Opini

Pandemi Covid-19: Gugat Tanggung Jawab Etis Ilmu Pengetahuan

Engkos Momang
Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero

Sekarang, di tengah pandemi Covid-19, pertanyaan spontanitas yang sering dilontarkan ialah sampai kapan kita hidup dalam situasi seperti ini? Situasi memang memilukan, sebab kita terisolasi, relasi sosial terbatas, physical distancing dan segala kegitan menjadi mati suri. Serangan Covid-19 ini, tentunya berimplikasi pada perubahan relasi yang cukup radikal dalam kehidupan sosial.

Sebelum pandemi Covid-19 menyerang dunia secara global, struktur relasi sosial kita berada pada taraf normal, bahkan tidak terbatas. Namun, sekarang ketika pandemi Covid-19 mengoncangkan dunia secara global, perubahan struktur relasi dalam kehidupan sosial sangat nampak. Situasi sekarang ini seakan-akan membuat manusia tercerabut dari hakikat dirinya sebagai mahkluk sosial. Pandemi Covid-19 tidak hanya mencekik ribuan nyawa manusia, tetapi juga memporak-porandakan sistem perekonomian, pendidikan dan aktivitas sosial pada umumnya.

Tanggungjawab Etis Ilmu Pengetahuan

Situasi pandemi Covid-19 tentu menggugat nurani serentak posisi ilmu pengetahuan. Pandemi Covid-19 merupakan tragedi kemanusiaan pada abad ke 21. Kelak perstiwa ini tercatat sebagai salah satu sejarah kelam dunia. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terus berkembang tidak bisa dinafikan bahwa tantangan yang dihadapi ilmu pengetahuan tersebut semakin besar pula. Sejauh mana ilmu pengetahuan bisa mengatasi persoalaan yang dihadapi manusia itu.

Talcott Parsons dalam bukunya yang berjudul The Social System (1951) berbicara tentang fungsionalisme struktural. Secara ekstrem pendukung teori ini berpendapat bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam masyarakat pasti ada fungsinya termasuk fenomena sosial yang biasanya tidak fungsional (Raho, 2016: 38). Bagi kita, pandemi Covid-19 bukan merupakan fenomena fungsional, karena mendatangkan penderitaan bagi manusia dan sistem perekonomian, pendidikan serta relasi sosial tidak kondusif.

Tentu saja, pandemi Covid-19 tidak bisa dilihat dari kacamata teori fungsionalisme struktural. Sebab teori ini gagap melihat dampak destruktif setiap fenomena-fenomena yang muncul. Justru di sinilah letak kelemahan teori ini. Robert Merton dalam tanggapannya terhadap teori fungsionalisme struktural mengatakan bahwa tidak semua fakta sosial itu fungsional. Untuk itu, fenomena pandemi ini lebih kepada pengujian akan tangung jawab etis ilmu pengetahuan itu dalam menangkal pandemi Covid-19. Bahwasanya misi utama ilmu pegetahuan ialah memperbaiki kondisi yang dihadapi manusia, termasuk kondisi darurat yang kita alami sekarang.

Russo, ahli sejarah ilmu pengetahuan, mengatakan bahwa kesengsaraan dan kekurangan manusia pada masa lampau secara spontan berpaling kepada Allah. Namun, dewasa ini manusia bisa menemukan teknik meramal dan menyebabkan hujan akibat ilmu pengetahuan. Manusia juga memecahkan masalah-masalah paling sulit dalam bidang ekonomi berkat adanya komputer. Tambahan lagi, melalui perkembangan obat bius, teknik dan ilmu kedokteran berhasil menenangkan kekwatiran, mengurangi agresivitas, menstimulisasi inteligensi, memberi perasaan senang dan bahagia. Jelas sekali mengamini prestasi spektakuler era modern yang secara nyata berpengaruh dalam seluruh dimensi manusia. Manusia modern tidak lagi membutuhkan Allah sebagai sumber ketenangan batin, tetapi telah disiapkan temuan-temuan baru dalam ilmu pengetahuan.

Capaian prestasi spektakuler ilmu pengetahuan itu merupakan semangat dasar membangun optimisme. Ilmu pengetahuan sangat beroptimis akan kesanggupan untuk memecahkan segala persoalaan yang dihadapi manusia modern. Bahwasanya ilmu pengetahuan memiliki kapasitas dalam dirinya tanpa intervensi dari hal yang bersifat metafisis-trasenden untuk memecahkan kompleksitas persoalaan yang dihadapi manusia. Lalu, dimanakah tanggung jawab etis itu ketika manusia diserang oleh pandemi Covid-19? Sebab pandemi Covid-19 telah menerkam nyawa manusia.

Serangan pandemi Covid-19 menuntut tanggung jawab etis ilmu pengetahaun dalam menangkal yang tak kelihatan, tetapi nyata ada. Tanggung jawab etis ilmu pengetahuan terwujud dalam kesanggupan untuk menumbangkan Covid-19 yang tak kelihatan itu. Ini merupakan ujian terhadap ilmu pengetahuan. Mampukah ilmu pengetahuan menerobos sampai pada yang tidak kelihatan itu?

Ilmu Pengetahuan yang Menerobos

Gerald Holton dalam Introduction to Concepts and Theories in Physical Science, menulis: “Tugas ilmu pengetahuan, seperti halnya semua pemikiran, adalah menerobos jauh melampaui yang dapat dilihat secara langsung kepada yang dilihat dengan mata telanjang (Mikhael Dua, 2007:11). Tesis Gerald Holton hendak menegaskan bahwa tugas paling fundamental ilmu pengetahuan ialah menerobos yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Secara lebih tegas tugas ilmu pengetahuan terletak pada menerobos melampaui yang kelihatan.

Berhadapan pandemi Covid-19 yang tak kelihatan ini ilmu pengetahuan sanggup menerobos sampai ke sana. Namun, sejauh ini terobosan ilmu pengetahuan itu terbatas pada deskripsi Covid-19 semata. Artinya bahwa ilmu pengetahuan sebatas mendeskripsikan gejala-gejala jika sesorang terinfeksi Covid-19 atau memastikan antara negatif dan positif, tetapi tidak sanggup untuk menangkal dengan temuan obat-obatan. Temuan obat-obatan sebagai penangkal merupakan letak tanggung jawab etis ilmu pengetahua terhadap kondisi manusia. Francis Bacon perintis ilmu pengetahuan terobsesi dengan pernyatan, demikian “pengetahuan harus membawa hasil-hasil dalam praktek, ilmu itu harus diterapkan dalam bidang industri, manusia punya kewajiban suci untuk memperbaiki dan mengubah kondisi-kondisi hidupnya. Francis Bacon sebenarnya membela tesis: ilmu dapat dan harus mengubah kondisi manusia.

Keharusan mengubah kondisi sekarang inilah menjadi tugas ilmu pengetahuan. Namun, sampai saat ini ilmu pengetahuan gagap memperbaiki kondisi-kondisi manusia. Seolah-olah ilmu pengetahuan kehilangan daya untuk menghadapi pandemi Covid-19 yang mencengkeram nyawa manusia. Oleh karena itu, jawaban atas pertanyaan spontanitas pada bagian awal tulisan ini merupakan tugas ilmu pengetahan. Jawaban pasti yang mengubah kondisi kita saat ini. Kita berharap agar ilmu pengetahuan dapat memastikan dan menggagalkan pandemi ini.

Editor: Pepy Dain

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button