Puisi

Mengintip Hujan, dan Aku Berpuisi Antologi Puisi Sandro Gagu

Tak Perlu Risau

Pada intinya semesta tahu cara mempertemukan kita dengan sempurna.
Kau tak perlu dilema, tak perlu risau.
Ada saatnya semesta menghantar kita pada jumpa,
bahkan kita tidak tahu kapan kita berpisah.
Menarik bukan?

Jika sekarang semesta memberontak dengan ritikan hujan yang menjadi penghalang tuk temu, tapi aku cukup yakin esok lusa semesta menjamu kita lebih lama di altar temu.

Kamu tahu?
hal yang paling menyakitkan perpisahan sementara adalah lambaian tangamu seakan kita akan berpisah selamanya, menyakitkan, selepas itu impase rindu meraja ketika senja kembali menjemput malam.

Baca juga: Bernafas Lekas Antologi Puisi Reineldis Alviana Jaimun

Mengintip Hujan, dan Aku Berpuisi

Dari jendela aku mengintip
Tidak ada yang kutemui di sana
Rerintikan hujan meniduriku sepanjang hari
Aku masih terbaring resah

Apa kabarmu hari ini?
Apa mungkin kau kedinginan?
Jika iya,
aku ingin memeluk tubuh dengan puisi
Aku yakin hangat menguat sampai ke lubuk hati, kekasih.

Jendela dan hujan menjadi saksi
Aku berpuisi
Teruntukmu yang masih menghujani hati ini
Dengan derai tawa yang melekat dalam sanubari.

Baca juga: Selimut Dusta Antologi Puisi Mba Ayu

Di Saat Semua Terasa Jauh

Saat semua terasa jauh
Saat itu pula kita merasa sepi
Aku tak pernah menggubris
Untuk semua yang terjadi

Sedangkan itu,
Alam mematung menadah hujan
Dalam sunyi yang gelap
Aku mengigil kedinginan
Tanpa pelukan hangat

Kau itu seperti senja
Yang tak pernah kusentuh
Lalu, menghilang!
Demikian juga kita malam ini
Yang tak akan temu

Pada separuh malam
Aku ingin seperti angin

Yang membawa sejuta kenang
Yang pernah kita rajut bersama

Terkadang,
Aku merasa kita adalah waktu
Yang tak bisa di tebak
Sampai kapan kita akan terjebak dalam alunan waktu ini?

Aku yakin
Semuanya akan tetap indah
Pada jeda waktu yang panjang
Kita adalah sepasang kekasih yang bahagia
Dalam waktu yang tepat

Baca juga: Kembang Api Perjumpaan Antologi Puisi Yohan Matabuana

Hujan dan Rindu

Malam ini,
Rintikan hujan mengetuk binar binar rindu yang mengebu di sebuah hati,
Menari-nari bersama kelamnya malam mengusik sepih ingin bersua,
Meracik bersama rindu yang memadai, bahwa aku harus menyanjungkanmu malam di ruang rindu,
rasanya sakit!

tak seperti biasanya kita, kita yang pernah nikmati hujan kalah kita bersua
Andaikata kau disini mengartikan hujan di setiap rerintikanya yang mengenang rindu

Baca juga: Ina Ada yang Patah Selepas Mengenalmu

Aku Mencintaimu

Aku mencintaimu seperti senja kepada langit,
Matahari kepada semesta,
bintang kepada malam
Yang menjadikan kau paling istimewa dibalik indahnya ciptaan Tuhan

Aku mencintaimu seperti puisi kepada pena yang menorehkan kata pada secarik kertas,
Mengindahkan puisi dengan sajak-sajak romantis
Untuk sebuah nama, yang menjadi ilusi di kepala
Jadikan rindu sebagai tuan dari puisi-puisiku
Mencintaimu adalah harapan
Untuk mimpi-mimpi
Yang masih dalam angan,
Menerawang jauh,
Pada waktu yang tak bisa kutebak

Mencintaimu adalah doa
Yang kuaminkan ulang-ulang
Dalam kitab suci
Di sana Tuhan merestui kita dengan sabdanya.
Aminkan saja, sayang.

Penulis : Sandro Gagu, Alumni Unika St. Paulus Ruteng

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button