Opini

Menolak Lupa Destinasi Pariwisata yang lain di NTT

(Sebuah tanggapan kritis atas argumentasi A. Bakri HM)

Oleh: Akri Suhardi (Mahasiswa)

Akhir-akhir ini media online sedang ramai mendikusikan A. Bakri HM, salah seorang anggota DPR RI dari fraksi partai amanat nasional (PAN). A. Bakri HM, menjadi popular lewat pernyataanya yang viral dengan mengatakan bahwa tidak ada yang istimewa dari tempat pariwiasata di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kecuali Komodo. “Saya kemarin diajak oleh teman-teman komisi V (DPR) kunjungan ke NTT. Tidak ada yang istimewa di sana, paling yang istimewa komodonya saja”, kata Bakri dalam rekaman video yang diunggah di akun Youtube komisi V DPR RI (CNN Indonesia, 1/2/2021). Pernyataan Bakri ini menuai kontroversi dan mendapat banyak kritikan dan kecaman dari berbagai kalangan, termasuk masyarakat NTT. Prihal respon atau tanggapan yang mucul untuk melawan argumetasi Bakri, penulis mencoba memberi tanggapan kritis terhadap pernyataan Bakri tersebut. Tanggapan kritis ini bertitik tolak pada tesis dasar: Mengapa Bakri mengatakan bahwa yang istimewa dari pariwisata di NTT, hanya Komodo?

Baca Juga : Di Batas Kota Antologi puisi Maria Makdalena
Baca Juga : Food Estate dan Budaya Berkerumun

Mengenal Tempat pariwisata Di NTT

            Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi yang memiliki banyak destinasi parawisata. Hal dibuktikan kalau pada tahun 2009, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan program vokasi pariwisata, univeritas Indonesia berkerjasama dengan depertemen kebudayaan dan pariwisata Republik Indonesia melakukan penelitian. Dari hasil penelitian menujukan provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu destinasi unggulan berdasarkan peraturan menteri kebudayaan dan pariwisata nomor PM.37/UM.001/ MKP/07 tentang kriteria dan penetapan destinasi pariwisata unggulan, dengan berdasar pada: Ketersediaan sumber daya dan daya tarik wisata, fasilitas pariwisata dan fasilitas umum, aksesibilitas, kesiapan dan keterlibatan masyarakat, potensi pasar dan posisi strategis pariwisata dalam pembangunan daerah (Rusli Cahyadi,dkk; 2009).

            Adapun tempat pariwisata yang berada di NTT, sebagaimana yang dikemukan oleh UNESCO yakni; taman nasional komodo yang terletak di ujung barat pulau Flores, Hutan Mbeliling terletak di Flores bagian barat tepatnya di kebupaten Manggarai Timur, kampung tradisional Waerebo terletak di kebupaten Manggarai, tarian Caci sebagai tarian khas orang Manggarai, perkampungan Megalitik Bena yang terletak di kampung Bena kebupaten Bejawa, Lodok (sawah berbentuk jaringan laba-laba) yang terletak di kabupaten Manggarai, Danau Kelimutu yang terletak doi kebupaten Ende, Kuburan raja yang terletak di Sumba Timur, Rumah adat di Sumba Timur dan kain tenun di NTT.  Semua destinasi pariwisata yang ada sejauh masih tetap eksis. Dan terdapat banyak penambahan tempat pariwisata baru di NTT, seperti panatai Koka di Maumere-Sikka, danau Rana Mese di Manggari Timur, Tanjung Bastian di pulau Timor-Atambua, tarian perang dari Adonara-Larantuka, dan masih banyak destinasi pariwisata lain yang ada di NTT.

            Eksistensi destinasi pariwsata yang lama dan penambahan destinasi pariwisata yang baru menujukan jika provinsi NTT lanyak menjadi daerah pariwisata unggulan. Maka dari itu, pengelolahan dan pengembang destinasi pariwisata ini sangat bergantung pada kinerja kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Salah satu yang menjadi tuntutan utama adalah pemerintah menyediakan dana yang cukup untuk membantu kelancaran pembangunan destinasi periwisata ini.

Baca Juga : CINTA VIRGINIA
Baca Juga : Bunga di Tepi Jalan

Menolak Lupa Destinasi Pariwisata Yang Lain di NTT

            Membaca dan mendengar pernyataan Bakri tentunya sungguh aneh bagi orang-orang yang sudah datang dan mengunjungi destinasi tempat-tempat pariwisata di NTT. Destinasi pariwisata yang dimaksud sebagaimana yang yang diungkapkan penulis di atas. Namun, sebelum mengkritisi lebih lanjut pernyataan Bakri, baiklah kita membaca konteks pembicaraan Bakri.

            Bakri mengungkapkan bahwa yang istimewa dari pariwisata di NTT  hanyalah komodo, terjadi pada saat mengadakan rapat dengan kementraian PUPR membahas program kerja 2020 dan 2021 termasuk anggaran pembangunan destinasi wisata dan pada saat itu Bakri menyoroti anggaran pembangunan wisata terutama di NTT (Detik. com, 31/01/2021). Dalam rapat tersebut Bakri mengkritisi pengalokasian dana pembangunan destinasi wisata yang tidak merata ke setiap daerah. Bakri mengklaim bahwa masih banyak daerah lain yang membutuhkan dana pembangunan destinasi pariwisata. Akan tetapai Bakri menyatakan ”jadi saya bilang di NTT pun indah tetapi perlu istimewa, yang terlalu istimewa pulau komodonya itu, karena memang komodonya itu semua orang tidak punya, kalau pantaikan banyak, di Bali ada (Detik. com, 31/01/2021).

Baca Juga : Bukan Aku Yang Dikubur, Tapi Harapku
Baca Juga : Via Dolorosa Antologi Puisi Antonius Bi Tua

            Menolak lupa objek pariwisata yang lain di NTT merupakan bentuk tanggapan terhadap pernyataan Bakri. Menyimak pernyataan Bakri, hemat penulis dia terlalu gegabah dalam menyimpulkan jika hanya komodo yang istimewa dari destinasi parawisata di NTT. Dalam konteks ini, Bakri hanya melihat komodo sebagai yang istimewa karena komodo itu langkah, lalu bagaimana destinasi wisata yang lain? Seperti danau tiga warna, sawah berbentuk jaringan laba-laba dan destinasi wisata lain. Seharusnya Bakri perlu berpikir terbuka dan melepaskan sikap ego. Apalagi meremehkan destinasi pariwisata daerah lain.

            Mempersoalkan pembagian dana pembangunan pariwisata ke setiap provinsi se-Indonesia dengan mempermaslahkan pengalokasian dana pariwisata ke provinsi NTT adalah sebuah kekeliruan besar. Hemat penulis dengan mempertimbangkan banyaknya destinasi pariwisata di NTT pengalokasian dana yang besar itu sangat wajar. Di samping dengan situasi NTT sebagai provinsi tertinggal, pembangunan pariwisata dengan mengalokasikan dana yang besar dapat memajukan provinsi NTT.  Adapun pendanaan pariwisata itu sendiri sudah diatur  dalam UU RI nomor 10 tahun 2009 pasal 58 yang berbunyi; pengolahan dana kepariwisataan dilakukan berdasarkan prinsip keadilan, efensiesi, transapransi dan akutabilitas publik. Untuk itu menyebut Komodo sebagai satu-satunya destinasi pariwisata istimewa di NTT dan mengabaikan destinasi pariwisata yang lain merupakan bentuk sikap lupa. Juga menggambarkan sikap “reme” dan absurditas dalam berpikir. Atau memang dengan bersikap lupa merupakan cara meloloskan kepentingan pribadi dan kelompok. Sikap dan cara berpikir seorang pemimpin seperti ini menujukan jati diri seorang pemimpin “pelupa”. Dia hanya melihat hal besar dan mengabaikan hal kecil, melihat yang terkenal dan mengabaikan yang tak terkenal. Maka dari itu, menolak lupa akan destinasi pariwisata yang lain di NTT adalah kewajiban dalam berpikir kita. Hanya dengan demikian provinsi NTT dapat maju dan tidak terus diremehkan

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button