Puisi

Nol 3 Titik Satu Koma Kali 1

Nol 3 Titik Satu Koma Kali 1

Kau terpajang hampir sebulan
Mendebar jantung menatapmu
Kau terus membisu di situ
Sirik hati membaca aksaramu
Kapan kau kumiliki

9 nol 3 titik satu koma kali 1
Di pojok itu kau ditata
Seakan isyarat yang terus mengaduk impian
Menatapmu dalam sejuta rancangan
Anganku terus berselancar dalam lingkaranmu
Sekalipun beribu peluh dikerahkan
Walau kau sekadar penghias ilusi
Mungkin suatu saat nanti
Kala peluhku di titik penghabisan
Entah kau datang atau tak
Tak lelahku menunggumu di pintu impian

9 nol 3 titik satu koma kali 1
Hadirmu serasa mengoyak hasrat
Biarlah kau terus berdiam di situ
Sekali waktu mungkin kau datang menyapa
Bukan lagi maya, bukan lagi angan
Tapi, dalam angka dan aksara nyata

9 nol 3 titik satu koma kali 1
Teruslah menghiasi nazarku
Hingga asaku tersampai suatu saat nanti

(Bajawa, 28 Oktober 2020)

Baca juga Senja di Oesapa Berserta Kenangannya

Merpati Kuning Putih

Terbanglah
wahai merpati bersayap kuning putih
Sayapmu telah dirangkai jeruji penangkis
Terbanglah tinggi
jangan kau pedulikan angin
Kepakan sayapmu sekuat baja
Arahkan matamu pada titik yang kau tuju
Tembusi mega
Jelajahi langit biru
Jangan pedulikan guntur dan halilintar
Jika gelap menyapa
Berteduhlah pada purnama
Jika badai menghantam
Bertahanlah di angkasa
Untuk sejenak menatap dunia
Arahkan tatapan
Pada latar yang kau sasar
Hinggaplah sesaat di sana
Walau sekadar menebar sapa
dalam bahasa pemikat rasa

Wahai merpati
Jangan lelah mengepak
Kibarkan sayap kuning putihmu
Agar terus merentang di angkasa

(Bajawa, 2 Oktober 2020)

Baca juga Duapuluh Sembilan November

Jangan Tolak Kerandanya

Ia datang sebagai petaka
Bukan insan yang meminta
Ia datang tiba-tiba
Tak ada insan yang siap

Ia datang tak disangka
Menyapa insan yang lemah
Dan semuanya pasrah dalam ketiadaan
Ia datang sekadar bercengkraman
Seakan batuk dan flu biasa
Semua tak sadar jika itu petaka

Ia datang menyapa raga yang rapuh
Berlomba memperebutkan harta karun
yang tertimbun dalam paru-paru
Yang kuat akan menang pertarungan itu
yang rapuh bertekuk lutut
yang lemah akan binasa
dari sekarat hingga wafat
Apakah insan meminta?

Jangan tolak kerandanya
Bukan insan yang meminta
Tapi Dia Yang Paling Berkuasa
yang berkehendak
mengirim corona menjemputnya
dan insan tak bisa menolak.

Ini gilirannya
Setiap insan tentu tak ingin ini terjadi
Tapi, takdir telah memanggil
Insan yang tak siap pun
harus pergi dengan hati yang perih
Jangan tolak kerandanya!
Biarkan ia pergi dengan damai.

(Bajawa, 4 April 2020)

Baca juga Adven dan Harapan Untuk Pemimpin Terpilih

Lusia Yasinta Meme (Foto/Dokpri)

Penulis adalah Staf pengajar SMAS Regina Pacis Bajawa.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button