Opini

Penjajahan Modern 2020-2021

Penulis | Felix Riondi Sugar

Dunia belum tua? Dunia masih muda! itu semua adalah asumsi dari rasionalitas setiap manusia dari generasi ke generasi di dunia saat ini. Keadaan dunia saat ini memang kelihatannya sangat mencemaskan, bahkan menggetarkan dunia. Melihat realita kemajuan dan perkembangan yang pesat adalah awal dari revolusi industri 4.0. Dari semua perkembangan itu, tentunya sangat banyak dampak ataupun efek positif dan negatif yang diterima oleh semua umat manusia di dunia.

Banyak prediksi untuk keadaan dan misi dunia saat ini, dimulai dari tafsiran secara imajinasi bahkan sampe pada penemuaan secara intelek oleh para cendikiawan. Banyak memunculkan beberapa dugaan, atau hipotesis secara manual yang berambisi bahwa secepatnya dunia akan hancur dan binasa. Ini adalah validasi dari keegoisan dan ketajaman rasionalitas manusia. Akan tetapi jika ditinjau, anggapan itu juga  bisa dijadikan salah satu refleksi jelas bagi semua umat manusia di dunia saat ini.

Baca juga : Kesedihan Antologi Puisi Inggrida Astuti Lestari
Baca juga : Yang Merangsang Antologi Puisi Indrha Gamur

Pasca terjadinya perang dunia I dan perang dunia II, keadaan dunia dari setiap bidang hancur-rabuk, banyak nyawa yang tergerimis, piramida kehidupan mengalami kehancuran dan kemerosotan dalam mempertahankan kehidupan di antara mereka. Pada masa itu memiliki kesamaan persis dengan situasi pandemi covid-19 yang melanda dunia saat ini.

Berbicara mengenai model penjajahan zaman dulu kebanyakan memakai kekuasaan secara militer, misalnya peperangan yang menggunakan jasa-jasa secara kekerasan. Akan tetapi, pada saat ini model penjajahan hanya sebatas gunjangan lewat virus atau penyakit saja, dan dampaknya juga menghalang dan menghancurkan misi dan visi piramida kehidupan umat manusia. Apakah ini yang disebut dengan penjajahan modern? jawabanya jelas. Ini adalah model penjajahan modern, yaitu penjajahan yang mengandalkan rasionalitas secara revolusi.

Baca juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus
Baca juga : Rindu yang Sempat Riuh

 Masalah covid-19 adalah salah satu bentuk penjajahan yang mencemaskan bagi dunia saat ini. Berbicara mengenai covid-19 berarti berbicara mengenai dunia karena imbasnya adalah masalah dunia. Perlu di ingat bahwa, covid-19 adalah suatu bagian dari perubahan dunia. Dan perubahan ini secara tidak lansung harus diterima dan diimplementasikan serta dimanifestasikan secara baik oleh semua umat manusia. Ada banyak perbedaan situasi dunia saat ini. Hampir covid-19 membatasi semua fasilitas kegiatan manusia dimulai dari segi ekonomi, sosial-budaya, politik, pendidikan dan lain sebagainya. Inilah yang dinamakan dengan penjajahan modern tanpa ada dasar kekuasan yang jelas atau atasan dalam memperebut wilayah bahkan hasrat manusia itu sendiri. Ini mutlak dan bersifat absolut terjadi bukan hanya terjadi pasca penjajahan perang dunia I dan perang dunia II ataupun penjajahan oleh Belanda terhadap Indonesia atau lain sebagainya, tapi ini adalah bagian dari perubahan revolusi industri 4.0 yang selalu bergulir.

Baca juga : Bangku-Bangku di Gereja
Baca juga : Aku Masih Mencari Bayanganmu Antologi Puisi Paulus Lunga

Dalam semua bidang, dalam semua ujung tombak kehidupan manusia sudah dan secara perlahan mengalami krisis. Misalnya, dilihat dari bidang ekonomi hampir keseluruhan nilai tukar mengalami kenaikan yang sangat tajam, proses konsumsi ataupun peroduksi mengalami penurunan, ataupun kapasitas ekonomi mulai rapuh dan gejolak dari sebelumnya, sebaliknya dalam bidang politik pemerantah mengalami dilematis untuk memanajemen kegiatan politik, serta membumbui cara untuk mengoptimalkan masalah covid-19, begitu pula dalam bidang sosial dan budaya masayrakat hampir melemahkan kesadaran untuk hidup berdampingan bahkan, kebutuhan-kebutuhan susah dan sulit terpenuhi, lebih idealnya lagi dari bidang pendidikan semua sekolah dan universitas, melakukan pembelajaran online ataupun peroses kegiatan belajarnya di lakukan dari jarak jauh. Inilah effek dan dampak dari penjajahan modern dunia saat ini, dan menuntut kita manusia untuk menerima dan menikmat secara harmonis terhadap masalah pandemi ini.

Baca juga : Rimbun Kepala Antologi Puisi Maxi L Sawung
Baca juga : Samudra Kasih Ibu Antologi Puisi Wandro J. Haman

Pandemi covid-19, membuat manusia sadar tentang apa arti hidup dan kehidupan sesungguhnya, tidak dapat dipungkiri bahwa dampak yang kita terima adalah bagian dari ulasan akan kepandaian manusia, ini adalah takdir bahkan kutukan, hanya saja belum diverivikasi, akan tetapi mssalah covid-19 ini belum mutlak memberi kita kecerahan dalam semua aspek kehidupan kita, bukan hanya itu situasi dunia saat ini memberikan kita bekal untuk semakin sadar dan tanggung jawab menikmati hidup dan kehidupan di bumi tercinta ini.

Sebagai manusia yang bertanggung jawab kita semua dituntut atau dipaksa untuk menikmati jalur-jalur kehidupan dunia saat ini, meskipun banyak memunculkan fenomena yang mencemaskan atau menakutkan.

Kita harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi masalah pandemi ini dengan saling memberi dukungan, kerja sama, dalam berbagai kolegalitas kehidupan manusia. Singkatnya, saat ini kita harus memulai langkah baru untuk menilik dan meneropong berbagai kemajuan dan perkembangan yang ada, setidaknya mampu beradaptasi dengan berbagai macam perubahan. Kita adalah “pelaku perubahan” bagi dunia saat ini.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button