Renungan

Melayani Tanpa Batas

RD. Oriol Dampuk, Imam Keuskupan Ruteng

Perayaan Kamis Putih adalah perayaan mengenangkan dan menghayati kembali moment pewarisan dalam Gereja Katolik, yang mana Yesus telah mewariskan sesuatu yang terbaik bagi murid-murid-Nya. Warisan yang pertama dalam bentuk pelayanan dan pengabdian sebagai contoh bagi setiap orang yang mau menjadi pengikut Kristus. Yesus meninggalkan suatu pesan bukan dalam sebuah pidato yang panjang, bukan dalam kata-kata kosong, bukan dalam kampanye atau demonstrasi. Yesus meninggalkan suatu kenangan cinta kasih dalam suatu tindakan konkret yaitu pembasuhan kaki.

Dalam perjamuan malam yang diadakan-Nya, Yesus menegaskan peran-Nya sebagai jembatan penghubung antara yang Ilahi dan yang manusiawi. Ia rela menanggalkan kealahanNya dan mengenakan kemanusiaan kita. Sikap ini tercermin dari tindakan-Nya, yakni menanggalkan jubah dan membasuh kaki para murid-Nya. Inilah bentuk pelayanan Yesus untuk membangun kehidupan manusia yang berlandaskan pada kasih. Sebagai pengikut Kristus, kita pun hendaknya berani untuk menanggalkan jubah dan siap untuk membasuh kaki sesama yang berada di sekitar kita. Menanggalkan jubah berarti melepaskan kebiasaan-kebiasaan kita yang suka menonton, pasif, menanggalkan superioritas, rasa diri lebih tinggi dan lebih besar sehingga kita dapat membangun kehidupan bersama dalam semangat dan jiwa pelayanan seorang hamba.

Peristiwa pembasuhan kaki para murid adalah moment legitimasi, penegasan dan pengakuan betapa Yesus sangat mencintai para murid, termasuk kita semua pada zaman ini. Mencuci kaki merupakan pekerjaan seorang budak tetapi Yesus berani melakukannya demi cinta-Nya kepada para murid dan demi mengingatkan mereka agar melakukan hal yang sama, “Kalau aku Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, kamu pun harus membasuh kaki sesamamu”. Kebesaran Yesus muncul dalam tindakan ini. Kebesaran Yesus bercahaya justru dalam kekecilan tanpa memperkecil kebesaran itu. Lebih jauh dari itu, dengan membasuh kaki para murid, Yesus membersihkan debu jalanan yang melekat pada kaki para murid, yakni dosa-dosa masa lalu yang melekat sepanjang perjalanan hidup mereka.

Warisan kedua yang ditinggalkan Yesus adalah perjamuan kudus, perjamuan kehidupan. Setelah Yesus mencuci kaki para murid, Ia langsung melanjutkan dengan mengadakan perjamuan malam terakhir. Ia menyerahkan diri-Nya seutuh-utuhnya dalam rupa roti dan anggur. Dengan tindakan memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada para murid, Yesus sebenarnya sudah mengungkapkan tentang derita dan kematianNya secara nyata. Ia akan sungguh dipecah-pecahkan, dicabik-cabik dan diserahkan di atas salib. Tindakan Yesus itu kemudian dipertegas oleh kata-kataNya sendiri, “Inilah tubuhKu yang akan diserahkan bagi kamu, Inilah darahKu yang akan ditumpahkan bagi banyak orang”. Sejak itu peristiwa pemecahan dan penyerahan roti itu memang selalu dirayakan kembali sesuai pesanNya, “Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Daku”. Sampai hari ini kita tetap merayakan kembali perstiwa pemecahan itu, dalam Ekaristi atau Misa. Hal ini juga mengingatkan para imam dalam menghayati eksistensi mereka, martabat imamat mereka, sebab Imamat Kristus dimulai dengan membasuh kaki dan memimpin ekaristi. Yesus membasuh kaki agar para murid layak masuk dalam perjamuan Tuhan. Itulah yang menjadi tugas imam dan umat beriman, membasuh kaki, melayani, membersihkan, menguduskan agar semua umat layak mengelilingi altar Tuhan.

Sebagai orang beriman, perayaan perjamuan terakhir mengingatkan kita agar mengikuti peristiwa pemecahan dan penyerahan roti itu dalam kehidupan setiap hari. Merayakan peristiwa pemecahan dan penyerahan roti itu berarti kita sendiri siap diubah semangat untuk selalu bisa memecahkan dan menyerahkan diri atau milik sendiri untuk orang lain. Ekaristi selalu mempunyai implikasi kerelaan untuk senantiasa membagi diri kita, membagi milik kita dan menyerahkannya untuk orang lain, sehingga orang lain turut diperkaya, diselamatkan dan dibebaskan.

Tugas kita sebagai pengikut Kristus yaitu menjaga kelangsungan perjamuan kudus dan saling membasuh kaki, saling melayani dalam kasih yang ikhlas. Banyak orang yang mau makan bersama mengelilingi altar Tuhan, merayakan ekaristi. Namun tidak sedikit orang yang merasa tidak layak, sebab tidak semua bersih. Tugas kita yaitu turun, menolong dalam membersihkan debu dosa jalanan yang melekat pada hidup mereka. Banyak orang yang sedang dilanda situasi tertekan, frustrasi, dan putus asa, karena situasi hidup yang menghimpit. Kita mesti turun untuk membasuh kaki mereka, menghibur dan meneguhkan mereka, kita perlu menanggalkan jubah, melepaskan gengsi, popularitas diri lalu melayani sesama kita dengan roh pelayanan seorang hamba.

Tidak semua kamu bersih adalah sabda Yesus untuk kita semua. Jikalau kita semua belum bersih, masih haruskah kita saling menjauhkan? Siapa yang harus membersihkan debu dosa jalanan yang melekat pada kaki dan hidup sesama kita kalau bukan kita? Yesus tidak pernah menolak mereka yang belum bersih. Oleh karena itu kita mesti membasuh kaki sama saudara kita, memberi peneguhan, pertolongan dan bukannya menyisihkan apalagi semakin menjatuhkannya. Kita perlu melayani mereka itu, agar kebesaran Allah bisa bercahaya dalam kekecilan hidup mereka dan kekecilan hidup kita. Amin!

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button