Opini

Peran Orangtua Memutus Rantai Kekerasan dalam Keluarga

Penulis: Riko Raden
(Anggota Unit St. Rafael Ledalero)

Akhir-akhir ini, kasus kekerasan terhadap anak dalam keluarga marak terjadi. Anehnya, pelaku utama kekerasan yaitu orangtua sendiri. Orangtua bukan lagi pendidik pertama bagi seorang anak, melainkan pelopor kekerasan terhadap seorang anak. Ketika anak sudah terpapar dengan kekerasan, satu episode tumbuh kembang terganggu. Anak mengalami ganguan psikis, fisik dan mental. Dengan demikian, keluarga bukan menjadi tempat yang nyaman bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Keluarga seharusnya menjadi tempat kasih sayang kepada seorang anak. Bukan sebaliknya menjadi wadah untuk menekan pertumbuhan seorang anak.

Media Kompas.com pada 29 Maret 2020, menurunkan sebuah berita tentang seorang ayah tiri di Pekanbaru, Provinsi Riau, melakukan penganiayaan terhadap anaknya yang masih berusia tiga tahun hingga tewas. Korban tewas setelah dihempaskan pelaku ke tembok, hingga kepalanya membentur tembok kamar mandi. Dalam berita selanjutnya, pelaku membuang jasad korban ke semak belukar untuk menutupi tindak kejahatannya. Kasus ini terungkap setelah ibu korban tak mendapati buah hatinya di rumah saat dirinya pulang dari kedai. Karena ibu korban cemas dengan kehilangan anaknya, ia pun memberitahukan kepada pihak kepolisian untuk segera mencari korban. Pelaku tak berkutik dan mengakui perbuatannya saat diperiksa oleh pihak kepolisian. Pelaku lalu menyebutkan telah membuang jasad korban ke semak belukar. Rasa sedih yang dialami oleh ibu korban muncul setelah mengetahui bahwa yang membunuh anaknya yaitu suaminya sendiri. Ibu korban hanya meratapi kesedihan kepergian anaknya.

Menurut Johan Galtung, dikutip Jamil Salmi dalam bukunya berjudul Kekerasan dan Kapitalisme (2003: 31-41), ada empat jenis kekerasan pokok. Pertama, kekerasan langsung. Kekerasan langsung merupakan semua jenis tindakan yang menyerang fisik atau psikis seseorang secara langsung. Kekerasan ini mencakup tindakan pembunuhan, pengusiran, dan pemerkosaan. Kekerasan jenis ini merupakan kekerasan yang begitu cepat dan mudah dikenal. Kedua, kekerasan tidak langsung. Kekerasan tidak langsung adalah jenis tindakan yang berbahaya, namun hubungan langsung antara pihak yang menjadi korban dan pelakunya tidak dapat dilihat secara kasat mata sebagaimana dalam kekerasaan langsung. Kekerasan tidak langsung terbagi dalam dua jenis yakni kekerasan karena kelalaian (violence by omission) dan kekerasan perantara (mediated violence). Kekerasan karena kelalaian berarti kekerasan yang terjadi karena kelalaian pihak-pihak tertentu.

Ketiga, kekerasan represif. Kekerasan ini berkaitan dengan pencabutan hak dasar selain hak untuk hidup dan hak untuk dilindungi dari kecelakaan. Kekerasan represif berkaitan dengan tiga hak dasar manusia yaitu hak sipil, hak politik dan hak sosial. Dengan demikian, segala bentuk pengekangan terhadap kebebasan beragama, berpendapat atau larangan untuk berkumpul dan mengemukakan pendapat merupakan bagian dari kekerasaan represif. Keempat, kekerasaan alienatif. Artinya, kekerasaan yang terjadi lewat tekanan psikologi, yang mengakibatkan seseorang merasa teralienasi dari diri sendiri, lingkungan atau budayanya.

Dari keempat jenis kekerasan di atas, dapat kita ketahui bahwa kekerasan yang dilakukan oleh seorang ayah tiri terhadap anaknya termasuk dalam kekerasan langsung. Karena pelaku masuk dalam tindakan pembunuhan secara sengaja. Pelaku membunuh anaknya bukan karena kemauan orang lain, atau situasi politik maupun budaya. Tetapi pelaku membunuh anaknya atas kemauan diri sendiri.

Orangtua: Pendidik Utama Anak

Peran orangtua amat besar dalam pembentukan fondasi kepribadian seorang anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian seorang anak biasanya adalah keluarga yang penuh dengan konflik atau tidak bahagia. Tugas berat orangtua adalah meyakinkan fungsi keluarga menjadi tempat yang benar-benar nyaman, aman bagi seorang anak. Rumah adalah surga bagi anak, di mana mereka dapat menjadi cerdas, sholeh dan tentu saja tercukupi lahir -batinya. Di dalam keluarga, anak belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Di dalam keluarga, interaksi yang terjadi bersifat dekat dan intim. Segala sesuatu yang diperbuat anak mempengaruhi keluarganya, dan sebaliknya apa yang didapat anak dari keluarganya akan mempengaruhi perkembangan jiwa, tingkah laku, cara pandang dan emosinya. Dengan demikian pola asuh yang diterapkan orangtua dalam keluarganya memegang peranan penting bagi proses kehidupan seorang anak. Karena itulah orangtua dituntut untuk memberikan pendidikan sedini mungkin bagi anak agar mereka dapat mengatasi segala persoalan dalam hidup terkhususnya apabila seorang anak menghadapi realitas sosial.

Aktualisasi pendidikan dalam lingkungan keluarga tidak terlepas dari kontribusi dan kerja sama yang apik antara orang tua dan anak. Orangtua menjadi rujukkan atau parameter dalam menerapkan pendidikan yang berdampak positif bagi kehidupan anak. kontribusi pembentukan kepribadian dengan dan melalui pendidikan nilai. Orangtua adalah praktis pertama pendidikan yang mengejawantahkan misi pembangunan yaitu membentuk dan menghasilkan pribadi-pribadi yang unggul dan tangguh.

Kendatipun demikian, refrensi yang diterima oleh anak-anak tidak mutlak berpatok pada teori-teori atau lumbung kata tetapi juga lewat kesaksian hidup. Misalnya, anak menghormati orang lain karena tindakan orangtua yang dalam keluarga selalu menghormati orang lain. Anak-anak akan bertindak adil dan damai kalau mereka merasakan tindakan-tindakan tersebut dalam keluarga dan relasi sosial. Orangtua memegang peranan penting bagi pendidikan anak. Peranan orangtua bagi pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, dan rasa aman. Selain itu, orangtua mengajarkan nilai-nilai dan tingkah laku sesuai dengan yang diajarkan di sekolah. Bila orangtua berperan dalam pendidikan, maka anak akan menunjukkan peningkatan prestasi belajar, diikuti perbaikan sikap, stabilitas sosial-emosional, kedisiplinan, serta aspirasi anak untuk belajar sampai perguruan tinggi bahkan setelah bekerja dan berkeluarga. Orangtua menjadi motivator dalam kehidupan seorang anak agar berkembang menjadi pribadi yang baik.

Belajar dari kasus kekerasan di atas, orangtua harus menjadi pemutus rantai kekerasaan terhadap anak dalam keluarga. Cara hidup berkeluarga yang penuh cinta kasih dan pendidikan yang baik dalam keluarga menjadi sesuatu yang urgen untuk mengatasi tindakan kekerasan. Keluarga menjadi tempat pendidikan yang pertama dan fundamental bagi terbentuknya manusia baru (anak). Ia mewariskan nilai-nilai budaya atau agama yang membentuk pribadi manusia. Dengan itu, pendidikan nilai dan cara hidup yang baik dalam keluarga merupakan suatu jalan pemutus rantai kekerasan yang masih terus meliliti manusia. Keluarga bisa menjadi wadah yang menyumbangkan lingkaran setan egoisme dan fundamentalisme kelompok dalam hidup bersama. Keluarga harus menciptakan lingkungan rumah yang mempromosikan pembelajaran, memperkuat apa yang diajarkan di sekolah dan mengembangkan keterampilan hidup.

Anak-anak perlu dididik dengan baik agar kelak mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Selain itu, keluarga juga bertanggung jawab untuk menjaga anaknya bebas dari kekerasan fisik, emosional, menjaga benda-benda yang tidak aman. Secara moral dan rohani, keluarga mendidik anak-anak tentang nilai-nilai kualitas hidup seperti kejujuran, hormat, tanggung jawab, belas kasihan, kesabaran, pengampunan dan murah hati. Antara orangtua dan anak harus saling berinteraksi satu sama lain agar terciptanya suatu hubungan yang harmonis. Komunikasi sangat urgen salam keluarga. Setiap pribadi perlu dan penting untuk mengemukkan pendapat dalam relasi bersama. Dengan demikian, orang tua menjadi fasilitator bagi pertumbuhan dan perkembangan anak dalam keluarga. Saya percaya keluarga adalah solusi terbaik mengatasi kekerasan pada anak. Upaya pemerintah, lembaga masyarakat, hingga masing-masing individu, harus mengarah pada pembangunan karakter dan kepribadian yang baik kepada segenap keluarga kita. Saatnya mengakhiri kekerasa pada anak melalui keluarga.

Editor: Pepy Dain

*Semua isi tulisan adalah tanggungjawab penulis*

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button