Opini

Pemerintah Desa Hadakewa Membuka wisata baru

Penulis : Efiana Magi Zudi

Indonesia terkenal dengan negara yang kaya akan keindahan alamnya. Dengan demikian banyak daerah yang saat ini mulai berlomba-lomba memanfaatkan kekayaan alamnya untuk membangun daerahnya dan mensejahterakan masyarakatnya, hal inipun dilakukan oleh Pemerintah Desa Hadakewa dalam memanfaatkan kekayaan alam pesisir pantai untuk membuka objek wisata.

Baca Juga : Kehadiranmu Membahwa Cinta Yang Sesungguhnya Antologi Puisi Yofri
Baca Juga : Memperkenalkan Pemikiran Jürgen Habermas

Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, yang sudah terkenal dengan penghasil ikan  teri ini, kini mulai mencoba hal baru dengan membuka objek wisata baru di pesisir pantai Desa hadakewa. Objek wisata ini dibuka untuk meningkatkan pendapatan Desa dan menunjang perekonomian masyarakat setempat. Wisata ini baru saja diresmikan oleh Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur pada tanggal 7 Maret 2021 yang lalu.

Ketika saya Efiana Magi Zudi, Mahasiswi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Nomor Induk Mahasiswi 2019008113 menghubunggi Kepala Desa Hadakewa melalui media online (WhatsApp), Kamis, 11/03/2021: Kepala Desa Hadakewa, Bapak Klemens Kewaaman, mengatakan bahwa alasan utama membangun wisata ini dalam rangka memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh Desa Hadakewa yang dikelola dengan baik dan untuk meningkatkan perekonomian saat ini adalah pariwisata, sehingga dengan demikian desa sendiri mulai bergerak untuk membangun desanya.

Baca Juga : Hujan di Malam Hari
Baca Juga : Politik Diferensiasi Iris Marion Young, Keadilan Gender dan Hak-hak Asasi Manusia

Lanjutnya, modal awal yang diperuntukan untuk membuka wisata ini adalah sebesar Rp.140-an juta yang bersumber dari Dana Desa, menggunakan anggaran tahun 2020 dan lanjutan tahun 2021 ini. Adapun wisata yang disediakan berupa wahana bermain yaitu outbound, snorkeling, kafe untuk kuliner dan paket lainnya.

Untuk membuka wisata ini Pemerintah Desa menggunakan lahan pesisir pantai yang panjangnya kurang lebih 300 meter dan lebarnya kutrang lebih 10-15 meter. Dan yang mengelola tempat wisata ini sendiri melalui BUMDes Desa Hadakewa dengan para pekerjanya adalah masyarakat asli Desa Hadakewa yang terdiri dari Ibu-Ibu dan Anak Muda desa.

Baca Juga : Menolak Lupa Destinasi Pariwisata yang lain di NTT
Baca Juga : Food Estate dan Budaya Berkerumun

Dalam melakukan kegiatan wisata dimasa pandemic COVID-19 ini, Pemerintah Desa dan Pengelola tetap mematuhi protokol kesehatan versi pariwisata, ujar Klemens.

Efiana Magi Zudi

Mahasiswa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button