Opini

Model Politik Eudaimonistik Aristoteles (384/383-322 SM)

Penulis : Otto Gusti Madung

1 Pengantar

Model ini dikembangkan pertama kali oleh Platon, lalu dilanjutkan oleh Aristoteles. Keduanya berpandangan bahwa negara dibutuhkan sebagai syarat mutlak untuk mencapai kebahagiaan (eudaimonia) dan pengembangan hidup baik. Platon (427-347 SM) menulis tiga karya besar filsafat politik yakni Politeia (Republik), Politikos (Pemerintah) dan Nomoi (Undang-Undang). Ketiga karya ini mengandung konsep politik yang sangat berbeda satu sama lain. Tidak jelas pandangan mana yang menjadi keyakinan Platon andaikata ia memang menganut satu teori politik tunggal. Kendatipun demikian satu hal mempertemukan ketiga konsep tersebut: kebahagiaan menjadi basis teori politik. Sebuah kerja sama sosial yang erat merupakan sesuatu yang dasariah dalam teori politik Platon guna mewujudkan kebahagiaan individual. Platon coba membuktikan bahwa relasi kerja sama sosial yang adil merupakan jembatan emas menuju eudaimonia. Perkembangan moral sama sekali tidak merusakkan interese individual, bahkan merupakan unsur dasariah demi terciptanya eudaimonia.


Dalam Politeia, Platon menjelaskan secara detail bagaimana terbentuknya negara adil yang sempurna. Menurut Platon, negara terbentuk karena tak seorang individu pun mampu hidup sendirian. Setiap individu membutuhkan orang lain. Berdasarkan prinsip bahwa setiap orang harus melakukan atau mendapatkan apa yang menjadi haknya, maka dibedakan tiga kelas sosial yang dikategorikan secara hierarkis. Kelas tertinggi adalah para filsuf, kelas menengah ditempati kelompok militer dan kelas terendah adalah para petani, tukang, pedagang, dll (kelas pembantu). Di samping itu Platon juga mengemukakan tuntutan yang sengaja diciptakan sebagai provokasi untuk masyarakat Athena waktu itu, yakni: perempuan memiliki posisi yang setara pada kelas filsuf dan militer, penghapusan hak milik pribadi dan keluarga serta kekuasaan para filsuf.

Baca Juga : Terjaga Antologi Puisi Lidwina Rusmawati
Baca Juga : Pesan Singkat Antologi Puisi Maxi L Sawung


Pada abad ke-20 Politeia dicurigai sebagai akar dan penyebar benih-benih totalitarisme. Ia juga dikritik telah mendukung eugenik, manipulasi dan eutanasia. Namun sesungguhnya teori politik Platon tidak dirumuskan sebagai sesuatu yang siap pakai. Sebaliknya ia menegaskan kalau teori politiknya dirumuskan sekian sehingga tak mungkin diterapkan. Jika Politeia mengembangkan model kekuasaan yang rasional, maka Politikos sebaliknya mengangkat pandangan tentang bentuk negara yang berorientasi pada undang-undang. Menurut Politikos kekurangan undang-undang terungkap dalam karakternya yang tidak fleksibel berhadapan dengan keunikan setiap orang dan perubahan waktu. Tanpa cacat tersebut undang-undang sesungguhnya memiliki kualitas lebih daripada filsuf sebagai raja.


Lebih jauh, dalam Politikos Platon mengembangkan teori konstitusi bertingkat di mana ia membedakan secara kualitatif enam jenis konstitusi. Berdasarkan kriteria dalam menjalankan praktik kekuasaan, dibedakan tiga bentuk negara yakni monarki, oligarki dan demokrasi. Di samping itu prinsip umum berlaku bahwa politik dengan pijakan pada undang-undang dipandang lebih baik daripada anarkisme. Atas dasar prinsip ini, lahirlah sebanyak 2 x 3 bentuk negara. Bentuk negara terbaik adalah monarki atau kekuasaan tunggal yang berpijak pada undang-undang, yang terburuk adalah tyrani atau kekuasaan tunggal tanpa hukum. Urutan kedua terbaik adalah aristokrasi atau pemerintahan oleh kaum bangsawan dan bentuk negara kedua terburuk adalah oligarki atau pemerintahan oleh segelintir orang kaya. Sedangkan urutan ketiga terbaik adalah negara hukum demokratis dan keempat terbaik negara demokratis tanpa hukum.
Dalam Nomoi Platon menguraikan prinsip negara hukum secara lebih mendalam. Ia membahas pertanyaan-pertanyaan konkret seputar konstitusi, birokrasi, prosedur pemilihan umum, masalah perdagangan dan ekonomi, distribusi kekayaan, KUHP atau politik luar negeri.
Aristoteles (384-322 SM) juga mengembangkan teori politiknya dari sudut pandang eudaimonistis. Dengan berpijak pada distingsi antara hidup semata (zén) dan hidup baik (eu zén) Aristoteles merumuskan tujuan negara sebagai perealisasian hidup baik para warga. Untuk memahami pandangan ini perlu dijelaskan dua hal penting. Pertama, Aristoteles mengartikan manusia sebagai makhluk sosial (zôon politikon) . Manusia hanya dapat merealisasikan dan mengembangkan identitasnya dalam komunitas.

Baca Juga : John Rawls: Keadilan Global dan Nalar Publik (1921- 2002)
Baca Juga : Pesan Singkat Antologi Puisi Maxi L Sawung


Kedua, Aristoteles menginterpretasi polis sebagai struktur sosial satu-satunya yang sesuai dengan kodrat manusia dan tempat di mana manusia dapat mengembangkan potensinya dengan baik. Itulah perbedaan polis dari bentuk hidup bersama lainnya seperti relasi perkawinan, keluarga dan komunitas suku atau kampung. Komunitas-komunitas sosial kecil ini mengurus hal-hal yang niscaya seperti kebutuhan biologis. Sementara itu komunitas politis bertugas memenuhi pelbagai kebutuhan material dan juga pembentukan karakter warga. Menurut Aristoteles keutamaan-keutamaan intelektual dan moral hanya dapat dipelajari dan dikembangkan di dalam polis. Proses pembelajaran dan internalisasi keutamaan-keutamaan tersebut tentu sangat bergantung pada kondisi polis yang ditata secara adil, beradab dan sejahtera. Seperti Platon, Aristoteles juga berpandangan bahwa keutamaan merupakan basis bagi terciptanya eudaimonia atau kebahagiaan. Dengan demikian kebahagiaan sebagai perwujudan konsep hidup baik yang totalistik hanya mungkin dicapai dalam sebuah komunitas politis. Komunitas politis tersebut menyediakan segala hak dasar dan membantu individu guna mengembangkan potensi-potensinya.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10Laman berikutnya

Artikel Terkait

Komentar

  1. A maverick Japanese doctor recently leaked the secret ingredients of an ancient Japanese Tonic that targets the root cause of deep belly fat and activates a powerful little-known fat-burning hormone inside you…that MELTS away all your stubborn body fat.

    => Discover the “Done for You” Japanese Tonic to Melt 3 Pounds Every 3.5 Days
    ==> https://bit.ly/melt-belly-fat-easily

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button