cerpen

Panggung Mati

Foto: radioidola.com

Saya pernah bertanya kepada sunyi dalam debar hati yang tak mampu dinamakan. Isyarat yang tak bisa dikatakan. Bahasa yang tak bisa diucapkan. Berkali-kali mencoba dan gagal akhirnya sampai pada tujuan akhir adalah pisah.

Saya pernah memberi kesempatan kepada cinta dalam ruang dan waktu untuk memasukki setengah dari bagian diri saya. Dan saya lupa belajar bagaimana mencintai cinta? Sedang orang pernah bilang cinta itu puisi. Apakah mungkin cinta itu imajinasi? Bisa jadi.

Dan hari ini, kau mengajak saya untuk berkelahi dengan panggung.
“Hans. Hans, seandainya kau bertanya betapa rapuhnya saya dihadapan panggung tak mungkin serapuhnya saya dihadapan seorang gadis.” “Panggung itu berkali-kali saya lucuti tubuhnya, bercinta dengan nafsu dan mengakhirinya dengan birahi yang tak kenal puas. Semakin nikmat, ia semakin buas. Sampai-sampai panggung pun tak bisa mengelak dari caraku memandangnya.” Ucapku sambil menepuk pundak Hans. “Gigs, maksudku hanya ingin bertanya” “bagaimana mungkin kau bisa menguasai panggung dalam sekejap naskah yang rumpang – rampung belum benar-benar clear ditulis itu.” Sudahku katakan kepadamu Hans, kalau panggung itu tak bisa mengelak dari caraku menatapnya”. jawabku, kemudian.”

Pagi itu, hujan sedang remai menyirami tanaman-tanaman bumi dan ibu bumi sedang melebur dalam kemesraan yang damai. Membasahi kerongkongan yang telah gersang berhari-hari lamanya. Membiarkan kekasihnya lebur kembali dalam hasrat untuk perjumpaan yang telah lama dibatasi oleh terik dan gumpalan awan di langit.
Ibuku, baru saja berkata kepadaku “Gigs, bukannya sebentar malam ada panggungmu di bioskop kota kita?” Iya Bu. “Jawabku.” “Lalu, kamu mau pergi ke mana sekarang, sedang di luar sana ibu langit sedang bercinta dalam gaduh dengan ibu bumi. Bukannya, kau harus beristirahat dan menyiapkan segala keperluan untuk panggungmu sebentrar malam?”

“Owh iya Bu, aku hanya ingin mengunjungi bioskop. Sekadar memastikan tempat dan alur untuk panggungku sebentar malam. Setelah itu, pasti aku pulang”. Sambungku.
Ibuku diam. Mengamati diriku dengan tatapan yang resah. Ada beribu bahasa yang tak bisa diucapkan. Memberi isyarat tapi tak bisa kubacakan dengan baik. Ada doa yang tak terucap namun hadir dalam perjalananku. Mungkin saja, batinku.

“Gisg, mending tunggu hujan redah baru kamu berangkat”. Kata ibuku. “Ah Ibu, kan sudah kubilang, aku tidak akan lama-lama. Setelah itu aku pasti pulang. Toh, hujan di luar tidak ada tanda-tanda akan redah malah hanya menampakkan intensitas curah hujan yang semakin tinggi.” Jawabku, menyanggah saran ibu.

“Tapi Nak, ibu takut kamu sakit saja.” Sambung ibuku.
“Tidak apa-apa Bu, kan aku gunakan jas hujan untuk menjaga tubuh dan menghindari diri dari hujan di luar sana.” Kataku meyakinkan ibu, agar tak harus khawatir pada anak semata wayangnya ini.
Ibu, mengenal aku. Ia tahu dengan perkataanku. Dan ia tahu jika aku mengatakan “tidak” maka “tidak.” Jika “Ya” maka “Ya”.

Meskipun demikian, aku sempat melihat wajah ibu yang sedikit berbedah dari biasanya. Wajahnya yang nampak semakin tua itu, penuh dengan ketakutan. Banyak pikiran yang menggerogoti hati dan pikirannya. Apa mungkin ibu begitu cemas? Ah, namanya seorang ibu pasti selalu saja ada alasan untuk mencemaskan anak-anaknya. Ungkapku semberonoh. Meskipun demikian, di dalam matanya yang bening itu, ada isyarat yang tak bisa kubacakan dengan baik. Ibu hanya memberi isyarat tanpa membahasakannya dengan baik tinggal aura cemas dan kekhawatiran menjadi bahasa ideal dalam tubuhnya.

“Bu, aku akan pulang secepat mungkin. Selepas usai menata panggung dan alur panggungku untuk sebentar malam, aku janji aku langsung pulang. Ibu, tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.” Kataku meyakinkan ibu.

Ketika tubuhku pergi meninggalkan halaman rumah, membela hujan yang semakin besar dan menerobos genangan-genangan kenangan hasil percintaan ibu langit dan ibu bumi. Di rumah, anjing peliharaanku meraung-raung dan mengong-gong tak karuan. Memanggilku berkali-kali. Dan aku tak gubris. Bukan karena inginku. Lebih tepatnya, gendang telingaku, telah akrab dengan nyanyian hujan yang begitu memekakkan telinga.

Di rumah, ibuku membaca doa dengan khawatir. Sesekali mendekatkan diri di depan kaca jendela. Menatap – menanti agar aku pulang. Ibuku mondar-mandir di ruang tamu rumah kami. Bahkan ditengah gaduh seng rumah yang berbenturan – menolak hujan yang begitu deras, ibuku tetap memasang telinganya pada bunyi khas motor buntut peninggalan ayahku. Sudah tak terhintung lagi untuk kesekian kalinya lagi dan lagi ibuku membuka gorden jendela dan menatap keluar mengamati satu per satu tetesan hujan yang jatuh sambil memupuk harap agar aku pulang.

Sedang, di tengah perjalananku menuju bioskop kota. Kulihat tak ada satu pun kendaraan roda dua maupun empat yang berkeliaran hilir – mudik. Tinggal aku satu-satunya yang ramai menari di bawah nyanyian basah seorang ibu langit. Dari atas motorku, kulihat di halte-halte sepanjang kampung ada sepasang kekasih muda yang sedang meng-atapkan tubuh mereka, pun ada sepasang suami-istri yang dengan tenangnya membaca doa: agar hujan lekas redah. Sambil, mengamati rumah-rumah sepanjang jalan mataku, tak ada satu pun yang berani membiarkan jendela dan kain gordennya terbuka pun pintu-pintu rumahnya dan kubayangkan sepasang pengantin baru mampu menikmati hujan ini sebagai bagian dari bulan madu. Mungkin juga, sepasang suami-istri tua beserta anak-anak mereka menjambangi tubuh mereka masing-masing di depan tungku dengan paras tubuh yang saling menggigil – memanggil hangat. Ada dingin yang begitu mencekam, ada pula tubuh yang menggigil panjang. Di pertengahan jalan menuju bioskop kota. Hujan belum juga akrab dengan tubuhku. Satu per satu jemariku mulai rapuh – kaku ditelan dingin yang semakin merebut raya nyamanku di atas motor buntut ini. Dalam hitungan kurang dari 15 menit dengan perkiraan tikungan yang tertinggal 3-5 belokkan kujumpai bangunan bioskop itu dan sebentar lagi, aku tiba. “kataku menguatkan diriku sendiri.” Ketika asyik berbicara dengan diri sendiri. Aku teringat pada ucapan Hans. Pikiranku mulai terprovokasi untuk mengenang kembali percakapan demi percakapan kami. Hans adalah sahabat masa merah putihku dulu. Bisa dikatakan, saat di merah putih roda juara satu dan dua umum hanya bisa diperkirakan pada dua kemungkinan. Kalu bukan saya maka Hans, dan sebaliknya. Kami berpisah sejak SMP hingga Perguruan Tinggi. Hans mengakhiri Sarjana Akuntansi Perbankan pada salah satu Universitas di Jakarta. Yang hingga saat ini, hanya bisa kukenal dengan menyebutnya sebagai kota Metropolitan. Sedangkan aku. Aku menyelesaikan program S1-ku di fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia pada salah satu Universitas Swasta di ibu kota provinsi kami. Dan untuk kesekian tahun yang memisahkan kami antara ruang dan waktu akhirnya jarak itu terhubung dengan perjumpaan tak terduga dalam sebuah pertemuan sebulan yang lalu pada agenda pertemuan Membuka Malam Hiburan di kota dan salah satu agenda pertemuannya adalah mengenai panggung. Dalam percakapan kerinduan itu, kami berdua saling membahas satu per satu masa-masa kecil hingga berbagai hal menarik seputar perkuliahan kami. Hingga akhirnya ia menanyakan tentang berbagai pendengarannya mengenai diriku di atas panggung.

“Gigs, kok bisa kamu begitu mencintai panggung?” tanyannya dalam percakapan itu.
Hans, sahabatku. Sederhananya demikian, aku adalah mahasiswa sekaligus sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia dengan demikian dunia panggung merupakan dunia keterampilanku, bukan? Jadi panggung sudah menjadi kebiasaan kami sebagai mahasiswa dan sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia. Begitupun sebaliknya dengan kamu, Hans. Mengapa kau pandai sekali membaca setiap kemungkinan dari perhintungan laba pun defisit sebuah pertumbuhan dan perkembangan ekonomi mikro dan makro? Mungkin saja jawabannya bisa sama dengan jawabanku hanya saja dibedakan pada situasi dan konteks.

Ada tanggisan pecah di dalam rumahku. Hujan barangkali telah redah dua atau tiga jam yang lalu. Dan aku masih basah kuyup. Di depan rumah, ada panggung dengan bendera-bendera kecil. Di ruas jalan sepanjang rumahku adan tanda. Tanda yang mengisyaratkan untuk diam dan memperlambat kendaraan roda dua maupun empat yang hilir – mudik. Ada nyanyian merdu, dengan lagu kesedihan yang panjang. Orang-orang kompleksku mulai sibuk mengatur kursi di sekitar panggung depan rumah kami. Lainnya lagi, orang-orang tua pun muda sedang mengalih tanah di samping rumah kami tepat di samping makam ayahku. Ada tanggisan yang memanggil – meraung, yang lain ada yang membacakan doa, menyanyikan lagu kesedihan. Apa gerangan yang terjadi? Aku berlari, menerobos kerumunan para tetangga yang hilir-mudik di depan rumah kami. Kudengar suara ibuku yang merontah dan memanggil namaku berulang-ulang kali. Di depan pintu rumah, aku lihat ada peti yang disemayamkan di tengah-tengah ibu, tanta-tanta juga om-omku.

“Aku memanggil Ibuku, Bu, aku di sini. Ini aku bu. Aku mendekatkan tubuhku kepada ibu. Menyentuhnya tanpa mendapatkan respon balik. Kubuat gaduh tanpa ada respect balik. Kulihat Hans ada di samping peti itu dengan air mata yang belum usai, kulihat di sampingnya ada Rian sutradara naskahku, kulihat ada Yun penyusun Skenario alur panggungku. Hei, apa yang kalian tanggisi. Aku di sini. Aku baik-baik saja. Bukankah, sebentar malam kita akan ber-panggung di bioskop kota. Hans, hei aku di sini. Aku baik-baik saja.” Berbagai ucapanku tak ada satu pun yang merespon.

Malam itu, seorang anak perempuan yang begitu terampil berdiri di atas panggung dengan berpanggungkan naskah yang berjudul Panggung Mati. Dengan meninggalkan Tanya di atas jalan panjang, ia mengucapkan selamat jalan Gigs, lelaki dalam kenangan naskahku. Pergilah dengan damai. Kami selalu mendoakanmu.
Itulah kisahnya. Terima Kasih.

Nita Pleat, 2020.
Teruntuk diriku sendiri.

Penulis:
Chan Setu merupakan mahasiswa semester IV di STFK-Ledalero. Saat ini menetap di Wisma Arnoldus Janssen Nita Pleat, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere. Mencintai kopi pahit.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button