Opini

Mungkinkah Tuhan Hadir di Tengah Wabah Covid-19?

(Sebuah Tinjauan Filosofis tentang Keberadaan Allah Seturut Pandangan Derrida)

Oleh: Fredy Langgut, Mahasiswa semester VII STFK Ledalero

Pada hakikatnya, manusia adalah Homo Religioso (makhluk religius). Sebagai makhluk religius, manusia selalu berkecenderungan untuk mengarahkan perhatiannya pada rasa akan keberadaan Yang Ilahi. Dalam kenyataannya, Allah selalu dipahami sebagai realitas transendental yang berada jauh dari keberadaan mnausia. Oleh karena keberadaannya yang jauh, manusia selalu merindukan untuk berada dekatnya. Secara Alkitabiah, manusia diciptakan secara sempurna menurut gambar dan citra Allah sendiri. Allah digambarkan sebagai kenyataan yang sempurna, Maha Tinggi, dan tampak lain daripada keberadaan manusia itu sendiri. Kesadaran tentang kesempurnaan Allah tentu berasal dari daya kecerdasan intelektual manusia di mana manusia berusaha untuk merakit gagasan tentang Allah itu. Kecerdasan berpikir merupakan keistimewaan dasariah manusia yang membedakannya dari ciptaan-ciptaan lainnya.

Secara filosofis, keberadaan manusia di dunia masih banyak diperdebatkan apakah ia benar-benar ciptaan Allah ataukah semata-mata karena teori evolusi yang diciptakan oleh Charles Darwin. Kendati, agama-agama Abrahamik mengakui dengan jelas bahwa manusia adalah ciptaan Allah, namun tidak banyak yang benar-benar mengakui itu sebagai kebenaran mutlak. Hal itu dipengaruhi oleh kecenderungan kritis manusia utuk mempertanyakan segala realitas yang ada. Dengan melihat kenyataan yang dihadapai oleh manusia dewasa ini, khususnya wabah virus corona, mayoritas manusia, khususnya manusia beragama kembali mempertanyakan peran Allah di dalamnya.

Judul tulisan di atas merupakan sebuah usaha untuk mempertanyakan keberadaan Allah di tengah kedasyatan virus covid-19. Hemat saya, sebagai orang beriman dan beragama, penulis amat yakin bahwa Yang Ilahi tetap berperan penting di dalamnya di mana Ia hadir, menyerukan kuasan-Nya yang bergema melalui otoritas Gereja yang menyerukan kepada para pengikutnya untuk memberikan dispensasi khusus kepada umat untuk tidak mengambil bagian dalam pelbagai kegiatan keagamaan. Selain itu, Allah hadir lewat pemimpin negera yang berusaha membatasi ruang gerak warga negara dengan memberlakukan physical dan social distancing serta lockdown yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus ini. Saat ini, dunia sedang mengalami guncangan besar oleh karena pandemik wabah virus corona yang semakin ganas tanpa memandang bulu.

Tak dapat dipungkiri bahwa virus ini telah menjadi isu global karena penyebaran hampir dialami oleh semua negara, seakan-akan telah menjadi perang dunia yang bekerja dalam ruang yang tak dapat dideteksi. Virus ini telah memakan korban jiwa maupun korban dan ratusan bahkan ribuan manusia yang tak berdosa sedang dirawat di rumah sakit. Sebagai umat beriman, saya amat yakin bahwa pada satu sisi, wabah ini merupakan salah satu teguran terbesar dari Tuhan bagi semua umat manusia dan dunia untuk mendekonstruksi cara berpikir manusia tentang yang Ilahi dan pada sisi lain bisa jadi merupakan usaha untuk menghancurkan ekonomi negara lain. Dengan demikian, yang menjadi pertanyaan mendasar dalam tulisan ini ialah: Mungkinkah Tuhan Hadir di Tengah Covid-19?

Oleh karena itu, untuk dapat memahami lebih dalam tentang realitas wabah covid-19 dan kehadiran Allah di tengah virus ini, penulis berusaha memperluas wawasan dalam tulisan ini dengan menggunakan konsep Derrida tentang apa sebenarnya iman, agama, dan Allah.

Riwayat Hidup

Derrida adalah salah satu filsuf yang sangat berpengaruh dalam dunia filsafat. Ia sangat kritis terhadap ide-ide filsuf-filsuf pada abad sebelumnya. Pemikirannya selalu dipandang sebagai inspirasi filosofis dalam kehidupan manusia dewasa ini. Ia lahir pada tanggal 15 Juli 1930 di Aljazair, dari pasangan Aime Derrida dan Georgette Sultan Ester Safar. Dari Aljasar, ia berpindah ke Prancis pada tahun 1949, sampai menyelesaikan pendidikannya di Ecole Normale Superiucure dan mendapat gelar doctor honoris di Universitas Cambridge. Ia terlahir sebagai seorang Yahudi dan dibesarkan dalam situasi kehidupan yang diskriminasif. Kehidupannya digambarkan seperti sebuah petualangan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Hal ini terjadi bukan karena sebuah kebetulan, melainkan karena situasi yang amat tragis pada zamannya. Salah satu masalah terbesar pada waktu itu ialah situasi politik. Situasi politik pada zamannya merupakan suatu kondisi tragis di mana para kaum kapitalis atau disebut oligarkis berkuasa atas kehidupan masyarakat yang lemah. Pada awal kehidupannya, ia berpindah ke Prancis untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya terlebih khusus dalam konsep pemikiran filsafatnya. Setelah itu, ia memulai mendalami pemikiran fenomenologi yang dirintis oleh Edmund Husser, ketika ia belajar di Ecole Nomale Supericure. Secara tidak langsung, ia mulai memikirkan lebih jauh fenomenalogi Edmund Husser dalam dunia filsafatnya. Dari sini, ia mengembangkan pemikiran filsafatnya dan mengelaborasi seturut latar belakang hidupnya.

Tuhan, Agama, dan Iman

Salah satu tema utama filsafat Derrida ialah dekonstruksi. Penekanan dalam dekonstruksi yaitu menguraikan bahasa teks yang menyikapkan kebenaran yang pasti dan bahwa agama adalah refleksi absolut akan transenden yang dapat tersingkap kebenarannya secara total di dunia berdasarkan bahasa dan rasio manusia. Lebih lanjut, ditegaskan bahwa dekonstruksi juga merupakan dimensi teologis. Dimensi dekonstruksi teologis ini lebih merujuk pada ketidakmungkinan itu sendiri, yaitu keitidakmungkinan untuk membicarakan Tuhan karena pengaruh dari perbedaan yang muncul dari penghormatan yang lain.

Menurut Derrida, agama tanpa agama bukanlah agama dalam pengertiannya konvensional. Agama ini lebih merupakan pengalaman religius dan cara pandang kita dalam mendekati yang Ilahi sebagai yang tak mungkin. Agama tanpa agama ini hanya ingin melampaui tradisi atau institusi agama dan membebaskan pengalaman religius dari keterbatasan tradisi atau institusi agama itu sendiri. Hal demikian telah beragam menyebar ke seluruh bahasa dan budaya. Artinya bahwa keberadaan agama hanya mencakup manusia. Selain itu, agama yang dipahami oleh Derrida adalah sebuah ciptaan Romawi Kuno dan kemudian ditafsir oleh Kristianitas. Dalam artikel Kevin Hart, Kristianitas mengakui bahwa agama itu merupakan sebuah institusi yang memiliki hirarki-hirarki di mana di dalamnya sebagai pelayan akan Tuhan. Tuhan yang dipercayai oleh Kristianitas ialah Dia yang Transenden, Maha Kasih, Maha Baik dan Maha Tinggi. Sedangkan menurut Derrida bahwa Tuhan itu tidak jauh dari kehidupan manusia. Dia selalu ada bersama manusia setiap saat baik suasana duka maupun bahagia.

Oleh karena itu, di sini penulis ingin mengulas tentang realitas sekarang di mana penyebaran wabah Covid-19 semakin meluas di seluruh realitas manusia. Di sisi lain, penulis berkeyakinan bahwa eksistensi Tuhan yang digambarkan Derrida sebagai yang dekat amat relevan dengan realitas Covid-19 yang membunuh banyak korban di seluruh dunia. Realitas ini dapat dilihat dalam hidup umat beriman ataupun tidak beriman yang meninggal maupun yang sedang dirawat di rumah sakit. Penulis yakin bahwa dewasa ini banyak orang mengklaim bahwa Tuhan tidak ada dalam hidup manusia, terlebih khusus dalam situasi menghadapi wabah Covid-19 yang sedang menguasai dunia. Hal ini dipoles dengan pernyataan Nietzche yang mengatakan bahwa Allah sudah Mati. Pernyataan Nietzche ini amat tepat bila dikaitkan dengan realitas penyebaran covid-19 yang telah membunuh banyak korban di beberapa belahan dunia.

Tak dapat dipungkiri bahwa percaya akan eksistensi Allah di tengah situasi covid-19 mengalami kemunduran drastis. Berhubungan dengan banyaknya korban, doktrin-doktrin kebenaran tentang agama bisa menjadi tidak berlaku lagi saat ini dan kesakralan agama menjadi pudar. Hal demikian sedang dialami oleh manusia dewasa ini di mana fundamentalisme iman menjadi sempit karena dunia sedang “Chaos” dan emosi kaum agama semakin labil. Penulis melihat bahwa dalam menghadapi situasi seperti ini sentimen kepercayaan akan ajaran Tuhan menjadi tidak relevan. Di samping itu juga, Derrida menegaskan bahwa iman dapat mendorong pengalaman manusia akan iman menuju arah yang baru, pemikiran yang sama sekali baru dan berbeda. Lebih jauh lagi, bahwa Tuhan tidak bisa diterka, tidak bisa dipastikan dan tidak bisa dipetakan. Hal ini mengandaikan bahwa Tuhan ditempatkan di wilayah yang berbeda bahwa Tuhan tidak bisa disamakan dengan subjek dan juga objek. Tuhan memiliki wilayah sendiri, Dia berada di tempat yang lain.

Hemat saya, masalah iman adalah masalah keseharian manusia yakni mengenai peristiwa yang seringkali menghantui kehidupan manusia. Jika Derrida melihat Allah berada pada wilayah-Nya sendiri, maka sebagai realitas yang berada pada dunia-Nya sendiri, tentu Ia dapat melampaui pikiran dan kekuatan manusia. Saya yakin, Allah bekerja lewat para otoritas Gereja dan pemimpin negara yang terus mengingatkan manusia untuk tetap berada di rumah, beribadah di rumah, bekerja di rumah, berbagai kasih di rumah bersama keluarga, dan penerapa lockdown merupakan salah satu strategi untuk mengurangi peneyebaran virus ini. Degan demikian, Allah bekerja lewat manusia sebagai sarana yang dipakai-Nya. Untuk dapat mmhamai semuanya ini, iman memainkan perannya untuk memahami karya Allah ini.

Konsep Tentang Pengampunan

Derrida memiliki pengertian tersendiri ketika menghadapi konsep pengampunan yang sejati. Pemahaman pengampunan ini tidak telepas jauh dari konsep pembahasan dekonstruksi. Hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat segelintir orang bahwa konsep pengampunan yang digagasnya sangat radikal dan menjadi sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan setiap orang. Karena itu, pada hakikatnya, konsep pengampunan Derrida ialah ia menginginkan bahwa jika suatu pengampunan yang sejati benar-benar ada maka kesejatiannya akan tinggal dalam hal-hal yang praktis, tentang bagaimana manusia menghidupi pengampunan yang dihidupi dalam kehidupannya setiap hari. Selain itu, penulis memahami pengampunan sejati yang dimaksud Derrida merupakan aktivitas keterbukaan manusia kepada sesamanya di sekitar sekaligus kepada dirinya sendiri. Sebagaimana cinta pengampunan sejati itu sendiri melampaui titik batas. Dewasa ini, pemahaman akan pengampunan dipandang sebagai hal yang sederhana dan bahkan dilihat sebagai hal biasa. Pengampunan itu sendiri pada hakikatnya sebagai ungkapan nyata dari sebuah hidup persaudaraan apabila manusia yang hidup dalam budaya, suku, ras terbuka untuk mengampuni.

Virus Corona dan Keberadaan Tuhan

Realitas wabah Covid-19 merupakan fenomena tragis dan bahkan WHO menyatakan bahwa virus corona sebagai pandemi yaitu virus berbahaya yang dapat menular dengan cepat ke segala penjuru tanpa memandang bulu. Virus ini telah menyebar ke seluruh realitas belahan dunia. Virus corona merupakan salah satu virus yang muncul dalam sejarah dunia di mana semua manusia merasa ketakutan akan kekejamannya. Terkait dengan penyebaran virus ini, banyak umat beriman termasuk penulis mengklaim bahwa virus corona mesti dipandang sebagai bentuk perubahan dunia yang radikal. Saya yakin bahwa kehadiran Covid-19 tersebut merupakan salah satu teguran terbesar kepada seluruh umat beriman dan juga untuk mendekonstruksi cara berpikir manusia tentang Allah. Di sisi lain, virus corona merupakan sebentuk perang dunia yang ingin menghancurkan dan mengacaukan kehidupan ekonomi dan politik di dunia.

Pandangan ini bertolak dari kecemasan akan realitas yang sudah dan sedang marak terjadi di tengah kehidupan manusia. Realitas ini coba dihubungkan dengan ide filosofis Derrida yang mengklaim bahwa Tuhan itu dekat, selalu ada di tengah manusia, tidak dapat dijangkaui oleh kaca mata berpikir manusia, tidak dapat dipetakan dengan kekuatan manusia dan Tuhan itu segala kebaikan. Singkatnya, Tuhan yang dipahami Derrida ialah kebaikan yang tidak dapat jangkaui oleh siapapun. Oleh karena itu, penulis menganalisis argumen Derrida bahwa di tengah situasi penyebaran virus ini, Tuhan tetap hadir karena Ia hendak mendekonstruksikan paham manusia tentang diri-Nya yang tak dapat diselami hanya pada raah intelektual. Ia bekerja melampaui sekat-sekat budaya dan bahkan melampaui pikiran dan pengalaman inderawi manusia.

Dengan demikian, manusia seringkali memperdebatkan tentang eksistensi Allah dalam ranah intelektual. Imanuel Kant mengingatkan bahwa Allah tidak dapat dijadikan obyek pemikiran manusia. Hal ini dipengaruhi oleh sebuah kesadaran akan keterbatasan akal budi manusia untuk menyelami misteri Allah. Dalam Kekristenan, Allah dapat dilihat dalam diri Yesus Kristus yang hadir dalam sejarah hidup manusia. Ia diyakini sebagai Putera Allah yang menjelma menjadi manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam Kitab Suci dan dalam ajaran-ajaran Gereja.

Bertolak dari keyakinan ini, penulis mencoba menghubungkan dengan pemahaman tentang eksistensi Tuhan di tengah wabah covid-19 yang diyakini hadir di tengah kehidupan manusia. Salah satu elemen dasar atas kehadiran Tuhan di tengah manusia ialah Dia menyelamatkan semua orang dari situasi sulit melalui pemerintah dan otoritas keagamaan yang berusaha mengatur dan melindungi warga negara sekaligus pengikut agama agar terhindar dari penularan virus ini. Hal ini ditegaskan oleh Derrida sendiri bahwa Tuhan bukanlah realitas yang jauh, melainkan sosok yang dekat dengan kehidupan manusia sebab Ia berada pada wilayah-Nya sendiri.

Artikel Terkait

Satu komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button