cerpen

Merawat Jalan Sunyi

Penulis : Ema Mouri adalah nama pena dari Ino Mori | Alumnus Seminari BSB

Seandainya kamu paham bahwa hidup adalah perjuangan maka jalan tak akan seberat ini. Seandainya kamu tahu bahwa melangkah sendri menapaki ziarah hidup ini memang berat pasti kamu rela bersanding bersamaku, sebab darimu aku belajar berjalan dengan kepala tegak dan hati yang lapang. Dan seandainya kamu paham bahwa setiap tulang rusuk yang hilang melahirkan rasa rindu barangkali jalan tak sesunyi ini.

Ada jalan sunyi untuk dilalui dari setiap ziara hidup. Kisah-kisah masa lalu menjadi kenangan yang terus terngiang dalam ingatan ketika sunyi menghampiri diri. Dengan hati tegar aku merangkai kembali jejak-jejak masa lalu yang masih terdampar di pelabuhan hatiku. Aku giat memungut kembali serpihan-serpihan itu sembari mengabadikan dalam buku harian. Kelak kenangan ini menjadi warisan bagi generasi yang akan datang. Tentang perjumpaan, jatuh cinta dan setiap kisah yang pernah kita lalui bersama.

Baca Juga : Senja di Pantai Hatimu Antologi Puisi Wandro Julio Haman
Baca Juga : Hermeneutika Diri : Sebuah Jalan Yang Panjang

Pada malam itu, kau tebarkan senyum yang menggetarkan ragaku. Aku luruh menatap wajahmu yang cekung nan ayu. Pertemuan itu menyimpan sejuta kisah penuh rahasia dari dua anak manusia yang sama-sama saling jatuh cinta. Kita berbincang banyak hal; tentang biaya hidup yang mahal, pendidikan yang tidak merata, Perihal para remaja yang tidak menikmati bangku kuliah karena tidak memilki biaya pendidikan, bagaimana perjuangan hidup anak-anak yang berada di pelosok negeri untuk melewati lembah, mendaki bukit, menyeberangi arus sungai untuk memperoleh pendidikan. Di atas segalanya kau paham bahwa pengorbanan dan harapan selalu terpatri dalam benakmu.

Aku memahamimu sebagai Mahasiswa yang aktif di setiap kegiatan kampus. Kamu suka berbicara tentang pendidikan, kau kerap mengikuti seminar, pertemuan kelompok sastra, dan bahkan menjadi pembicara pada sebuah forum resmi. Kamu mengenal banyak orang. Kamu bertindak bebas tetapi penuh tanggungjawab. Saya masih ingat semboyan hidupmu “Kebebasan yang paling mendasar adalah menjadi diri sendiri dan berkembang sesuai dengan kemampuan diri”. Aku mengagumi dirimu.

Baca Juga : Lika-Liku Kentut
Baca Juga : Bersyukur Antologi Puisi Frumend Oktavian. M

Cinta yang telah jatuh, lebih dari luasnya langit dan dalamnya lebih dari palung lautan . Bermula dari perkenalan, ketika dua pasang mata saling menatap dan melempar senyum. saat itu hatiku terlanjur jatuh di muara hatimu. Seperti seorang musafir aku mendapatkan oase yang sejuk di muara hatimu. Dengan bahasa yang sederhana kita berusaha saling memahami bahwasannya jatuh cinta selalu berawal dari pandangan mata lalu mengalir dan bermuara di hati.

Entah mengapa, suatu malam yang dingin kita melepas peluk yang berujung luka. Setelah perbincangan singkat yang kita lalui, kamu memutuskan pergi dari hadapanku dengan alasan yang seadanya. Memang berat. Dalam hal ini aku menjadi lelaki yang paling rapuh ketika mengahadapi kenyataan dan berujung penyesalan yang amat mendalam. Sejujurnya aku tak ingin kehilanganmu. Sebab rindu terlampau berat.

Baca Juga : Eksistensi Generasi Milenial
Baca Juga : Membangun Pemahaman Komprehensif Tentang Perbedaan Status Kewarganegaraan Dan Status Kependudukan

Belum merangkai sayap-sayap masa depan, tetapi kita telah terhenti di tahun pertama ketika ego dan cemburu berkecamuk di dalam dada. Terlalu mudah saat jatuh cinta berawal dari saling tatap.  Mataku terlanjur jujur dan telingamu begitu mudah untuk menyimak ungkapan awal yang membuat hati bergetar. Di saat itu kita seperti orang yang sedang mabuk. Eh.. masi ingat setelah perkenalan itu aku mengajakmu ke sebuah tempat yang indah. Di tempat itu kita meneguk sebotol bir mengusir malam yang terasa dingin. Aku merangkulmu penuh syahdu dan tanganmu erat memeluk tubuhku. Kita menjadi mabuk asmara.

            Aku menanti di sini seorang diri. Udara yang perlahan mulai membasah, dedaunan tampak berseliweran sepanjang jalan kenangan. Kembali ke cafe merupakan impianku sejak berpisah denganmu. Menikmati matahari turun di ufuk barat. Menyaksikan sepasang kekasih memesan secangkir kopi sebelum mencari posisi duduk yang tepat. Mereka tampak romantis, berjalan sembari bergandengan tangan menyusuri bangku-bangku kecil sebelum duduk di pojok paling kiri.

Baca Juga : Beberapa Hari Menjelang Akhir Antologi Puisi Yanri Ona
Baca Juga : Cantik Itu Luka Antologi Puisi Kanis Rade

Aku mengenang kembali kisah malam itu. Malam yang suntuk dan kamu merebahkan diri pada pangkuanku. Barangkali itulah totalitas cinta ketika kita saling percaya bahwa debar cinta lebih dahsyat dari angin sakal. Aku selalu merindukanmu. Aku tetap menggenggam rindu ini dalam doaku.

Mentari menggantung rendah di ufuk Timur. Mengenang kamu serupa memeluk angin. Entah. Rindu ini terlampau berat, jiwa pun kian lembab. Mengapa kamu begitu mudah untuk meninggalkan jejak-jejak kasih dari kisah yang kita lalui. Sebelum semburat jingga menghilang biarkan aku tetap di sini merawat jalan sunyi, lalu merindukanmu dengan hati yang tulus. Sebab itulah cara melunakkan ingatan dari masa lalu yang kita jalani.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button