Opini

Paradoks di Wajah Kaum Muda

Pic:Hipwee.com
Penulis : Kardianus Manfour
(Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang)

Kita tidak akan kesulitan menemukan kaum muda yang selalu menggunakan waktunya untuk hal-hal yang bersifat rekreatif belaka. Hal-hal rekreatif itu misalnya, bermain game, nongkrong, jalan-jalan ataupun kegiatan-kegiatan lain yang serupa dengan hal itu. Fenomena tersebut seolah-olah sudah menjadi habitus kaum muda, sehingga banyak orangtua dan masyarakat pada umumnya tidak peduli dan bahkan tidak resah dengan sikap dan perilaku kaum muda.

Selain itu, kita jarang melihat anak muda di lorong-lorong atau tempat-tempat nongkrong memegang buku atau mendiskusikan hal-hal yang penting dan berguna. Anak muda lebih suka memegang rokok, hp ataupun memegang botol-botol minuman keras daripada memegang buku. Kemudian topik pembicaraan mereka hanya seputar gosip-gosip yang tidak penting dan tidak berguna. Lagi-lagi, masyarakat dan orang tua bersikap acuh tak acuh dengan perilaku kaum muda ini.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang hal ini, ada baiknya kita perlu tahu siapa sebenarnya kaum muda itu. Kaum muda merupakan salah satu elemen masyarakat yang memiliki peran dan tugas-tugas penting membangun tatanan perubahan melalui idealisme. Kaum muda adalah generasi penerus bangsa yang memiliki tugas dan peran yang sangat urgen dalam negara. Ke depannya, kaum mudalah yang memimpin negara ini. Nasib bangsa ini berada di tangan kaum muda. Sangat jelas kounsekuensinya, apabila kaum muda sekarang bertingkah laku tidak sesuai harapan dan cita-cita bangsa, maka bangsa ini tidak dapat bersaing di aras global. Di samping itu, kategori Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, tentu berharap akan munculnya gerasi muda yang dapat membawa perubahan-perubahan baik secara lokal pun nasional. Hal itulah yang mesti disadari oleh kaum muda bahwa mereka-lah satu-satunya harapan bangsa ini.

Kembali ke pokok permasalahan, satu pertanyaan yang menggugah ialah mengapa kaum muda lebih suka hal-hal rekreatif, menyenangkan dari pada membaca buku, memperdalam wawasannya? Pertanyaan inilah yang perlu kita jawab untuk menemukan akar dari permasalahan ini. Sebenarnya, apabila dirunut lebih dalam, masalah ini muncul akibat kurang tanggapnya orangtua dalam membina karakter kaum muda. Masa pertumbuhan kaum muda tidak diperhatikan serius oleh orangtua. Padahal, orangtua menjadi orang yang pertama dalam mendidik karakter kaum muda. Apabila orang tua mendidik anaknya dengan baik, maka karakter dari anak saat dewasa akan baik pula. Sebaliknya, apabila pola asuh orang tua salah terhadap anaknya maka tidak heran output pasti “salah”. Sangat menyedihkan bahwa banyak orangtua yang sibuk untuk bekerja atau workakholic dari pada memperhatikan anaknya. Tuntutan ekonomi mengaburkan tanggung jawab orangtua terhadap anak. Banyak orangtua yang bekerja dari pagi sampai sore, ataupun malam sementara anaknya tidak diperhatikan. Alhasil, kebutuhan material sang anak terjamin, sementara perkembangan afeksi dan karate tidak berjalan dengan baik.

Selain orang tua, peran masyarakat pun perlu dipertanyakan dengan berbagai persoalan yang dihadapai kaum muda. Mengapa demikian? Tidak sulit dilihat bahwa masyarakat tidak peduli dengan kelakuan dan karakter kaum muda. Masyarakat seolah-olah tutup telinga dan mata ketika anak muda bergadang malam hari, merokok dan melakukan tindakan destruktif lainnya. Masyarakat mengalami “autis” ketika anak muda sedang mengekspresikan perasaannya melalui kegiatan-kegiatan fatal dan riskan. Sebenarnya masyarakat punya tanggung jawab sosial dalam menindak dan mengendalikan watak kurang baik dalam diri kaum muda. Ini lebih pada kontrol sosial kemasyarakatan.

Inilah masalah yang tengah dihadapi bangsa saat ini. Sekarang kita perlu mencari solusi untuk mengatasi hal ini. Sebagai bagian warga masyarakat ada baiknya perlu diaktifkan elemen-elemen masyarakat. Peran orangtua, sekolah dan lembaga-lembaga masyarakat lainnya sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kapasitas dan karakter kaum muda. Solusinya sederhana saja yakni orang tua mulai membenah, dan mengevaluasi diri tentang cara-cara yang tepat untuk mendidik anaknya. Orang tua perlu menghadiahkan buku daripada hp yang tercanggih.

Melalui cara-cara yang sederhana seperti ini, anaknya kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dan memiliki karakter dalam membangun perubahan. Selain itu, sekolah dan masyarakat perlu mengontrol tindakan dari kaum muda. Masyarakat harus keluar dari rumah zona nyaman untuk mengingatkan anak muda akan tanggung jawabnya terhadap bangsa dan negara, sehingga tidak ada lagi yang namanya keributan, kericuhan, pembunuhan, perkelahian yang disebabkan oleh kaum muda. Negara juga menerapkan kurikulum yang membantu kaum muda berkembang, menyediakan sarana dan prasarana untuk mengembangkan bakat dan passion-nya, sehingga kaum muda tumbuh menjadi pribadi yang patut dibanggakan dan dipercayakan. Niscaya melalui cara demikian, negara ini akan lebih bersaing di kemudian hari.

Salam!

Tulisan ini pernah ditayangkan di Kompasiana dengan judul “Kesakitan Kaum Muda”

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button