cerpen

Menikmati Secangkir Kopi dengan Rasa yang Berbeda

“Bagaimana dengan kopimu pagi ini. Manis ka? Pahit ka? Atau sedikit masam karena biji kopimu tidak segar? Tanyaku kepada Wawan.
“Pagi ini, aku tidak minum kopi. Aku cukup minum air putih saja” Jawab Wawan dengan singkat.
“Kenapa begitu?” Tanyaku lagi.

“Tadi malam aku tidak bisa tidur gara-gara minum kopi kemarin sore. Kedepannya kalau minum kopi, aku cukup minum kopi di pagi hari saja. Minum kopi di pagi hari selain membawa hangat pada tubuh juga bisa mendatangkan banyak inspirasi untuk menulis sesuatu.”
“Iya ka. Kalau begitu cukup minum kopi di pagi hari saja. Supaya malamnya bisa tidur cepat.”
“Terus, bagaimana dengan rasa kopimu pagi ini? Pahit ka? Atau manis? Tapi aku tahu, engkau suka minum kopi pahit. Biasanya orang Manggarai suka kopi pahit. Iya to.”

“Iya teman aku suka kopi pahit. Pagi ini, aku minum kopi pahit. Bukan hanya pagi ini, tapi bahkan sejak dari dulu. Tahu to, kalau orang Manggarai minum kopi. Gulanya sedkit, kopinya lebih banyak sehingga rasanya pahit.”
“Kenapa orang-orang Manggarai lebih suka minum kopi pahit, termasuk engkau juga?”

“Begini teman. Kami punya nenek moyang dulu suka tanam kopi. Penghasilan dari kopi itu tidak semuanya dijual ke pasar atau ke orang-orang China. Kalau misalnya, hasil panen kopi sebanyak lima karung, mereka akan menjual empat karungnya, sedangkan satu karungnya untuk minum di rumah. Selain dikonsumsi diri sendiri juga tamu yang datang ke rumah. Dulu kan tidak ada jual gula. Mereka putar kopi itu tanpa gula. Kebiasan inilah menjadi turun temurun. Begitu ceritanya.”

“Ohh, tapi tidak ada pengaruh dengan kesehatan ka?”
“Tidak ada teman. Tidak ada sama sekali pengaruhnya untuk kesehatan. Kemarin dulu, ada seorang dokter datang ke rumah kami. Dia datang untuk sosialiasi bagaimana cara memakai masker yang baik di tengah wabah virus corona ini. Selain datang sosialiasi itu, beliau juga mengatakan bahwa minum kopi pahit bisa membantu daya ingat, membersihkan saluran pencernaan juga membantu mengurangi berat badan dan membantu mencegah penyakit jantung.”

“Aduh begitu ka! Tolong ajarin, bagaimana cara membuat kopi pahit. Selama ini kalau minum kopi, aku lebih suka yang manis bukan pahit. Kadang kalau saat putar kopi, gulanya lebih banyak ketimbangan kopi. Misalnya satu cangkir itu, aku mengisi kopi satu sendok sedangkan gulanya bisa sampai empat lima sendok. Rasanya sangat manis.”

“Aduh teman. begini-begini bisa datangkan penyakit. Kalau mau minum kopi pahit berarti gulanya agak sedikit, kopinya lebih banyak. Misalnya engkau mau putar kopi pakai cangkir kecil, berarti gulanya setengah sendok sedangkan kopinya dua sendok. Rasa pahitnya pasti dapat dan tidak terpengaruh dengan kesehatan. Tapi aku sarankan, supaya berat badanmu bisa turun, setiap pagi harus minum kopi tanpa gula. Bisa to?”

“Terima kasih banyak teman. Pagi ini aku bisa mendapat pengetahuan baru. kedepannya aku berusaha untuk ingat tips ini kalau mau minum kopi. Tadi engkau katakan kalau mau berat badan turun, harus minum kopi pahit tanpa gula. Ini to tips tadi! Atau salah?”
“Iya, tipsnya seperti itu. Aku yakin berat badanmu akan turun.”

“Bagaiaman dengan kopimu pagi ini? Manis ka? Pahit ka? Atau sedikit masam karena biji kopimu tidak segar?” Tanyaku lagi kepada Wawan. Dua hari lalu aku telah membagi tips cara membuat kopi pahit. Dan kali ini aku melihat apakah Wawan benar-benar melakukannya.

“Coba engkau rasakan kopi buatanku ini.” Jawab Wawan sambil memberi cangkir kopi kepadaku.
“Aku tidak mau minum kopi buatanmu. Rasa kopimu biasanya manis dan biji kopinya masih menari di bibir gelas. Aku tidak mau.”
“Aduh teman, coba engkau rasakan dulu. Ini kopi beda dengan kopi yang selama ini aku putar. Sungguh-sungguh beda. Mari teman, coba engkau rasakan sedikit”.

“Baiklah!”Seteguk demi seteguk aku rasakan kopi buatannya.
“Bagaimana rasanya. Pahit atau manis?”
“Mantap teman. inilah namanya kopi pahit. Sekarang aku suka minum kopi buatanmu. Berapa sendok gula kau tuang tadi?”
“Satu sendok saja. Kopinya tiga sendok.”
“Ternyata tips yang kubagikan benar-benar kau ingat. Bagaimana berat badanmu sekarang? Turun atau masih seperti dulu?”
“Setelah engkau memberikan tips itu, saban pagi saat mentari telah tiba, aku pergi ke dapur untuk putar kopi. Sekarang berat badanku agak turun.”

“Mantap kalau begitu. Minum terus kopi pahit. Aku yakin berart badanmu pasti sama sepertiku.”
“Tapi sekarang aku agak sakit-sakit. Kadang mual, kadang juga kepala pusing kalau duduk terlalu lama. Aku takut itu sakit lambung.”
“Sekarang aku bertanya: Saat engkau minum kopi pada pagi hari, apakah sarapan lebih dahulu atau minum kopi?”
“Selama ini biasanya aku duluan minum kopi. Apabila kopinya habis baru aku mulai sarapan.”

“Itu salah teman. Kalau engkau mau minum kopi, sarapan lebih dahulu. Kopinya kemudian.”
“Ohh, begitu ka teman. Terima kasih untuk sarannya.”
“Apakah engkau tahu efek samping minum kopi pagi hari tanpa didahului sarapan?”
“Belum tahu teman. Tolong jelaskan sekarang.”
“Pantas engkau sakit lambung. Dengar baik-baik. Tapi apa yang aku jelaskan sekarang bukan joak ( bohong).”
“Iya, aku tahu. Beritahu cepat sekarang.”
“Begini teman, kopi hitam memiliki efek pencahar dan merangsang pelepasan asam lambung, sehingga bila dikonsumsi secara tidak teratur, dapat menyebabkan sakit perut. Selain itu, mengonsumsi kopi pahit secara berlebihan juga dapat memperburuk kondisi penyakit asam lambung, yang menimbulkan keluhan berupa nyeri ulu hati.”

“Aduh teman. Jangan-jangan aku sakit lambung.”
“Aku pikir begitu tadi ketika engkau mengeluh tentang keadaanmu. Bagaimana masih mau minum kopi pahit?”
“Aku coba berhenti sejenak satu dua bulan kedepannya. Bukan berarti aku tidak suka minum kopi lagi. Aku fokus untuk merawat sakit ini. Kalau sudah sembuh nanti aku kembali minum kopi.”
“Itu juga baik teman. Jangan lupa ke dokter untuk resep obat.”

“Selamat sore teman. Selamat datang di kamar tidurku. Apakah anda merasa lebih baik?” Tanyaku kepada Wawan. Satu minggu yang lalu Wawan masuk rumah sakit dan sekarang dia berada di kamarku.

“Ya, terima kasih, teman. Aku sekarang sudah sembuh.”
“Bersyukurlah teman. Berarti doaku selama dua hari ini tidak sia-sia. Tuhan mendengarkan isi hatiku. Apakah anda mau minum kopi?”
“Tidak, terima kasih.”
“Baiklah, seorang pencinta kopi pahit sepertimu yang tidak ingin ditawari minum. Ini sesuatu yang baru. Apakah anda keberatan jika aku…?

“Teruskan, teman”.
“Aku tahu bahwa anda telah tingga selama beberapa hari di rumah sakit. Tapi setidaknya engkau menghargai tawaranku. Kami orang Manggarai sangat mengharagai sekali namanya tamu. Bagi kami orang Manggarai, tamu itu identik dengan kehadiran Tuhan yang datang mengunjungi kami. Dan tamu wajib minum kopi”.

“Iya itu benar. Beberapa hari itu, aku merasa sakit lambung karena sering mengonsumsi kopi pahit. Aku juga tahu sedikit adat orang Manggarai khususnya cara menerima tamu. Aku pernah mengalamai itu waktu ada kegiatan di sebuah kampung di Manggarai. Tapi untuk sekarang aku bukan menolak tawaranmu untuk minum kopi. Engkau harus tahu aku baru pulang dari rumah sakit.”
“Baiklah teman. Tapi ke depannya masih minum kopi to.”
“Nanti aku tanya dokter dulu. Tapi rupanya dokter menganjurkan agar aku tidak akan mengonsumsikan kopi pahit lagi.”

Riko Raden, anggota unit St. Rafael Ledalero.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button