Puisi

Mawarku Antologi puisi Edy Feliks Hatam

Bersama rasamu hatiku adalah rumah

yang hidup dan kokoh.

-Feliks Hatam

Mawarku

Mawarku
Mengapa kau berduri?
Juga cinta haruskah berkelikir?

Walau kau berduri mawarku
Meski kau berkelikir cintaku
Kau kan kugenggam walau berduri
Juga berlari megejarmu walau berkerikil
Sebab dalam duri kutemui kau yang manis
dalam kerikil kujumpai rupamu yang menawan

Mawarku
Keelokanmu menarik banyak mata memandang
Memanggil hati
berlari mendekapmu

Namun tak kan kubiarkan itu terjadi
Hati berjanji menjadi yang pertama
untuk mengakatan I love you
Kaulah bunga yang kupilih

Mawarku
Mata ini menatapmu lebih cepat dari biasanya
detak jantung pun tak biasa
Hati juga Bahagia
Karena aku lebih dulu memilihmu.

Baca juga : Kabar Pagi Antologi puisi Defri Sae
Baca juga : Kita dan Kuasanya-Nya Antologi Puisi Verr Lado

Nama

Nama itu selalu ada dalam nadaku
memberi arti akan rasa yang kualami
menuliskan kisah tentang kesetian cinta

Adalah nama yang selalu kugenggam dari sekian nama
Yang akan kujaga menjadi selalu ada
Dan selalu kusatukan dalam bait-bait doa
Agar hadir dalam setiap langkahku

Tentang nama itu
Biarkanlah aku memohon menjadi satu
Satu nama dalam mengembara
juga mendayung pilau mahligai.

Baca juga : Labuan Bajo 24 Agustus Antologi Puisi Affriana
Baca juga : Mati Itu Abadi Antologi Puisi Asni Bastari

Untukmu Pemilik Hati (Part I)

Rasa ini tetap untukmu
Cinta ini ada bagimu
Kata ini selalu untukmu
Harapan ini selalu bersamamu
Bersatu bersamamu.

Baca juga : Bunga di Tepi Jalan
Baca juga : Bukan Aku Yang Dikubur, Tapi Harapku

Untukmu Pemilik Hati (Part II)

Bagiku, kaulah pemilik senyum indah
Senyum yang membangkitkan
Dan yang menuliskan harapan

Bagiku kaulah permata
yang kan menata hati ini
lebih dari sekedar bahagia

Untukmu pemilik hati
Hati ini bukanlah ladang
yang digarap musiman
Bersama rasamu
hatiku adalah rumah yang hidup dan kokoh
Kỉta membangunnya lalu menghiasnya tanpa kenal musim

Ỉtulah hati dan râsa kita yang kuat
untuk selalu setia dalam suka juga duka
Berhentilah setia dalam kegaduhan hati
Lepaskan rasa yang tak bershabat
Bertepilah dari kebencian
Satukan senyum untuk mengarungi lâutan kehidupan

Untukmu pemilik hati
Gemgamlah rasa dalam sadar
Bersamalah melangkah mengapai mentari
mumpung masih pagi.
Bersamalah membangun
dan menciptakan hal yang luar biasa.

Baca juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus
Baca juga : Rindu yang Sempat Riuh

Malawan Gombal

Aku mencintaimu, bukalah gombal
Tapi bahasa hati,yang diucap dengan kata
Aku merindukanmu, bukan gombal
Tapi bahasa rasa, yang dinyatakan dalam kata

Aku tak dapat hidup tanpamu, bukan gombal.
Tapi kata hati untuk menyakinkan pemiliknya
Aku tak dapat jauh darimu, bukan gombal.
Tapi kejujuran hati dalam kata
tentang sosokmu yang membuatku berarti.

Senyummu bagai air kesegaran
yang mengaliri nadiku, bukan gombal.
Tapi ungkapan kenyataan hati,
tentang sosokmu
yang mampu mengalirkan kesegaran dalam nadiku.

Aku tak dapat menduakanmu, bukan gombal.
Tapi nyatanya sosok seakan membangun istana cinta dalam sanubari
Jika semuanya kau anggap rayuan gombal
Maka biarkanlah kusampaikan padamu lewat sajak ini.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button