Puisi

Menawar Tangis Hujan Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Menawar Tangis Hujan

Langit seperti biasanya, mendung
Selalu begitu saat kau bertemu orang baru.
Hei apa kau cemburu.
Beri aku waktu
Sebab hanya ini pakaian yang tersisa dan aku tidak mau pulang dengan kehujanan
Atau menghabiskan malam dengan bertelanjang dada.
Selepas kerja aku menunggu kau di ujung telepon. Malam Minggu seperti malam sebelumnya dan kita membuat waktunya agar tidak mubazir.
Kau tahu. Andai aku punya tongkat Musa. Sudah aku belah lautan dan kita dapat bertemu di ujung malam.

(Maumere, 2020)

Baca juga Mencari Tuhan Dalam Wajah Sesama

Alasan Hujan Selalu Bikin Nyaman

Kita pernah membara dalam asmara.
Lalu dari kulit-kulit tubuh menguaplah hasrat-hasrat yang tuntas.
Konon, uap-uap itu menjelma awan yang bergantung di langit-langit kamar.
Lalu datang suatu musim Desember, kisah-kisah itu mulai dijatuhkan waktu. Detik per detak.
Saat kini kita telah berjarak.
Akhirnya dibuat tersenyum mendengar suara-suara
Dari setiap butir hujan yang pecah di atas tanah.
Fana.

(Maumere, 2020)

Baca juga Ranjang Yang Selalu Kubuat Basah Antologi Puisi Indrha. Gamur

Desember

Akhir-akhir ini aku duduk
Menghadap rumah-Mu.
Sambil menimbang-nimbang
Menjadi apa aku nanti
Saat bertamu ke hati-Mu.
Menjadi kaya layak seperti raja.
Menjadi sederhana seperti para gembala.
Atau menjadi domba yang dituntun olehmu.
Karena aku tidak tahu menjadi siapa.
Dengan percaya diri aku akan tetap datang. Mengikuti jatuh arah bintang.
Membawa kopi pahit dan roti setawar hidup.
Maukah kau menerimanya nanti
Di hari Natal-Mu.
Tuhan.

(Maumere, 2020)

Baca juga Lembata Menangis

Maxi L. Sawung (Foto/Dokpri)

Penulis tinggal di Maumere. Suka baca buku dan tertawa


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button