cerpen

Menghitung Tabah

Ilustarsi: Cnnindonesia. com

Ia menapaki jarak penuh dihajar terik
Dan luka jalan nasib yang kasar.
Keringat membasahi tubuh yang dipaksa
Kuat memikul beban hidup.

Orang-orang mengamati penuh curiga,
Waraskah?
Orang-orang mengawasi penuh tuduh,
Kutukankah?
Orang-orang tidak bergeser sedikitpun,
Pentingkah?

Ia terus menjalani detik sambil berharap
Agar jantungnya tidak kehilangan detak.
Ia terus menjalani nasip sambil berdoa
Agar segala keluhan tidak menjadi dosa.
Ia terus menjalani takdir sambil tidak
Lelah bersyukur tabahnya terus menuntun
Pemahamannya tentang makna ketabahan.

Dan ketika semua tabir dibuka,
Kita menjadi tahu, alasan kita
Terus hidup.

Benih

Ada benih yang jatuh disemak-semak berduri,
Itu bukti dari dua tubuh yang memerdekakan diri
Saat kota menjadi begitu tertip, terlalu peduli.
Ada benih yang jatuh dan tumbuh di pinggiran jalan
Ramai kota-kota, benih yang tumbuh menjadi liar
Disiang hari atau menjadi penyedap saat malam tiba.

Ada benih yang dijatuhkan dengan sengaja
Ditumbuhkan dengan keterpaksaan
Dijaga dengan keterbatasan.

Karena hanya ada satu pilihan saja;
Menjalani takdir atau mati penuh mimpi.

Luka

Yudas terlalu sopan saat ia mengecup
Untuk sebuah perpisahan tanpa
Kesepakatan.
Sebab ia paham betul, memberi
Luka yang tepat ialah saat si dia
Sedang lengah hanyut dalam
Rasa sayang.

Oktober, 2020.

*Maxi L. Sawung

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button