cerpen

Maukah Engkau Menghapus Bekas di Bibirku

Ilustrasi:Piqsels

Oleh; Waldus Budiman

Sore menepi di tepi pantai Paris. Ombak bertebaran di bibir pantai, menabrak bebatuan. Alisa, gadis malang itu masih bergulat dengan tangisnya. Seorang diri. Senja yang menemani dirinya masih bergelayut di atas awan. Sepi. Sesekali terdengar isak tangis gadis itu. Tidak seperti biasanya, pantai ini ramai dikunjungi warga setempat dan turis mancanegara. Kepakan sayap burung dan desahan ombak saat mencumbui batu karang menemani kesendirian gadis itu. Hanya satu kata yang tersembul dari mulutnya; “benci”. Hanya itu.

Sepertinya ia sedang membenci seorang. Tatapannya mengarah ke laut yang terbentang luas. Hampa!
Mungkin ada harapan atau pun penyesalan yang membungkus hatinya. Sore yang sepi, menepi di bibir pantai. Para nelayan sudah pulang ke rumahnya, burung-burung berterbang menuju sarang. Lampu kota sudah menerangi bumi Maumere. Alisa bangkit berdiri dan berjalan menuju dermaga. Aku terus mengawasinya dari jauh, mengambil jarak yang nyaman. Apa yang akan terjadi setelah ini? Sesekali aku membidik kamera dan berhasil memperpendek jarak dengannya.

Dia berjalan begitu pelan hingga aku bisa mengambil gambar dengan baik. Aku mengamati benda yang ada di tangannya. Foto? Siapa yang ada di dalam foto itu? Mungkin dia yang disesalkan oleh gadis malang ini. Aku mulai menduga-duga.
Dia menyandarkan tubuhnya pada salah satu tiang lampu di dermaga. Matanya menatap foto yang ada di tangannya. Dibantu oleh pancaran cahaya lampu dermaga, kameraku berhasil memotret wajahnya. Aku berjalan menuju dermaga dan berusaha mendekatinya dengan penuh hati-hati.

“Jangan mendekat”, teriaknya saat melihatku.
Aku berhenti melangkah.
“Aku tidak mau melihatnya lagi.” Lalu dia membuang selembar foto itu ke laut.
“Katakan padaku, siapa namamu? Biar aku bisa memberitahukan kepada mereka,” pintaku.

“Itu tidak penting,” jawabnya dengan suara yang agak serak.

Desahan ombak saat mencumbui batu sesekali terdengar jelas. Senja sudah ditelan gelap, pertanda malam telah terbit. Jarak antara aku dengannya sekitar 20 meter, hanya dibatasi angin pantai dan keraguan dalam diriku.
Aku hendak melangkah agar melihatnya lebih dekat, tapi aku masih takut dan cemas. Aku terus mengawasi gerak-geriknya. Sepertinya, dia hendak melakukan upacara bunuh diri. Dia melepaskan ikat rambutnya, jepit, anting di telinganya, dan kalung di lehernya. Semua benda itu dikumpulkannya pada satu tempat.

“Ini!” satu kata disebutnya.
Apakah benda itu yang membuatnya menangis dan frustrasi? Jika memang demikian, mengapa selembar foto di tangannya dibuang ke laut? Foto adalah rekaman suatu peristiwa yang memiliki kekuatan yang dahsyat. Sebuah foto dapat membuat seorang mengingat kembali apa yang terjadi. Ingatan dalam selembar foto lebih kuat dan bertahan lama, dibandingkan ingatan dari orang yang ada dalam foto tersebut. Saat memandang selembar foto, pada saat itu juga perasaan yang membuncah dan emosi bangkit dari ingatan. Ingatan seorang manusia sangat ringkih di hadapan segala sesuatu. Apa lagi soal janji dan setia dalam berpacaran. Ingatan manusia sangat rapuh berhadapan dengan yang “ada” dan “tidak ada”.

Dengan selembar foto, emosi dan hasrat terekam dan diabadikan untuk sebuah kenangan. Foto ini mengingatkanku pada satu kisah dua tahun yang silam. Persis di musim yang sama, dia pergi untuk terakhir kalinya.
“Simpanlah foto ini di dalam saku bajumu, biar aku bisa merasakan detak jantungmu dan isi hatimu,” itu pesannya yang terakhir. Foto adalah kenangan lama dalam ingatan setiap peristiwa dan baru dalam setiap kisah.
Upacara penanggalan kain pada tubuhnya dimulai. Aku memberanikan diri mendekat. Dia melepaskan bajunya, celananya hingga kain terakhir penutup tubuhnya dilepas. Fantastis! Dia menoleh ke arahku, aku gugup dan cemas. Apakah aku dijadikan tumbal dan korban dalam upacara ini? Tidak!!! Aku mengalami kisah yang lebih kejam dari ini.

“Tolonglah aku!” katanya.
“Katakan itu!” jawabku agak ragu. Dia mengangkat semua benda yang baru dilepaskan dari badannya dan membuangnya ke laut.

“Apakah semuanya sudah selesai?” teriakku melawan suara desahan ombak. Dia menunduk dan berbalik lalu menatapku.

“Masih ada satu.”

“Apa itu?” balasku dengan cepat.
“Bekas di pipiku dan mulutku. Bekas bibirnya.”

Aku melangkah dan mendekati dirinya hingga jarak di antara kami seperti bibir yang terkatup. Tiba-tiba dia memelukku dan merebahkan dirinya di pangkuanku. Aku kaget dan bingung. Aku bersikap, melepaskan jaket dari tubuhku lalu membungkus tubuhnya. Cahaya lampu dermaga yang remang-remang sedikitnya membantuku melihat bagian-bagian tertentu pada tubuhnya. Lalu aku berbisik pada telinganya;

“Adakah bekas yang lain pada bagian tubuhmu?”

“Masih ada satu bekas peninggalannya. Tempat pembuangan limbah,” katanya penuh semangat.

“Lubang buaya?”.

*Alumnus Filsafat Ledalero
*Tulisan ini pernah diterbitkan oleh Media online Floresmuda.com
*tulisan ini juga terinspirasi dari cerpen Hamsad Rangkuti yang berjudul “ Maukah kau Menghapus bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu”.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button