapi mengapa aku merasa tak dapat menjangkaumu dengan jari ini.

Rasa ini aneh.
Aku jatuh hati padamu sedari duniaku diciptakan.
Tapi mengapa, aku bahkan tak dapat menjadi palung hatimu?;
Tempat di mana kau merebahkan segala gelisah hatimu.

Dan aku ini aneh.
Berada di sekitarmu tapi hanya bisa menatapmu, saat-saat kau tak kuasa

melawan dunia dan perkaranya.
Ya, aku ini aneh.
Mencintaimu dengan sangat; tapi tak berdaya di hadapan musuh-musuhmu.
Maafmu, syukurku yang tak terbatas. Mama.

(Tenda, 17 Februari 2021)

Baca Juga : Terjaga Antologi Puisi Lidwina Rusmawati
Baca Juga : Model Politik Eudaimonistik Aristoteles (384/383-322 SM)

Gadis Terkasih

Di suatu masa
Ada seorang gadis rupawan
Matanya nan indah
bak pelangi sehabis hujan

Gadis itu menyimpan banyak misteri
Senyumannya
Nampak selembut mentari: dan secerah senja.

Jika dia datang
Waktu terasa begitu cepat
Bahagia memeluk erat saat-saat seperti itu.
Namun, sejalan gerak bumi
Waktu berubah, pagi hingga malam terasa lama.

Dunia menjadi begitu gelap
Tak ada cahaya, mendung meliputi setiap jengkal langit.
Matahari seperti malu pada tanah. Dan hujan turun terus.
Aku kuyup dalam diam dan sepi

Lalu, saat kuperhatikan lagi dengan saksama
Di langit sana, rindu padanya menjelma pada malam yang larut.
Engkau sudah begitu rapuh; di sini dan di sana ada cintamu:
Menebar bak serbuk sari di musim semi;
Jejaknya menua
Dari pelukmu aku menghangat.
Dari cintamu aku hidup.
Tapi mengapa, kini terasa dingin di sini?
Di rumah ini, juga di hati ini.

(Tenda, 17 Februari 2021)

Baca Juga : John Rawls: Keadilan Global dan Nalar Publik (1921- 2002)
Baca Juga : Pemerintah Desa Hadakewa Membuka wisata baru

Sebuah Sujud Syukur

Dalam gerak penaku yang kian tua
Waktu senantiasa menemani
Hari ini masih bisa menulis
Besok masih bisa membaca
Dan lusa bisa keduanya
Adalah syukurku pada Yang Kuasa

Langit memang tampak mendung
Mau ke sini, sulit
Mau ke situ juga, susah
Saban hari semuanya tampak menua
Namun kata-kata tak bisa lepas dari mulutku
Di sana, ada begitu banyak perkara yang terjadi

Aku masih hidup
Berdua dengan penaku yang tintanya mulai habis.
Bertiga dengan kertas-kertas yang lusuh,
Serta berempat dengan kata-kata yang tampak biasa bagi yang lain.
Sungguh, syukurku tak berbatas;
Aku hidup dengan baik.

(Tenda, 17 Februari 2021)

Baca Juga : Memperkenalkan Pemikiran Jürgen Habermas
Baca Juga : Kehadiranmu Membahwa Cinta Yang Sesungguhnya Antologi Puisi Yofri

Menjelang Tengah Malam

Sayang, waktu beranjak pelan menaiki detak detik
Pada silih hati yang kurang lebih suka begini dan begini:
Aku kaitkan satu dan dua kata yang kemudian membentuk rangkaian kalimat:
Di sana ada namamu beserta bingkisan-bingkisan kisah tentang kita.
Kita yang suka menitip kado melalui angin;
Isinya tentang rindu yang kita simpan baik-baik dalam palung hati

Jikalau kau tak menjadi jodohku di hari nanti,
Merayu Tuhan selalu jalan yang ingin kutempuh
Sebab kita bukan dua melainkan satu sejak dahulu.

Gelap malam yang makin uzur,
Bertanda di sini ada aku yang sendiri,
Mendoakanmu dalam setiap suara hatiku.
Ada aku di sini

(Tenda, 17 Februari 2021)

Andi Dollo

Penulis, Andi Dollo, hidup di Tenda, Ruteng, Flores, NTT. Akrab disapa Andi. Mencintai kehidupan tulisan dalam keseharian. Dapat disapa melalui media sosial: fb. Andi Dolo dan Ig.@Andidollo serta No. Wa. 085205466205.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button